JUDUL DIANTARA KARYA-KARYAKU

NO JUDUL  KITAB / BUKU DITULIS  TAHUN
1 مفتاح السعادة

Kunci Bahagia Suami Isteri

1423 H / 2003 M
2 العربية السهلة للمتوسطة

Bahasa Arab Mudah : Untuk Siswa MTs.

1428 H / 2007 M
3 رسالة تفسير سورة الفـاتحة

Risalah Tafsir Surat Al Fatihah

1429 H / 2008 M
4 التصريف للإبتدائـية

Ilmu Shorrof: Untuk Siswa MI

1429 H / 2008 M
5 حكايات اللطيفة لبعض سلوك عباد الله الصالحين

Hikayat Orang-Orang Salih

1429 H / 2008 M
6 لب العقيدة شرح منظومة الرسالة

Lubbul ‘Aqidah: Syarah Nadzoman Arrisalah

1428  H / 2007 H
7 التعليقات السنية على الأربعين الزينية

Mengomentari 40 Hadits Azzainiyah

1414 H / 1993 M
8 رسالة فى أوزان البحور فى علم العروض

Wazan-Wazan Bahar Dalam  Ilmu ‘Arudl

1428 H / 2007 M
9 الأوراد اللطيفة لحضرة الشيخ الحاج محمد عامر بن إلياس

Kumpulan Wirid KH. Moh. Amir Ilyas

1419 H / 1998 M
10 لغتـنا اليـومـية

Bahasa Arfab Harian

1425 H / 2004 M
11 طـريقـة صـرفـية

Shorrof Metode Thoriqoh

1428 H / 2007 M
12 نظـم معـانى الحـروف

Nadzoman Faedah-Faedah Huruf Arab

1428 H / 2007 M
13 قـاعـدة طـريقـة

Kaidah Bahasa Arab Metode Thoriqoh

1428 H / 2007 M
14 تزويد المفردات والعبارات العربية للمتقدمة

للدور الأول والثانى

Pengembangan Pengetahuan Kosa Kata dan Ungkapan Bahasa Arab : Untuk Siswa

Menengah Atas

 

1427 H / 2006 M

15 دروس المحفوظات والإمـلاء  للابتدائية للدور الأول

Pelajaran Mahfudzot dan Dekti: Untuk siswa MI

1427 H / 2006 M
16 دروس الاستماع والمطالعة والمحادثـة للمتقدمة للدور الأول

Pelajaran Mendengar, Memahami dan bercakap-cakap Dengan Bahasa Arab: Untuk Siswa Menengah Atas

1427 H / 2006 M
 

17

 

درو س الاستماع للمتوسطة للدور الأول

Pelajaran Mendengar Ungkapan Bahasa Arab:

Untuk Siswa Menengah Pertama

 

1427 H / 2006 M

18 دروس الاستماع والمطالعة للمتوسطة للدور الثانى

Pelajaran Mendengarkan dan Memahami Ungkapan Bahasa Arab Untuk Siswa

Menengah Pertama

1427 H / 2006 M
19 دروس المحادثة للدورللمتوسطة  الأول والثانى

Pelajaran Bercakap-Cakap Dengan Bahasa Arab:

Untuk Siswa Menengah Pertama

1427 H / 2006 M
20 دروس الاستماع والمطالعة  للمتقدمة للدور الثانى

Pelajaran Mendengarkan dan Memahami Ungkapan Bahasa Arab:Untuk Siswa

Menengah Atas

1427 H / 2006 M
21 دروس المحادثة للمتقدمة للدور الثانى

Pelajaran Bercakap-Cakap Dengan Bahasa Arab

Untuk Siswa Kelas Menengah Atas

1427 H / 2006 M
22 قاعدة طريقة فى نظم الأجرومية باإندونيسية للمبتدئين

Kaidah Nadzom Jurmiyah Berbahasa Indonesia

Metode Thoriqoh : Untuk Pemula

1429 H / 2008 M
23 العبارات الغرامـيّة

Ungkapan-Ungkpan Bahasa Arab Percintaan

—-
24 رسالة الإمام الشافعى

Rislah Imam Syafi’ie

1427 H / 2006 M
24 نظم المقياس والمكيال

Nadzoman Nama-Nama Ukuran dan Takaran

1429 H / 2008 M
25 الحبّ يعمـَى

Cinta Buta

1421 H / 2000 M
26 نور الغـرّة بخصائص يوم الجمعـة

Nurul Ghurroh: Tentang Keistimewaan

 Hari Jum’at

1414 H / 1993 M
27 التعريفات فى النحو والصرف

Definisi Istilah-Istilah Dalam Nahwu dan Shorrof

1428 H / 2007 M
28 Terjemah Kumpulan Syi’ir-Syi’ir Imam Syafi’ie 1427 H / 2006 M
29 Terjemah Khutbah Jum’at KH. Moh. Ilyas 1427 H / 2006 M
30 Terjemah kitab Ushfuriyah 1426 H / 2005 M
31 Musyawarah Kitab Kuning Thoriqoh 1428 H / 2007 M
32 Sekilas Tentang Pon. Pes. Annuqayah Dan Tanya Jawab Tentang Kitab Thoriqoh

(Presentasi disampaikan di STAIN Pamekasan)

1428 H / 2007 M
33 Teknik Mengajar Bahasa Arab Praktis 1416 M / 1995 M
34 Tokoh-Tokoh Ilmu Pengetahuan Pada Masa

Kejayaaan Islam

35 Kumpulan Do’a Dan Istighotsah 1428 H / 2007 M
36 Teknis Praktis Menerjemah Bahasa Asing

(Arab dan Inggris)

1424 H / 2003 M
37 Tanya Jawab Kaidah Nahwu Jurumiyah 1429 H / 2008 M
38 Kurikulum Bahasa Arab Biro Pengembangan Bahasa Asing Pondok Pesantren Annuqayah 1427 H / 2006 M
39 Kenestapaan (kumpulan Puisi) 1416 H / 1990 M
40 ترجمـة حياة علماء الصالحين الفخّام

Riwayat Hidup Pembesar Ulama

1428 H / 2007 M
41 Kamus Fathul Qoriebil Mujieb (belum di edit) 1428 H / 2007 M
42 منظومة حياة الشيخ محمد إلياس بن شرقاوى بن صادق رامو القدسى المدورى

Nadzom Silsilah KH. Moh. Ilyas bin Syarqowi

 

1429 H / 2008M

43 العربية السهلة الإبتدائيـة

Bahasa Arab Mudah: Untuk Siswa MI

1428 H / 2007 M
45 مَـوجة حُـزنٍ     Gelombang Duka 1429 H / 2008 M
46 فقـه العبادة شرح منظومة الرسالة

Fiqh Ibadah: Syarah Nadzoman Arrisalah

1430 H / 2009 M
47 دروس اليومية فى الأخـلاق

Pelajaran Harian Ilmu Akhlak

1430 H / 2009 M
48 متن الحـكم

Matan Kitab AL Hikam

1430 H / 2009 M
49 Terjemah Ushul Fiqh  AL LUMA’  (jilid 1 ) 1430 H / 2009 M
50 Diktat Ilmu Balaghoh 1419 M / 1999 M
51 Syarah Balaghoh ”Jawahirul Maknun” 1993 M
52 Cerita-Cerita Lucu AL FUKAHAH 2003 M
53 Diktat Pembelajaran Kosa Kata dan

Langkah-Langkah Mengajarnya

2001 M
54 Diktat : Skema Ilmu Tajwid 2007 M
55 Rumus-Rumus Penulisan Kalimat Arab (Imla’) 2008 M
56 Teknik Membaca Kitab Kuning THORIQOH MANZILAH (sistematis, aplikatif dan evisien) dan 3 ex buku pembantunya 2007 M

 

Masih ada karya-karya ilmiah lainnya dalam bentuk Rislah/Makalah berbahasa arab atau Indonesia yang belum di cetak atau diterbitkan.

 

 

PENGAJIAN KITAB KUNING ONLINE

Ta’lim Online Al Amir (TOA)

(Pengajian Online)

Belajar keislaman tidak cukup hanya memahami kandungan kitab suci Al Qur’an tanpa dukungan referensi lainnya, seperti Hadits-Hadits Nabi, kitab yang terkait dengan aqidah, syari’ah dan lain-lain. Sementara kitab-kitab referensi itu kebanyakan tertulis dengan bahasa arab tanpa baris / harkat yang memadai. Kalaupun ada, hanya sebatas harkat dan pemahaman yang tersirat belum tentu dapat difahami secara luas, tanpa mengenal ilmu tata bahasa arab (Nahwu dan Sharraf) dan tanpa ada keterangan yang lebih mendalam dari seorang guru atau tutor yang betul-betul menguasai lafdhon wa ma’nan. Oleh karena saat ini banyak sekali cara / jalan belajar yang praktis yang didukung oleh kemajuan pengetahuan teknologi Komputer atau Hp, maka apa salahnya, kalau saya mencoba untuk mengadakan pengajian kitab kuning kepada siapa saja yang berminat, baik melalui Hp atau aplikasi lainnya yang kemudian pengajian online ini, disebut dengan nama:  

Ta’lim Online Al Amir (TOA)

            Bila ada di antara pembaca berminat mengikuti pengajian ala Pondok Pesantren (wetonan=bahasa jawa), kami dari pengurus Yayasan Al Amir, Kabuaten Sumenep Madura Insya Allah siap memberikan pengajian tersebut. Mengenai teknik pelaksanaannya, termasuk materi yang akan di kaji, kita bicarakan / musyawarahkan bersama. Guru yang akan memberi pengajian kitab kuning system wetonan (guru membaca, murid memberi makna kitab yang dibaca) adalah almukarrom Drs. KH. Muhammad Muhsin Amir, salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Daerah Al Amir, Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur.  Untuk lebih jelasnya, dapat menghubungi belian langsung melalui Hp. 081999910077. Sebelum Call, hendaknya kirim SMS dulu dengan menyebutkan nama dan alamat anda. Dan kami yang akan menghubungi anda.

 

BELAJAR MENULIS ARAB YANG BENAR (AL IMLA’)

Judul Buku :

RUMUS-RUMUS

PENULISAN KALIMAT ARAB

All Right Reserver @ 1430 H / 2009 M

Diterbitkan pertama kali oleh :

Pon. Pes. Annuqayah Daerah Al Amir

Guluk-Guluk Sumenep Madura 69463

Penulis :

Drs. H. Muhammad Muhsin Amir

Ketua Pengurus Pon. Pes. Annuqayah Daerah Al Amir

Guluk-Guluk Sumenep Madura 69463

 

Design Cover :

Abu Fauroq

 

Hak Cipta :

Ketua Pon. Pes. Annuqayah Daerah Al Amir

Guluk-Guluk Sumenep Madura 69463

Hak Cipta dilindungi oleh  Undang-Undang Republik Indonesia

 

Dilarang menggandakan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, tanpa izin langsung kepada penulis !

PENDAHULUAN

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين . أما بعد .

Alhamdulillah, dengan anugerah Rahmat dan Taufiq-Nya, saya bisa menulis buku kecil ini, dan InsyaAllah sangat berguna bagi para pembaca yang berminat belajar tulis-menulis arab sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan arab yang benar.

Akhir-akhir ini, pembelajaran materi ini, hanya terbatas di kalangan pelajar di lembaga-lembaga pendidikan keagamaan, seperti Pondok Pesantren atau Madrasah-Madrasah, itupun kadang-kadang diajarkan dengan metode pembelajaran yang tidak sempurna.

Materi ini sangat perlu diajarkan pula di lembaga pendidikan umum, seperti SD, SMP, SMA dan yang sederajat., karena materi ini sangat menunjang terhadap peningkatan kemampuan anak didik dalam upaya memahami teks-teks di dalam Al Qur’anul Kariem dan Al Hadits, sebab pemahaman makna kedua sumber pokok Islam ini tidak lepas dari fungsi kosa-kata dan bentuk-bentuk tulisannya. Tanpa mengenal kosa-kata dan bentuk-bentuk tulisannya ini, maka amatlah sukar memahami makna tersirat di dalam dua sumber pokok Islam tersebut.

Referensi penulisan buku ini, bersumber dari beberap kitab gramatika bahasa arab, seperti Alfiyah Ibn Malik, Kamus al I’rob, Mulakhos Qoidah Arabiyah dan lain-lainnya. Namun rujukan utamanya

adalah kitab Kamus Imla’ yang disusun oleh Dr. Mas’ad Muhammad Zayyad.

Harapan penulis, semoga buku ini bermanfa’at kepada para pembaca dan menjadi salah satu motivator untuk giat belajar dan medalami referensi-referensi berbahasa arab, sehingga upaya memahami sumber-sumber agama Islam betul-betul dapat di capai dengan sempurna.

Maksud hati, ingin menulis topik ini lebih sempurna dan lengkap, tapi sayang sekali, keterbatasan pengetahuan penulis dan sedikitnya referensi yang yang penulis miliki menyebabkan belum tercapainya keinginan itu secara maksimal. Oleh karena itu, bila para pembaca menemukan banyak ketidak sempurnaan atau kesalahan, baik substansi maupun redaksinya, kiranya bersedia untuk diperbaiki dan dima’afkan. Hal ini penulis lakukan tiada lain, hanya mengharapkan Ridlo Allah SWT dan membantu para pembaca belajar menulis dan membaca kalimat-kalimat arab dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang baku. Dan saya sarankan kepada para pengajar/guru Imla’, hendaknya dalam mengajar materi ini menggunakan metode yang baik, dan bukan hanya sekedar di dektikan.

Demikian, semoga apa yang penulis lakukan ini menjadi amal penulis sekeluarga dan menjadi perantara keselamatan mereka di hari kemudian kelak.  Amin ya Robbal ‘ Alamien.

Ta’ Marbuthoh (bulat)

Ta’ Marbuthoh disebut juga dengan Ha’ mati, bila sukun. Dibaca Ta’, bila berharkat fathah, dlommah dan kasrah. Ditulis ة  Atau ـة.Tempatnya berada di :

  1. Akhir isim mufrod (kata tunggal) yang berdalalah muannats, seperti: عائشة ، طلحة ، شجرة ، مكة
  2. Akhir Jama’ Taksier yang mufrodnya bukan Ta’ Maftuhah / Mabsutoh (terbuka /panjang), seperti : عُراة ، قُضاة ، هُداة
  3. Akhir sebagian isim alam yang berdalalah mudzakkar, seperti :

حمزة ، أسامة، عطية

  1. Akhir sebagian isim-isim ‘ajemy, seperti : الإسكندارية الإبراهيمية  اليونانية ، الرومية ،
  2. Akhir kalimat yang akhirnya terdiri dari Ta’ Marbuthoh dan dibaca seperti Ta’ Ta’nits, maka boleh ditulis dengan Ta’ Mabsuthoh / Maftuhah sukun, seperti:

ثمة ـ وثمت ، ولاة ـ ولات ، رحمة  ـ رحمت

Ta’ Maftuhah / Mabsutoh (terbuka/panjang)

Tak Maftuhah dibaca Ta’, bila berharkat fathah, dlommah dan kasrah. Bentuk huruf  ini tetap tidak berubah, walaupun berharkat sukun. Ditulis ت  . Tempatnya berada di :

  1. Akhir fi’il, seperti : باتَ ـ ماتَ, كتبتْ,سافرتُ جلستَ رَسمتِ أكلت ُجلستْ
  2. Akhir jama’ muannats salim, seperti :المعلماتُ ـ الطالباتُ ـ الفاطماتُ
  1. Akhir isim Tsulatsi yang tengahnya sukun dan jama’nya, seperti :

بيت ـ أبيات ، قوت ـ أقوات ، حوت ـ أحوات صوت ـ أصوات ، ميت ـ أموات .

  1. Akhir isim mufrod mudzakkar, seperti : رفعت ـ رأفت ـ عملت ـ عصَمت
  2. Akhir sebagian huruf, seperti : ليت ـ لات ـ ثُمّت ـ ثَمّتَ ـ ربّت ـ لعلّت
  3. Akhir dlomir munfashil mufrod / mufrodah mukhotob, seperti : أنتَ ، أنتِ

Rumus 1 :

  1. Apabila Alif Layyinah, (Alif yang tidak memakai Hamzah) yang terletak di akhir fi’il atau isim mu’rob yang terdiri dari empat huruf, lima dan enam, maka hendaknya ditulis berbentuk ى, seperti : استقوى ـ أعطى ـ أغنى ـ منتهى ـ مرتضى ـ ليلى ـ ذكرى .
  2. Apabila Alif jatuh setelah Ya’, ditulis “ ا “, seperti : استَحْيا ـ محيّا ـ ثريّا ـ عُليّا ـ عليا ـ دنيا

(Jadi perbedaan Alif dalam lafadz isim, hendaknya ditulis berbentuk ى sedangkan Alif  fi’il ditulis berbentuk “ ا “.

  1. Apabila Alif yang terletak di akhir fi’il yang terdiri dari tiga huruf, maka menulisnya ada dua cara :
  • Jika Alif dalam lafadz fi’il itu mengganti tempatnya Wawu, atau memang Alif itu asli dalam lafadz tersebut, karena berbentuk isim, maka di tulis “ ا “, seperti : عدا ـ دعا ـ عفا ـ علا . ذرا
  • Jika Alif itu menggantikan tempatnya Ya’, maka ditulis berebtuk ى tanpa bertitik dibawahnya, seperti : قضى ـ فتى رحى ـ رمى ـ مُدى
  1. Untuk mengetahui asal suatu lafadz, apakah menggantikan huruf Wawu atau Alif, maka hendaknya dilihat dari isim tatsniyahnya, bila lafadz itu mufrod, seperti :

عصا ـ عصوان رحى ـ رحيان  atau dikembalikan kepada masdarnya, bila asal suatu lafadz itu menggantikan huruf Wawu atau Ya’, seperti : مدية ـ مُدى ذروة ـ ذرا ، خطوة ـ خطا   atau kepada fi’il mudlori’nya, seperti :

غزا ـ يغزو دعا ـ يدعو رمى ـ يرمى

  1. Alif yang terletak di akhir isim yang mabni ditulis berbentuk

“ ا “, seperti : مهما ـ ماذا ـ ذا , kecuali kalimat-kalimat berikut ini :

متى ـ لدى ـ أنّى ـ الألى ditulis berbentuk ى .

  1. Penulisan Alif yang terletak di akhir huruf-huruf yang mempunyai makna, yaitu huruf jir, jazem, nashab dan lain-lain ditulis berbentuk “ ا “, seperti : كلاّ ـ هلاّ ـ لولا ـ لوما , kecuali huruf إلى ـ على بلى    ـ

حتى

  1. Alif Layyinah (Alif yang tidak memakai Hamzah), bila terletak di akhir isim-isism ‘ajamy, ditulis berbentuk  “ ا “, seperti : كندا ـ سويسرا ـ روما ـ أفريقيا أوروبا , kecuali lafadz :  موسى ـ عيسى ـ متّى ـ حنّى ـ بخارى كسرى ditulis berbentuk  ى .

Hamzah Mutathorrifah

Hamzah Mutathorrifah ialah Hamzah yang berada di atas / di ujung Alif, Wawu dan Ya’, lurus dengan huruf yang terakhir, seperti : ملأ بدأ ، لجأ ، أرجأ ، أطفأ ، نبأ ، ملجأ ، منشأ ، الأسوأ  اختبأ

Contoh Hamzah di atas Wawu : لؤلؤ ، يجرؤ ، جؤجؤ ، بؤبؤ ، أمرؤ  بطؤ ، التكافؤ ، تلألؤ ، التواطؤ

Contoh Hamzah di atas Ya’ : ينشئ ، شاطئ ، مفاجئ  البارئ  سيئ  يستهزئ ، لآلئ

Contoh Hamzah yang lurus dengan huruf yang terakhir :

دفء بطء ، شيء ، فيء ، هواء ، لجوء ، هدوء ، مريء جريء ، مليء

Rumus 2 :

  1. Jika harkat huruf sebelumnya fathah, maka Hamzah-nya ditulis di atas Alif, berbentuk ” أ ” , seperti : ملأ, بدأ ، لجأ ، أرجأ ، أطفأ ، نبأ ، ملجأ ، منشأ ، الأسوأ ، اختبأ
  2. Jika harkat sebelumnya dlommah, maka Hamzahnya ditulis di atas Wawu, berbentuk ؤ, seperti : لؤلؤ ، يجرؤ ، جؤجؤ ، بؤبؤ ، أمرؤ بطؤ ، التكافؤ ، تلألؤ ، التواطؤ
  1. Jika harkat sebelumnya kasroh, maka Hamzah-nya ditulis di atas Ya’, seperti :

ينشئ ، شاطئ ، مفاجئ  البارئ ، سيئ  يستهزئ ، لآلئ

  1. Jika harkat sebelumnya sukun, maka di tulis sejajar dengan dengan huruf yang terakhir, seperti :

دف ء    بطء ، شيء ، فيء ، هواء ، لجوء ، هدوء ، مري ء

Catatan :

Salah satu huruf tambahan hanya di tuliskan saja, tetapi tidak boleh dibaca, yaitu Alif dan Wawu, seperti : مائة، أولئك ، عمرو Alif dan Wawu di sini adalah ziyadah. Sedangkan Alif yang jatuh setelah Wawu sebagai tanda Jama’ disebut Wawu Fariqoh, seperti فعلوا، قالوا، سمعوا   , yaitu untuk membedakan antara wawu jama’ dan illat.

Rumus 3 :

  1. Hamzah, juga di tulis sejajar dengan huruf yang terakhir, bila huruf yang terakhir tersebut terdiri dari Wawu ber-tasydid, seperti : التبوُّء ـ التسوُّء ـ التضوُّء
  2. Apabila isim yang berakhiran Hamzah yang terletak setelah alif di sandarkan (dimudlofkan) kepada dlomir-dlomir ghoib, maka Hamzah dapat di lihat dari dua keadaan, yaitu :
  3. Dalam keadaan nashab dan terdiri dari isim mufrod, maka Hamzah-nya ditulis setelah alif tersebut (bukan di atasnya), seperti : نال اللص جزاءه . وسمع الله دعاءهم
  4. Dalam keadaan Jir, maka di tulis di atas Ya’, seperti :

عمل محمد بآرائه . وطارات الطائرات في سمائه

  1. Dalam keadaan Rofa’, maka ditulis di atas Wawu, seperti :

جُدَّة سماؤها صافية .

  1. Hamzah di tulis di atas alif yang ada di tengah-tenga kalimat,

apabila Hamzah tersebut di baca Fathah yang   jatuh setelah huruf yang dibaca sukun (mati), seperti :  قروء

Rumus 4 :

Bila di akhir kalimat isim itu bertanwin nashab, maka tidak boleh ditambah dengan Alif, jika :

  1. Kalimat isim itu berakhiran Ta’ Marbuthoh, seperti :

وردة ـ قصة ـ طريقة ـ جائزة ـ قيمة ـ جالسة ـ مدرسة ـ مؤمنة ـ هادفة ـ كريمة .

  1. Berakhiran dengan Hamzah sejajar setelah Alif, seperti :

وفاء وقاء ـ ماء ـ هواء ـ دواء ـ نداء ـ رجاء ـ سماء ـ دعاء

  1. Berakhir dengan Hamzah di atas Alif, seperti :

خطأ ـ مرفأ ـ مخبأ ـ ملجأ ـ مدفأ ـ مرزأ ـ مرجأ

  1. Berakhiran dengan Alif Layyinah, seperti:

عصًا ـ خطا ـ ندًى ـ ذرا ـ مدًى ـ سنًا

Bila  di  akhir  kalimat  isim  itu bertanwin nashab, maka boleh ditambah Alif, jika

  1. Berakhiran huruf shaheh, seperti :

شاهدت رجلاً قادمًا . وأزاول عملاً شريفًا يدر عليَّ دخلاً

واشتريت كتابًا جديدًا .

  1. Berakhiran dengan Hamzah yang sebelumnya teridiri dari Wawu  mad, seperti :

ولا تعمل سوءًا اشتريت وعاءً مملوءًا بالزيت  وتوضأ      الرجل وضوءًا

  1. Berakhiran dengan Hamzah yang sebelumnya terdiri dari huruf shahih yang sukun dan tidak bersambung pada huruf sesudahnya, seperti :

جزء ـ جزءًا ، ردء ـ ردءًا ، رزء ـ رزءًا ، بدء ـ بدءًا

  1. Berakhiran dengan Hamzah  sebelumnya  terdiri  dari Ya’ atau

huruf shahih sukun dan tidak bisa disambung dengan Alif tanwin. Maka Hamzah harus ditulis diatas satu huruf (Nabroh), seperti :

شيء ـ شيئًا ، بريء ـ بريئًا ، ملء ـ ملئًا ، بطء ـ

بطئًا ، دفء ـ دفئًا.  . Sedangkan penulisan kata  شيئ sangat jarang digunakan

 

Rumus 5 :

Hamzah di tulis di atas Wawu dalam tiga keadaan :

  1. Apabila Hamzahnya dibaca dlommah dan didahului oleh
  2. huruf yang dibaca dlommah, seperti : نُؤُم ، رؤوس ،

فؤوس ، شؤون

  1. Apabila Hamzahnya dibaca dlommah dan di dahului huruf yang berharkat fathah, seperti:  يَؤُم ، لَؤُم ، تَؤُز ، مبدَؤُنا ، هَؤُلاء ، يَؤُد
  2. Apabila Hamzahnya dibaca dlommah dan didahului oleh huruf mati (sukun), seperti : هاؤُم ، مسؤُول ، تشاؤٌم ـ رداؤُه ، جلاؤُهم، أرؤُس ، أكؤُس ، سماؤُه ، هواؤُه ، التفاؤُل
  3. Apabila Hamzahnya berharkat fathah dan didahului oleh huruf berharkat dlommah, seperti : سُؤَال ، مُؤَذن ، يُؤَجل ، مُؤَلف ، مُؤَن ، مُؤَامرة ، مُؤَازرة ، ذُؤَابة
  4. Apabila Hamzahnya sukun  dan d idahului  oleh huruf yang

berharkat dlommah, seperti : رُؤية ، مُؤمن ، يُؤذي ، مُؤتة ، مُؤلم ، سُؤل، بُؤس ، مُؤنس ، اُؤتمن .

 

Di Luar Rumus.

  1. Apabila Hamzah yang berharkat dlommah atau fathah yang terletak setelah Wawu sukun, maka mufrodnya ditulis sejajar dengan huruf sebelumnya, seperti : كان ضوءُه ساطعًا . كشِفَ سوءَة أخيه
  2. Penulisan Hamzah di atas Wawu di tengah-tengah kalimat sebagai gantinya Wawu atau untuk menyingkat, seperti :

رؤوس : رؤس ، كؤوس : كؤس ، فؤوس : فؤس

  1. Penulisan Hamzah boleh ditulis sejajar dengan huruf sebelumnya setelah Wawunya dibuang dan tidak bisa disambung dengan huruf sebelum atau sesudahnya dengan syarat, huruf sebelumnya berharkat dlommah dan sesudahnya berharkat sukun, seperti : رءوس ، رءوم ، رءوف ، مرءوس , kalau dimungkinkan disambung dengan huruf sebelum atau sesudahnya, maka bisa disambung, seperti :

مسئول ، شئون ، فئوس seperti halnya penulisan di atas satu huruf (Nibroh)

4  Hamzah yang didahului Ya’ sukun, maka boleh ditulis dengan disambung di atas satu huruf (Nibroh), seperti : فيئه، شيئه

  1. Hamzah yang didahului Wawu yang bertasydid serta berharkat dlommah, maka boleh di baca rofa’, bila didahului amil rofa’, dibaca nashab, bila di dahului amil nashab dan dibaca jir, bila di dahului amil khofadz. Tapi tidak boleh dibaca jazem, seperti :

كان تبوُّءُك  . إن تبوُّءَك .  بتبوُّءِك

Rumus 6

Hamzah ditulis di atas satu huruf (Nibroh) di tengah-tengah kalimat, apabila berharkat kasrah atau huruf sebelumnya berharkat kasrah. Perinciannya sebagai berikut :

  1. Apabila Hamzah-nya berharkat kasrah, dan huruf sebelumnya juga kasrah, seperti : الناشئين ، مِئِين ، متكئين ، مالئين
  2. Apabila Hamzah-nya berharkat kasrah dan huruf sebelumnya dlommah, seperti : نُئي ، سُئل ، رُئي ، وُئد
  3. Apabila Hamzah-nya berharkat kasrah dan huruf sebelumnya fathah, seperti : يئن ، يئس ، سئم ، زئير ، لئيم
  4. Apabila Hamzah-nya berharkat kasrah dan huruf sebelumnya sukun, seperti : سائل ، حائط ، ضوئية ، مرئية
  5. Apabila Hamzah-nya berharkat fathah dan huruf sebelumnya kasrah, seperti : فئة ، ظمئت ، رئة ، مئة
  6. Apabila Hamzah-nya berharkat dlommah dan huruf sebelumnya kasrah, seperti : مهنئون ، يستمرئون ، يستهزئون
  7. Apabila Hamzah-nya sukun dan huruf sebelumnya kasrah, seperti : بئس ، جئت ، بئر ، ذئب ، شئت ، ائتمن

 

Di Luar Rumus.

Hamzah ditulis di atas satu huruf (Nabroh) di tengah-tengah kalimat, apabila :

  1. Hamzah-nya berharkat fathah dan huruf sebelumnya Ya’ sukun, seperti : مليئة ، رديئة ، بيئة ، خطيئة ، دفيئة

ييئس ، هيئة ، دريئة ، جريئة ، بريئة ، وضيئة .

  1. Hamzah-nya berharkat dlommah dan huruf sebelumnya Ya’ sukun, seperti :

فيئها ، رديئها ، مجيئكم هنيئكم ، مريئها

  1. Hamzah-nya berharkat kasrah dan huruf sebelumnya Ya’ sukun, seperti :

يعرف الحسن من رديئه . نسعد بمجيئكم .

  1. Hamzah-nya dibaca tanwin fathah (nashab) dan huruf sebelumnya terdiri dari huruf yang bisa disambung dengan alif tanwin, maka ditulis di atas satu huruf (Nibroh), seperti :

دفء : دفئا  ، عبء : عبئا ، شيء : شيئا ، بطء:   بطئا ، ملء : ملئا ، فيء : فيئا ، نشء : نشئا

Rumus 7

Hamzah yang berada di tengah-tengah kalimat yang di tulis di atas Alif terdapat pada tiga keadaan, sebagai berikut :

  1. Apabila Hamzah-nya berharkat fathah dan huruf sebelumnya fathah, seperti : رأى ، رأَس ، يتألم ، سأل ، متأمل ، تأسف
  2. Apabila Hamzah-nya berharkat fathah dan huruf sebelumnya sukun, seperti : فجأة ، مسألة ، يسأل ، مرأة ، وطأة ، ملأى
  3. Apabila Hamzah-nya sukun dan huruf sebelumnya fathah, seperti : رأى ، مأرب ، رأْس ، كأس
  1. ، فأس ، يـزأر

Catatan :

  1. Apabila Hamzah yang berada di tengah-tengah kalimat (mutawassithoh) berbentuk alif mad (آ), maka Hamzahnya di buang dan diganti dengan tanda Alif mad, seperti : السآمة ـ الشآم

Demikian juga bila ditulis dengan Alif tatsniyah, seperti :

قرآن ، ملآن ، يقرآن ، يملآن

  1. Apabila huruf sebelum Hamzah adalah Ya’ sukun yang berada di tengah-tengah kalimat (mutawassithoh), maka Hamzah tersebut ditulis berharkat fathah di atas satu huruf (Nibroh), seperti : هيئة ، رديئة ، مليئة ، مسيئة

Rumus 8

  1. Apabila Hamzah mutawassithoh berharkat fathah yang jatuh setelah alif sukun, maka ditulis sejajar dengan huruf sebelumnya. Hamzah tersebut disebut juga dengan Mtasaththiroh, seperti : يتضاءل ، تفاءل ، يتثاءب ، تتشاءم ، كفاءة  جاءك  كفاءتك ، تراءى ، يتلاءم ، مساءلة
  1. Apabila Hamzah mutawassithoh berharkat fathah dan huruf sebelumnya Wawu sukun, seperti : توءم ، نبوءة
  2. Apabila Hamzah mutawassithoh berharkat fathah setelah huruf Wawu bertasydid, seperti : بوّءنا ، نوّءنا ، ضوّءه
  3. Apabila Hamzah mutawassithoh berharkat dlommah dan huruf sebelumnya Wawu sukun, seperti : ضوءُها ، نوءُها
  4. Apabila Hamzah mutawassithoh berharkat dlommah setelah huruf Wawu bertasydid, seperti : تضوُّءكم ، تنبوُّءها ، تبوُّءكم
  5. Apabila Hamzah mutawassithoh berharkat fathah setelah huruf sahih sukun dan setelahnya Alif tanwin nashab atau Alif tatsniyah yang tidak mungkin Hamzah tersebut disambung dengan huruf sebelumnya atau sesudahnya, seperti :

جزءا  جزءان

Jika dimungkinkan untuk disambung, maka ditulis di atas satu huruf (Nibroh), seperti : عبئا ، عبئان ، دفئا ، دفئان

 

Definisi Hamzah Washol dan Qotho’

Hamzah Washol ialah Hamzah yang diucapkan di awal kalimat tanpa ditulis di atas Alif dan tidak diucapkan ketika berada di tengah-tengah kalimat, karena didahului oleh satu huruf, seperti:

الحمدلله ، السلام عليكم. فاستعمل ، واعتصم ، واستفاد

Hamzah Washol terdapat di enam tempat, yaitu :

  1. Fi’il Madhi empat huruf lebih, seperti :  انكسر، انجـلى
  2. Fi’il Amar empat huruf lebih , seperti : انكسِر، انجَـل
  3. Masdar empat huruf lebih, seperti : انكسارا، اِنجِلاءً
  4. Fi’il Amar tiga huruf, seperti : اُنفُـذ، اِمِض، اِحشٍ
  5. Dalam beberapa isim yang terkumpul dalam dua Nadloman Alfiyah Ibn Malik berikut ini :

وَفِى اسْمِ اِسْتٍ اِبْنِ اِبْنِمٍ سُمِعْ  #  وَاثْنَيْنِ وَامْرِئٍ وَتَأْنِيْثٍ تَبِعْ

وَأَيْمُنْ هَمْزُ أَلْ كَذَا وَيُبْدَلُ  #  مُدًّا فِى اْلاِسْتِفْهَامِ أَوْيُسهَّـلُ

  1. Al Ta’rif, bila bersambung dengan suatu kalimat sesudahnya , seperti : الكتاب، الصدقُ

Hamzah Qotho’ ialah Hamzah yang tulis di atas Alif dan dibaca dengan terang berbentuk ‘Ain kecil  ء

Hamzah Qotho’ terdapat di tiga tempat, yaitu :

  1. Dalam semua isim, Dlomir-dlomir Mahmuz Awal dan Idza Syartiyah serta fi’il Mudlori’ yang Mahmuz Awalnya, seperti : إبراهيم ، أحمد ، أنا ، أنت ، إذا, selain isim yang disebutkan dalam dua Nadloman tersebut di atas.
  2. Dalam fi’il Ruba’ie: fi’il Amar dan Masdarnya, seperti :

أكرم ـ أكرْم ـ إكرام ، أحسن ـ أحْسن ـ إحسان .

أعطى ـ أعْط ـ إعطاء ، أنشأ ـ أنْشئ ـ إنشاء

أستعملُ ـ أستعينُ ـ أنعطفُ ـ أستشيرُ ـ أتعلمُ ، أكرمُ ـ أحسنُ ـ أكتبُ ـ أجلسُ

  1. Semua huruf Mahmuz Awal dan Al Maushulah serta Alif Ziyadah, seperti :

إلى ـ إنما ـ إنَّ ـ أنَّ ـ إنْ ـ أن ـ إذ ما

Rumus  9

Ada beberapa huruf yang ditambahkan / ditulis  dalam kalimat, namun huruf tersebut tidak dibaca. Perinciannya sebagi berikut :

  1. Dalam kalimat مائة  hingga تسعمائة  (ditulis tanpa Alif tidak salah, namun tidak lumrah dan jarang sekali), karena fungsi Alif tambahan tersebut untuk membedakan antara hitungan seratus dan ratusan atau antara kalimat مائة  dengan مئات، مِئون، مئين، مئوى ، مئوية .
  2. Alif ditulis / ditambahkan setelah Wawu Jama’ untuk membedakan antara Wawu Jama’ dan Wawu ‘Illat dalam fi’il Mu’tal Akhir dengan wawu, disebut Alif Fariqoh, seperti :

لن يقولوا قالوا ، قولوا ،  لم يقولوا

Sedangkan pada kalimat  :

يدعو ، ينجو ، يرسو ، يمحو، يغزو

tidak ditambah Alif sesudah huruf Wawu, karena Wawu Asliyah. Demikian pula tidak ditambah Alif setelah Wawu Jama’ yang mudlof, seperti :  حضرمعلموالمدرسة, karena berkumpulnya dua alif dalam satu kalimat tidak diperkenankan dalam susunan bahasa arab (ta’lief / tarkieb arabiyah), kecuali dalam beberapa hal yang lebih kepada dlorurat saja.

  1. Alif ditulis / ditambahkan di akhir isim yang tanwin fathah dan tidak di akhiri oleh Ta’ Mabuthoh atau tidak di akhiri oleh Hamzah  Mutathorrifah  (Hamzah  di ujung Alif) atau Hamzah yang di didahului Alif, seperti : رجلاً قادمًا يركب حصانًا

Kalau isim tersebut di akhiri oleh Hamzah Mutathorrifah atau Ta’ Marbuthoh, maka tidak boleh ditambah Alih bila akan dibaca tanwin fathah atau tanwin dlommah atau tanwin kasroh, seperti:

شممت رائحةً عِطريةً . قد فعلتَ خطأً

  1. Alif dituis / ditambahkan di akhir bait Syi’ir / Nadloman untuk memenuhi

harkat bacaan (sesuai dengan wazan ilmu ‘Arudl), disebut Alif Ithlaq, seperti Nadloman Safinatus Sholah, oleh Syekh al ‘Allamah Moh. Ilyas bin Syarqowy :

ويُبطِل الحَرفان ممن َضحِكا # كذاك معْ تَنَحْنُحٍ أو معْ بُكا

  1. Wawu ditulis / ditambahkan di akhir Ro’ dalam kalimat عمرو ketika dibaca rofa’ dan jir. Dan dibuang ketika tanwin nashab dan diganti Alif, seperti : جاء عمرٌو . وسلمت على عمرٍو وصافحت عَمْرًا  Wawu tersebut disebut Wawu Fariqh, karena untuk membedakan bacaan “ ’Umarun dan ‘Amrun
  2. Wawu ditulis / ditambahkan di tengah-tengah kalimat, baik ketika dibaca rofa, nashab, jir atau jama’ sesuai dengan Rosam atau tulisan Sayyidina Utsman atau yang dikenal dengan Rosam Utsmany, seperti : أولو أولي أولئك  أولاء  أولات .

Insya Allah di akhir buku ini, akan penulis uraikan secara ringkas macam-macam perbedaan Rosam Utsmani dengan penulisan moderen (yang digunakan saat ini) atau yang dikenal dengan sebutan Rosam Qiyasy (menyamakan tulisan arab zaman sekarang dengan tulisan atau Rosam Utsmany), yang hukumnya menurut ulama Tauqify dan ada pula yang menyebutnya Ijtihady.  seperti :

Rumus  10

 Hamzah Washol ابن dibuang,

  1. Bila terletak di antara dua isim alam yang tak bertanwin, dan kalimat sesudah ابن adalah berarti “ Bapaknya”, seperti : محسن بن عامر

Diterangkan dalam Nadlom :

واحذِف من ابنِ ألِفاإن وقَعا #  فى الوسَط اسْمَين تكنْ متَّبَعا

  1. Bila dimasuki Hamzah Istifham, seperti :

أَبنك الذي فاز بالمسابقة ؟

  1. Bila di dahului oleh huruf nida’, seperti :

قال يابن أم لا تأخذ بلحيتي

  1. Bila terletak di awal Basmalah, seperti :

بسم الله الرحمن الرحيم, tetapi dengan syarat diucapkan atau ditulis dengan lengkap. Kalau tidak lengkap, maka tidak boleh dibuang, seperti :  باسمك, باسم محسن باسم الله

  1. Bila Al Ta’rif terletak setelah Lam Ibtida’ atau setelah Lam jir, seperti :

السلام، الكتاب ، بالترتيب ، بالقلم

  1. Bila terletak dalam kalimat antara Wawu dan Alif, seperti :

وأْت ، فأْت ، وأْمر .

Rumus  11

Hamzah Washol tidak boleh dibuang,

  1. Bila tidak berada di antara dua isim alam, seperti :

موسى الكليم ابن عمران . يوسف ابن الشيخ حمدان

  1. Bila kalimat tersebut menjadi Na’at / sifat mufrod. Bila di tatsniyah-kan, maka Hamzah-nya tetap (tidak dibuang), seperti :

الأمين والمأمون ابنا هارون الرشي

  1. Bila dua kalimat tersebut terletak di awal baris, sekalipun berada di tengah-tengah dua isim alam, seperti :

محمد محسن بن محمد عامر بن إلياس بن شرقاوى ابن صادق رامو

Rumus  12

  1. Dibuang Alif يا  Nida’, bila dibaca أيُّ   atau  أيةُ
  2. Dibuang Alif “ Lakinna “, bila menjadi huruf athof, seperti :

جاء عمرو لكنّ حسن ذهب

  1. Alif dibuang dari sebagian isim-isim, seperti :

الله ، السموات ، إله ، الرحمن ، يس ، طه ، هرون

  1. Alif أولاء dibuang, bila bersambung dengan Kaf Khitob, seperti أولئك

Rumus  13 : Membuang Alif Istifham, Isyaroh

  1. Alif ما Istifham harus dibuang, apabila bersambung dengan sebagian huruf-huruf jir berikut ini :

عن ، اللام ، الباء، إلى ، على، في ، من .

Contohnya akan diterangkan berikut ini,  InsyaAllah

  1. Alif ها tanbih (peringatan) harus dibuang, bila bersamaan dengan dlomir yang diawali dengan Hamzah, seperti :

هأنا في انتظارك . هأنت تستحق الفوز . هأنتم إخوة في الله.

  1. Alif pada isim Isyaroh ذاك harus dibuang, bila bersambung dengan Lam yang menunjukkan arti jauh (Isyaroh Ba’ied), seperti :

قال تعالى : ذلك الكتاب لا ريب فيه.

قال تعالى : ذلكم أزكى لكم

Rumus  14 : Membuang Nun

  1. Nun harus dibuang, bila bersambung dengan ما Istifham atau Zaidah, seperti :

مم تخاف ؟. عم تتحدث ؟ مما خطيئاتهم أغرقوا.

عما قليل أعود . تجاوزت عما تقول . أنفق مما تكسب

  1. Nun harus dibuang, bila bersambung dengan مَن Istifham atau isim Maushul dan Mim yang kedua di tasydid, seperti :

ممن تعلمت العلم النافع ؟ عمن تبحث ؟ بمن تذهب ؟ قال تعالى: فاعرض عمن تولى عن ذكرنا. قال تعالى : ومن أظلم ممن منع مساجد الله .

Rumus  15 : Membuang Wawu, Alif, Ya’, Lam ke dua,    Hamzah al Ta’rief dan huruf ‘Illat Akhir Fi’il

  1. Wawu harus dibuang, karena berkumpulnya dua huruf dalam satu kalimat, seperti :

داود ، هارون ، طاوس ، رءوف

  1. Salah satu huruf Wawu harus dibuang, karena berkumpulnya tiga huruf dalam satu kalimat, sebagai berikut :
  2. Berkumpulnya tiga Alif, maka salah satunya dibuang dan Alif yang ada diberi harkat mad (panjang), seperti :

ملاآت ، براآت ، مساآت ،

  1. Berkumpulnya tiga huruf Wawu, maka salah satunya dibuang dan di atas Wawu yang kedua ditulis Hamzah, seperti :

يسوؤن ، ينوؤن

  1. Berkumpulnya tiga Ya’, maka salah satunya dibuang dan di atas Ya’ yang pertama ditulis tasydid, seperti :

عليّين ، النبيّين .

  1. Hamzah di atas al Ta’rief dibuang, apabila dimasuki huruf jir Lam , seperti :

لليمون فوائد كثيرة . الأطفال مُحبُّون للموز .

  1. Huruf ‘Illat di akhir fi’il Madhi harus dibuang dalam keadaan Jazem, seperti :

لا تخش إلا الله . لم يرمِ اللاعب الكرة .

  1. Huruf ‘Illat di akhir fi’il berbina’ Amar harus dibuang, seperti :

ادعُ الله في السر والعلن . اسعَ لفعل الخير .

Rumus  16 :  Keadaan Hamzah Yang Ditulis Dengan Alif Mad (Panjang)

Hamzah yang ditulis di atas (ujung) Alif dalam suatu kalimat, baik Alif itu berada di awal kalimat, di tengah atau di akhirnya, kemudian dibaca panjang (Mad), maka dalam penulisannya ada tiga ketentuan :

Pertama : Apabila Hamzah yang ditulis di atas (ujung) Alif dalam suatu kalimat, kemudian Hamzah tersebut dibaca panjang, maka hendaknya diganti dengan Alif Mad (آ) dan ditulis di atas Alif

tersebut sebagai gantinya Hamzah, seperti :

أمل ـ آمال ، أثر ـ آثار ، إرم ـ آرام ، أذن ـ آذان .سأم ـ سآمة ، وأم ـ وآمة ، وأد ـ وآدة . ظمأ ـ ظمآن ، قرأ ـ قرآن ، شنأ ـ شنآن

Sebagaimana juga al Ta’rif diganti dengan Alif Mad, bila didahului Hamzah Istifham, seperti :

أالله ـ آلله ، أالرجل ـ آلرجل ، أالمعلم ـ آلمعلم

Kedua :  Apabila  huruf  akhir fi’il Madhi  adalah Alif yang

ujungnya ditulis Hamzah, maka di dalam Tatsniyah-nya harus menambah Alif ((ا atau Alif Maqshuroh (ى), seperti :

لجأ ـ لجأا ، ملأ ـ ملأا ، درأ ـ درأا . ومثل : ظمأى ، ملأى ، مرأى، قرأ ، قرأا

Tetapi jika terdiri dari isim Tatsniyah, maka Hamzah-Nya diganti dengan Alif Mad, seperti :

مدفأ ـ مدفآن ، مرفأ ـ مرفآن ، ملجأ ـ ملجآن

Ketiga : Apabila Hamzah ditulis di atas satu huruf (Hamzah Nibroh) atau ditulis sejajar, maka tulisannya tetap. Dan dalam tatsniyah-nya ditambah Alif bersambung dengan Hamzah tersebut atau tidak bersambung, bila mufrodnya tidak bersambung dengan huruf apapun, seperti :

يطأطئ ـ يطأطئان ، يكافئ ـ يكافئان ، شاطئ ـ شاطئان

ومثل : إماءة ـ إماءات ، عباءة ـ عباءات ، إساءة ـ إساءات .

Rumus  17  ( Kalimat Yang Harus Disambung Dengan Kalimat

                    Lain dan Yang Tidak Harus Disambung )

  1. Kalimat-kalimat yang tidak boleh dijadikan permulaan suatu kalam, yaitu :
  2. Dhomir-Dhomir Bariz yang bersambung, seperti Ta’ Fa’il dan Na yang berarti dua pelaku atau lebih. Dua Dhomir ini harus disambung di akhir fi’il Madhi, seperti :

كتبتُ ـ جلستُ ـ ذهبتُ ، كتبنا ـ جلسنا ـ ذهبنا .

Kalau terdiri dari Alif Tatsniyah, Wawu Jama’ dan Nun Niswah,  maka  Dhomir  tersebut disambungkan di akhir fi’il

Madhi, Mudlori’ dan Amar, seperti :

وقفا ـ وقفوا ـ وقفن . يقفان ـ يقفون ـ يقفن . قفا ـ قفوا ـ قفن

Kalau terdiri dari Ya’ Mukhotobah, maka disambungkan di akhir fi’il Mudlori’ dan Amar, seperti :

تكتبين ـ تجلسين ـ ترسمين ، اكتبي ـ اجلسي ـ ارسمي

Atau Dhomir-Dhomir yang boleh menjadi nashob dan jir, seperti Ya’ Mutakallim, Kaf Khitob, Ha’ Ghoibah dan Na lilmutakallim. Contohnya :

كتابي ـ كتابك ـ كتابه ـ كتابنا

  1. Tanda Tatsniyah adalah Ya’ dan Nun, seperti :

المعلمان ـ القلمان ، المعلمَين ـ القلمَين .

Tanda Jama’ Mudzakkar Salim Wawu dan Nun, seperti :

المعلمون ـ المهندسون ، المعلمِين ـ المِهندسين .

Tanda Jama’ Muannats Salim Alif dan Ta’, seperti :

المسلمات ـ المعلمات

  1. Ta’ Ta’nits yang bersambung di akhirnya dengan fi’il Madhi, seperti :

كتبت فاطمة الدرس . الشمس أشرقت

  1. Nun Taukid Tsaqilah dan Khofifah yang bersambung di akhirnya dengan fi’il Mudhori’ dan Amar, seperti :

والله لأساعدنَّ المحتاج . تالله لأحرصنَّ على خدمة الوطن . واكتبنْ واجبك . ساعدنْ الضعيف

Catatan : Penulisan Nun Khofifah diperbolehkan ditulis dengan Alif tanwin fathah, seperti :

اكتبَنْ ـ اكتبًا ، ساعدنْ ـ ساعدًا

2 . Kalimat-kalimat yang bacaannya tidak boleh berhenti (harus dibaca), yaitu :

  1. Al Ta’rif yang bersambung dengan isim sesudahnya,seperti:

الكتاب ـ الإمام ـ السلام ـ الأمين

  1. Dzorof yang berakhir dengan huruf إذ yang tanwin, seperti :

يومئذٍ ـ حينئذٍ ـ وقتئذٍ ـ ساعتئذٍ ـ عندئذٍ .

Jika tidak ditanwinkan, maka tulisannya harus di pisah,   seperti :

رجعت وقت إذ سقط المطر . وصلت ساعة إذ سافر أخي.

  1. Bilangan (‘adad) dari tiga ratus hingga sembilan ratus, seperti : ثلاثمائة ـ أربعمائة ـ تسعمائة

Rumus  18 (Penulisan كى ما    من  لا )

  1. Kay disambung dengan La Nafi, bila didahului oleh Lam,

seperti :

استيقظت مبكرًا لكيلا أتأخر عن عمل . لكيلا تأسوا على ما فاتكم

Sebaliknya tidak boleh disambung dengan La Nafi, seperti :

ننتظرك كي لا نخلف وعدي . كي لا يكون دولة بين الأغنياء

  1. Bila Kay disambung dengan Ma Istifham, maka Alif pada Ma harus dibuang dan diganti dengan Ha’ saket, seperti : كيمهْ؟
  2. Bila Kay disambung dengan Ma Masdariyah atau Zaidah, maka Alift-nya tetap, seperti : حضرت كيما أسلم عليك

اغسل فاك كيما تحافظ على نظافة أسنانك

Mengenal Faedah-Faedah ما .

ما ada dua macam, yaitu Ma Ismiyah dan Ma Harfiyah.

  1. Ma Ismiyah meliputi : Istifham, Maushul, Nakiroh, Ma’rifat dan Syarat.
  2. Disebut Ma Istifham, apabila sebelumnya bersambung dengan salah satu huruf jir,

إلامَ ، علاَمَ ، فيمَ ، حتّامَ ، عمَّ ، ممَّ ، بمَ

إلامَ تعتمدُّ ؟  علام قضيت الحكمَ ؟  seperti :

فيم تخاف ؟ حتَّامَ تصير على موقفك ؟ عم يتساءلون ؟

ممَّ تشتكى ؟ بم أنصرك ؟

Atau terletak sebelum isim Nakiroh atau Ma’rifat, seperti :

ما قومه ؟ ما يومه ؟ ماالمِصرَع ؟ ما اسمك ؟

  1. Disebut Ma Syarthiyah, bila terletak setelah alat-alat syarat, yaitu :  Inna, Aina, Haistu dan Kaifa, seperti :

إما تسافر فلا تنس أصدقاءك.إما يبلغن عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أف.  أينما تقم أقم معك . أينما تكونوا يدركّم الموت.وحيثما تجلس تجد أصدقاء . كيفما تعامل الناس يعاملوك

  1. Disebut Ma Maushul, kadang juga disebut Ma Nakiroh, bila disambung dengan huruf – huruf :

من ـ عن ـ في ـ نِعم ـ سِيَّ

Seperti :

سررت مما فعلت . يأيها الناس كلوا مما في الأرض حلالاً طيبًا.   أولئك لهم نصيب مما كسبوا . أبلغني والدك عما تحتاج إليه . وما الله بغافل عما تعملون  . ولا تتبع أهواءهم عما جاءك من الحق . نسيت فيما أفكر . ليحكم بين الناس فيما اختلفوا . فلا تحاجون فيما ليس لكم به علم . نِعمَّا يعظكم به المعلم    .

Diterangkan dalam sebuah nadlom :

تسَمَّى “ما”موصولةً لأنها #  بمِن فى عن نعمَ سِيّاأمامَهَا

  1. Disebut Ma Nafi, bila bersambung dengan suatu huruf sebelumnya, seperti :

سافر أخوك بحـثًا عن المال فما نفعه المال.  اشتروا الضلالة بالهدى فما ربحت تجارتهم. قاتل معه ربيون كثير فما وهنوا لما أصابهم.

Atau terletak sebelum Muftada’ dan mengamal, seperti amalnya Laisa (khobarnya dibaca nasab), kecuali dimasuki

إلا  sesudahnya, seperti :

ماالحصونُ منيعةً  . ماأنت إلاشاعرٌ

Bila Ma Masdar bersambung dengan lafadz Kulla yang dibaca nasab karena menjadi dzorof, maka bermakna syarat,

seperti :

كلما فاز طالب أُعطي جائزة .كلما نضجت

جلودهم بدلناهم جلودًا غيرها . كلما دخلت أمة

لعنت أختها .

Bila Ma Masdar bersambung dengan :

حين ، رَيْث، قبل , مثلَ.

Seperti :  استمعت إليه حينما ألقى قصيدته

ننتظرك ريثما وصل والدي . وسافرت قبلما وصل أخوك . وأكرمت محمدًا مثلما أكرمني

Diterangkan dalam Nadlom :

كذاك حين رَيْثَ قبلَ مِثلا  #  كحينما ورَيثما وقبلاَ

Bila bersambung dengan satu huruf sebelumnya, seperti :

سلام عليكم بما صبرتم . أحسنوا كما أحسن غيركم . أنؤمن كما آمن السفهاء كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم على الذين

من قبلكم . احترمت زيدًا لما وفى بوعده

  1. Disebut  Ma  Zaidah  ( tambahan ), bila sebelum Ma tersebut

bersambung dengan kalimat fi’il berikut ini :

طال ـ جل ـ قل .

Seperti :

طالما نصحت له وجلما تحدثت معه.وقلما انتفع بعلمه

Diterangkan dalam Nadlom :

وسُمّيتْ زائدةً مُتَّصلاً  #  بِطالَ جَلَّ قَلَّما تَوصُّلاً

  1. Disebut Ma Zaidah (tambahan), bila didahului oleh Inna dan saudara-saudaranya dan setelahnya menjadi Mubtada’, seperti :

إنما المؤمنون إخوة قل يوحى إلىّ أنما إلهكم إله واحد . كأنما القائد أسد . ولعلّما أخوك ناجح.  السلع متوفرة لكنما الأسعار مرتفعة .إنماالعدل أساس الحـكم.

  1. Lafadz Laita yang setelahnya bersambung dengan Ma Zaidah (tambahan), maka bisa beramal separti Inna atau tidak. Contoh yang beramal :

ليتما الغائبُ عائدٌ . ليتما المسافرون قادمو

Kalimat yang terletak setelah Laitama menjadi Mubtada’. Contoh yang tidak beramal :

ليتما الغائبَ عائدٌ . ليتما المسافرِين عائدون .

لبتما محمداً فائزٌ.

Kalimat yang terletak setelah Laitama menjadi isimnya Laita. Diterangkan dalam Nadlom :

فإنها قدعَمِلت وأَهْمَلَتْ # إن وَقَعتْ عَقِبَ لَيتَ اتَّصَلَتْ

  1. Disebut Ma Zaidah, bila sebelumnya bersambung dengan dua huruf jir : Kaf dan Rubba, seperti :

ربما أخ لك لم تلده أمك . ربما يشفع له عمله .

ربما يود الذين كفروا لو كانوا مسلمين

ربمـا صديق أنفع من شقيقٍ

Diterangkan dalam Nadlom :

سبَقَهاالكافُ كذاك رُبَّا # كرُبَّماتَرى الذى قد أَبَّا

  1. Disebut Ma Zaidah, bila sebelumnya bersambung dengan

Dzorof قبل ، بعد ، دون   seperti :

رجوتك الحضور دونماتأخيرٍ. صلِّ قبلماطلع الفجر.

صلّوا الظهرَ بعدماسمعتَ الأذان.

  1. Inna harus dipisah dari Ma, bila Ma tersebut terdiri dari Mausul atau Nakiroh mausuf, seperti :

إن ما تفعله لا يليق بمثلك . أي : الذي ،

أو شيئا تفعله

  1. Disebut Ma Zaidah, bila sebelumnya bersambung dengan

Huruf Syartiyah dan Istifhamiyah “ أي “, seperti :

أيماتعمل فأتقن العمل  .

أيما مهندس اخترع هذه الآلة ؟

  1. Disebut Ma Zaidah, bila sebelumnya bersambung dengan dzorof “ بين”, seperti :

بينما نسير في الطريق صادفنا رجلاً ضريرا

 

  1. Ma Zaidah harus dipisah dari Idza dan Idz, Katsiran dan

lafadz Qolilan seperti :

إذا ما رأيتُ الشجاعَ تأملنى الأسد

إذمايَفجَعـون

كثيراماينفع الصوم على الصحّـة

قليلامايتفكرون

Mengenal Faidah-Faidah La Nafiyah

  1. Bila La bersambung dengan In Syartiyah, maka Nun pada In tersebut di buang dan diganti tasydid untuk meringankan bacaan, seperti :

إلاّ تحضر مبكرًا تعرض نفسك للجزاء . (إنْ لا )

إلاّ تدرس جيدًا فلن يحالفك النجاح .   (إنْ لا )

  1. Bila La bersambung dengan An Masdariyah, maka Nun pada An tersebut di buang dan diganti tasydid untuk meringankan bacaan, seperti :

ينبغي ألاّ تهمل عملك .

يحسن بك ألاّ تسافر وحدك .

  1. Bila ada lam kasroh yang terletak sebelum An dan sesudah An tersebut terdapat La, maka Nun dan Alif-nya dibuang, tinggal Hamzah-nya di tulis antara Lam dan La seraya disambung, karena Hamzah tersebut terletak setelah huruf yang berharkat kasrah, seperti :

نؤدّي الصلاة في أوقاتها لئلا نقصر في حق الله .

كن عالما لئـلا تصيرُ خاسِراَ

  1. La yang terletak setelah An Mufassiroh (menerangkan suatu perbuatan/perkataan sebelumnya) harus dipisah, seperti :

أشرت إليه أن لا تخرج .

وعلمت أن لا يرد الأمانة إلا رجل أمين .

وظنوا أن لا ملجأ من الله إلا إليه .

Isim-Isim Istifham

Istifham ada dua huruf, yaitu Hamzah dan هل . Sedangkan yang terdiri dari isim ada sebelas macam, yaitu :

مَن، مَن ذا، ما، ماذا، متى، أيانَ، أين، أنَّى ، كيف،

كم، أيّ.

Keterengan :

  1. Apabila isim-isim Istifham tersebut di atas di dahului oleh huruf jir, maka dibaca jir, seperti : فبأي ألاء ربكما تكذبان ؟
  2. Apbila isim-isim Istifham tersebut di atas menunjukkan arti waktu (zaman) dan tempat (makan), maka sebagai mahal nasab karena menjadi dzorof, seperti : متى جِئتَ ؟
  3. مَن، مَن ذا، ما، ماذا apabila terletak di depan isim ma’rifat, maka ia menjadi Khobar Muqoddam. Dan apabila terletak di depan Nakiroh, maka ia menjadi Mubtada’, seperti :

مَن فتى ؟  مَن صديقُك ؟

Apabila setelah terdapat fi’il Muta’addi yang maf’ulnya tidak terpenuhi, maka isim istifham tersebut dijadikan maf’ul muqoddam, seperti : من رأيتَ ؟

Apabila terdiri fi’il Lazim, maka isim tersebut menjadi Mubtada’, seperti : من جـاء ؟

  1. Apabila  Kaifa  terletak  di depan  fi’il  tam,  maka  menjadi  Hal,
  2. seperti : كيف جِئتَ ؟ .Apabila terletak di depan fi’il Naqis atau isim, maka menjadi Khobar Muqoddam, seperti : كيف كنتَ ؟
  3. Apabila Kam di I’rob sesuai dengan lafadz yang terletak sesudahnya, seperti :

كم يوما صُمت ؟  (ظرف)  كم كتابا معك ؟ (مبتدأ) كم صحيفةً اشتريتَ ؟ (مفعول مقدم)

  1. Ayyu di I’rob sesuai dengan lafadz yang di Mudhof-kan sesudahnya, seperti :

أيَّ يومٍٍ سافرت ؟ ( ظرف)  أيَّ ؤفاقَك لقيتَ ؟ (مفعول به  مقدم)  أيُّ أصدقائُك أَحَبَّ إليك ؟ (مبتدأ)

 

Mengenal Tanda-Tanda Baca

Tanda-tanda baca dalam bahasa arab yang penulis ketahui ada empat belas macam, sebagai berikut :

  1. Tanda koma ( , ) dalam bahasa arab disebut  الشَّوْلَة
  2. Tanda titil kom ( ; ) dalam bahasa arab disebut المَنقُوطَة
  3. Tanda titik ( . ) dalam bahasa arab disebut النُّقْطَة
  4. Tanda Seru ( ! ) dalam bahasa arab disebut التعجُّبْ
  5. Tanda Titik dua ( : ) dalam bahasa arab disebut النُّقطَتان
  6. Tanda tanya ( ? ) dalam bahasa arab disebut الاستفهام
  7. Tanda kutip ( ’’ ’’ ) dalam bahasa arab disebut التنصيص
  8. Tanda titik koson ( … ) dalam bahasa arab disebut

نُقَطُ الحَذْف

  1. Tanda Permulaan ( – ) dalam bahasa arab disebut الشَّرَطُ
  2. Tanda dua garis permulaan ( – – ) dalam bahasa arab disebut الشرطتان
  3. Tanda dua Kurung ( ) dalam bahasa arab disebut القَوْسَيْن
  4. Garis bawah ( eee ) dalam bahasa arab disebut خطُّ الأسفل
  5. Garis miring ( / ) dalam bahasa arab disebut خطّ المائل
  6. Garis lurus/lintang ( ) dalam bahasa arab disebut  خطّ العرَض

Dan masih banyak tanda-tanda baca yang lain, namun penulis tidak mengetahui secara detail.

Mengenal Harkat – Harkat Pendek dan dan Panjang

Harkat-harkat atau disebut juga dengan baris, ada yang dibaca pendek, seperti harkat Fathah, Dlommah dan Kasroh. Dan ada pula yang dibaca panjang, seperti Alif, Wawu dan Ya’. Contohnya :

1.زُرِعَ         (ضمة كسرة فتحة) .قصير

2.زارع        (الألف) . طويل

3.هموم         (الواو) .  طويل

4.كثير         (الياء) .   طويل

Mengenal Singkatan Istilah-Istilah Dalam Nahwu

Singkata-singkatan istilah dalam Nahwu yang biasa berlaku di Pondok Pesantren Salaf sangat penting diketahui oleh pada pelajar kitab kuning pemula, karena akan memudahkan penulisan arti atau makna setiap kalimat yang ada dalam kitab kuning yang sedang dikaji. Di samping itu sangat mendukung kepada pengetahuan mereka mengenal kedudukan kalimat bahasa arab. Berikut saya tuliskan secara lengkap istilah-istilah itu yang di cuplik dari Diktat bernama: كيفية المعانى بالاختصار oleh Ahmad Hefni Razaq Al Manduri, dan dapat kiranya digunakan demi evisiensi penulisan makna kalimat, sebagai berikut :

RUMUS TEMPATNYA YANG DIMAKSUD BUNYI MAKNANYA
م Di atas kalimat Mubtada’ Adapun
خ ,, Khobar Adalah
فا ,, Fa’il berakal Siapa
ف ,, Fa’il tak berakal Apa
نفا ,, Naibul Fa’il berakal Siapa
نف ,, Naibul Fa’il tak berakal Apa
مف ,, Maf’ul bih Kepada / akan
مع ,, Maf’ul ma’ah Beserta
مل ,, Maf’ul liajlihi Karena
مط ,, Maf’ul Mutlak Dengan
ظز ,, Dzorof zaman Dalam
ظم ,, Dzorof makan Pada
ن/ص ,, Na’at / Sifat Yang
صل ,, Shilah Yang
با ,, Bayan Nyatanya
بد ,, Badal Rupanya
حا ,, Hal Seraya
ش ,, Syartiyah Jika/Kalau
ج ,, Jawab Maka
س ,, Sababiyah Sebab
ع ,, Ta’lil Karena
غ ,, Ghoyah Sekalipun/walaupun
ل ,, Milik Kepunyaan
مظ ,, Masdar dzorof Selama
تم ,, Tamyiz Apanya
مع Dibawah kalimat Mufaddhol ‘Alaihi Ketimbang
ج ,, Jama’ Beberapa
نف ,, Nafi Tidak
نهـ ,, Nahi Jangan
خم ,, Khobar mutlak Adalah maujud
.. ,, Dlomir Sya’en Perbuatan / Sya’en
ي ,, Lam Ibtidak Tentu
مف ,, An Mufassiroh Bahwa
سف ,, La’alla Taukid Supaya
مص ,, Masdar Sekiranya
ص ,, Mushonnif Pengarang
شا ,, Syair Penyair
نا ,, Nadzim Yang menadzomkan
د ,, Do’a Semoga
اي ,, Athof Bayan Artinya / yaitu
اهـ ,, Intaha Selesai
الخ ,, Ila Akhirihi Hingga akhirnya
ص م ,, صلى الله عليه وسلم SAW

 

Penutup

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamien, buku kecil ini saya tulis dengan segenap kemampuan saya, tentunya saya sangat mengharap kepada para pembaca, kiranya menemui kesalahan, baik redaksi maupun substansinya untuk memperbaikinya dan berkenan memberitahukan

kepada saya untuk diadakan perbaikan bersama.

Penulisan buku ini saya rampungkan pada malam hari Raya ‘Iedul Fatri,  Jum’at, 06 Syawal 1430 H / 25 September 2009 M di rumah saya, Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Al Amir, Guluk-Guluk, Sumenep Madura. Semoga bermanfa’at dan menjadi perantara keselamatan saya, keluarga, guru-guru dan semua pembacanya di dunia dan di akhirat. Amin ya Robbal Alamien !

لاَيَنْفِرُ اْلمَرْءُعَنِ اْلخَطَايَا # لاَيَقْدَحُ اللهُ الكريم النَّسْيَا

وَإِنْ تَجِـدْبِنَاقِصٍ فَصَلِّحَا # وَارْفَعْ بِكُلِّ زَلَّـةٍ فَنَقِّـحـَـــــا

وَلَيْسَ اِلْفَاضِلُ مَنْ لاَيَغْلَطْ # يَسْعَى بِتَحْسِيْنٍ وَلاَيُقَرِّطْ

 

Seseorang tidak akan menyimpang dari berbagai kesalahan

Namun Allah SWT tidak mencela sifat-sifat lupa itu.

Jika engkau menemui kekurangan (dalam buku ini )

Berkenanlah kiranya untuk memperbaiki.

Karena bukan orang yang mulia (berilmu) tidak pernah salah

Namun ia berusaha dan tidak enggan berusaha untuk memperbaikinya.

 

Kitab-Kitab Rujukan

 

NAMA PENGARANG NAMA  KITAB
Dr. Ma’sad Muhammad Zayyad

( Kitab referensi pokok )

قاموس الإملاء
Drs. KH. Muhammad Muhsin Amir منظومة سفينة الصلاة
Syekh Muhammad bin Abdul Malik Al Andalusy ألفية ابن مالك
Jurjis ‘Isa al Asmar قاموس الإعـراب
Dr. Fuad Nakmah ملخَّص قـواعد اللغة العربية
As’ad M. Al Kalaly قاموس إندونيسية وعـربية
Prof. H. Mahmud Yunus قاموس العـربية والإندونيسية
Ustadz H. Ahmad Zaini Mudarris فتح الظـروف فى نظم معانى الحروف
Drs. KH. Muhammad Muhsin Amir قاعــدة طـريقـة
Drs. KH. Muhammad Muhsin Amir الدروس اليومية فى الأخـلاق
Ahmad Warson Al Munawwir قاموس المنوِّر
Ahmad Hefni Razaq Al Maduri كيفية المعانى بالاختصار

 

PENGALAMAN PENULIS DALAM MENGAJAR BAHASA ARAB KEPADA SISWA-SISWA MADRASAH ALIYAH (Kendala dan Solusinya)

 

 I.  Pendahuluan

Bahasa Arab termasuk rumpun bahasa asing atau bahasa kedua setelah bahasa Indonesia. Ia salah satu bahasa International, sebagaimana Bahasa Inggris, Belanda, Mandarin dan lain-lainnya.

Bahasa Arab adalah bahasa agama Islam, sekaligus bahasa Internasional yang merupakan salah satu khazanah peradaban dunia klasik dan bahasa asing tertua di dunia. Bahasa Arab identik dengan Islam dan negara-negara Timur Tengah. Karena kuatnya hubungan historis antar keduanya; yaitu lahirnya Islam di Jazirah Arab hingga sampai ke negeri ini dan masih diminatai oleh umat Islam hingga saat ini. Lebih-lebih  kitab suci umat Islam; Al Qur’anul Karim yang di wahyukan oleh Allah SWT pada Rasul-Nya: Muhammad SAW dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, mempelajari dan menguasai bahasa Arab sangat diperlukan dan menjadi kewajiban bagi setiap individu umat muslim, bahkan seorang sasterawan arab: al Hasyimi Biek mengatakan: “Kewajiban belajar bahasa arab bagi umat Islam sama dengan kewajiban menunaikan shalat lima waktu “.

Bahasa Arab, adalah Kalamullah yang termaktub dalam Al Qur’anul Karim sebagai pedoman hidup manusia yang penuh dengan nilai-nilai, spiritual, moral dan kultural secara universal, integral dan komprehensip, sehingga umat islam dapat meningkatkan kualitas iman dan amal shaleh-nya untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang patuh pada  aturan-aturan-Nya. Idealnya, umat Islam mempelajari bahasa arab untuk mencapai kesahihan dalam melakukan ibadah (Hablum Minallah) dan kepatutan dalam mengaplikasikan syari’ah di tengah-tengah masyarakat  (Hablum Minannas).

Di Indonesia, Bahasa Arab masih memperoleh perhatian yang cukup kuat bagi pelajar, khususnya bagi pelajar yang menuntut ilmu pengetahuan agama di lembaga-lembaga pendidikan Islam, seperti Madrasah dan Pondok Pesantren yang banyak berdiri di Indonesia. Hingga saat ini lembaga-lembaga ini masih eksis mengajarkan Bahasa Arab – dalam arti luas – kepada para siswa atau santrinya, walaupun Negara ini tidak memasukkan Bahasa Arab sebagai materi Ujian Nasional. Menurut penulis, padahal Bahasa arab adalah bahasanya umat Islam dan Negara Indonesia mayoritas umat beragama Islam.

Secara politis, pada tahun 1973 bahasa Arab ditetapkan sebagai bahasa internasional oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). dan untuk pertama kalinya pula digunakan sebagai salah satu bahasa diplomasi resmi di forum-forum internasional, sehingga pidato-pidato diplomatik, pembicaraan dan perdebatan di forum PBB sering diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab sejajar dengan bahasa asing lainnya. Pemakaian bahasa Arab sebagai salah satu bahasa resmi dalam forum-forum internasional,  telah menempatkan peran bahasa Arab sebagai salah satu alat komunikasi dalam hubungan diplomasi internasional. Peningkatan peran bahasa Arab yang menjadi salah satu alat komunikasi dalam diplomasi internasional ini didukung oleh semakin besarnya peranan negara-negara Arab dalam dunia perekonomian internasional. Peran ini tentu saja telah menambah dan menjadi daya tarik yang lebih kuat untuk mempelajari Bahasa Arab secara constant.

Bahasa Arab sebagai materi ajar di sekolah-sekolah agama (Madrasah-Madrasah atau Pesantren) di Indonesia tentunya harus diajarkan sebagaimana juga mengajarkan bahasa-bahasa asing lainnya. Artinya, prinsip pembelajarannya harus menggunakan perangkat pembelajaran atau metode pembelajaran yang disusun dan dirancang dengan baik dan terarah, sehingga materi ini dapat diajarkan dengan mudah dan menghasilkan out put dan target sesuai dengan yang diharapkan.

Materi ajar; Bahasa Arab memiliki sub-sub materi yang satu dengan lainnya memiliki bahasan yang sangat jauh berbeda dan dengan tujuan yang berbeda pula. Masing-masing sub materi itu – menurut pengamatan penulis – berorientasi kepada lahirnya pelajar atau anak didik yang memiliki keterampilan atau kemahiran. Keterampilan–keterampilan itu akan dicapai dengan baik, apabila perangkat pembelajarannya lengkap dan dapat dugunakan oleh seorang guru atau tutor yang professional; sesuai dengan kemampuan anak – anak didiknya.

Sub-sub materi Bahasa Arab itu meliputi :

  1. Al Muthola’ah Tujuan belajar sub materi ini adalah supaya anak didik memiliki keterampilan membaca tulisan-tulisan arab yang benar sesuai dengan Kaidah-Kaidah Nahwiyah (grammar Bahasa Arab).
  2. Al Muhadatsah, tujuan belajar sub materi ini adalah supaya anak didik memiliki keterampilan bercakap-cakap dengan Bahasa arab. Tentunya Bahasa Arab Fusha atau Bahasa Arab yang digunakan dalam Al Qur’anul Karim atau Al Hadits.
  3. Attarjamah, tujuan belajar sub materi ini adalah supaya anak didik memiliki keterampilan menerjemahkan teks berbahasa Arab ke dalam bahasa lainnya, bukan sebaliknya.
  4. Al Insya’, tujuan belajar sub materi ini adalah supaya anak didik memiliki keterampilan mengarang atau menyusun kata-kata berbahasa arab, sehingga menjadi suatu kalimah atau susunan berbahasa arab yang benar dan dimengerti.
  5. Al Mufrodat, tujuan belajar sub materi ini adalah supaya anak didik memiliki keterampilan menguasai arti kata perkata / kosa kata Bahasa Arab, sehingga memudahkan dalam mengungkapkan atau menyusun Bahasa Arab yang benar.
  6. Al Imla’, tujuan belajar sub materi ini adalah supaya anak didik memiliki keterampilan menulis arab yang benar sesuai dengan Kaidah-Kaidah Imla’ yang baku.
  7. Al Mahfudzot, tujuan belajar sub materi ini adalah supaya anak didik memiliki keterampilan menghafal ibarat atau ungkapan-ungkapan berbahasa arab dan memahaminya dengan baik
  8. Al Khottul Jamiel, tujan belajar sub materi ini adalah supaya anak didik memiliki keterampilan menulis arab yang bagus dan indah dilihat, yang dikenal dengan istilah Kaligrafi.
  9. Annahwu (tata bahasa arab), tujuan belajar sub materi ini adalah supaya anak didik memiliki keterampilan dibidang membaca teks-teks arab sesuai dengan kaidah-kaidahnya perubahan harkat / baris / syakal diakhir suatu kata, sehingga dalam memahami suatu teks arab tidak salah.
  10. Asshorfu (tata bahasa arab), tujuan belajar sub materi ini adalah supaya anak didik memiliki keterampilan merubah bacaan suatu kata dari bentuk tertentu kepada bentuk lain sesuai dengan aturan yang ditetapkan dalam tata bahasa arab bidang Shorrof ini.

Masing-masing sub materi tersebut di atas diajar oleh seoang guru atau tutor yang profesional, yaitu guru yang mamu mendidik dan membimbing serta memiliki rancangan program pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak didik  dan mampu mengelola kelas untuk mencapai tujuan akhir dari proses pendidikan.

          Sepuluh macam sub materi Bahasa Arab tersebut di atas, mustahil dapat dilakukan hanya oleh seorang guru, karena masing-masing sub materi memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda-beda. Misalnya, sub materi al Muhadatsah berbeda dengan sub materi al Muthola’ah atau Attarjemah. Karena perbedaan tujuan yang ingin dicapai, tentunya dalam proses mengajarnya menggunakan metode atu strategi yang berbeda pula. Untuk itu, dalam rangka mencaai tujuan masing-masing sub materi itu dengan sempurna, maka harus diajar oleh guru yang ahli di masing-masing bidangnya.

  1. Pengalaman Mengajar Bahasa Arab Dan Kendala-Kendala Yang Dihadapi

          Penulis adalah salah satu guru di Madrasah Aliyah Annuqayah di Pondok Pesantren Annuqayah, Desa Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep Madura. Pondok Pesantren Annuqayah salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di Madura dengan jumlah santri atau anak didiknya sebanyak 5000 santri, putera dan puteri. Mereka diasramakan dan menempuh jenjang pendidikan yang berbeda-beda, mulai dari Paud hingga Perguruan Tinggi.

Sejak tahun 1989, penulis telah mengajar di Madrasah Aliyah di Pesantren ini dengan materi yang diampu adalah Bahasa Arab, sub materi Muthola’ah dan Nahwu serta Shorrof. Dalam masa kl. 20 tahun saya mengajar di MA, saya tidak banyak menemukan kendala yang menghambat dalam memberikan pemahaman materi ajar kepada anak didik,  namun lima tahun akhir-akhir ini, tantangan yang dihadapi penulis dalam memberikan pemahaman materi ajar itu mengalami sedikit kendala dan hambatan. Hal ini terjadi – menurut pengamatan penulis – diantara sebab-sebabnya adalah sebagai berikut :

  1. Bahasa Arab dianggap sebagai bahasa yang tidak prospektif
  2. Bahasa Arab sulit dipelajari, mengingat keterkaitannya dengan tata bahasa arab yang sangat kuat, sehingga salah sedikit membaca atau mengungkapkan, maka akan salah pula artinya.
  3. Bahasa Arab bukan materi dalam Ujian Nasional, sehingga mereka menganggap, bahwa belajar Bahasa Arab cukup terbatas pada redaksi-redaksi yang berkaitan dengan ibadah sehari-hari saja, seperti belajar membaca dan menghafal al Fatihah, Surat-surat pendek dalam Al Qur’an dan bacaan-bacaan lain ketika melaksanakan shalat lima waktu. Mereka mengaggap bahwa Bahasa Arab itu terbatas pada bacaan-bacaan dan do’a-do’a dalam shalat saja. Hal ini terjadi, karena mayoritas guru memberi motivasi kepada anak-anak didiknya dengan kata-kata yang sering kita dengar, yaitu: “Bahasa Arab adalah bahasa Al Qur’an, bahasa Allah dan Rasul-Nya, bahasa orang-orang arab dan bahasa orang-orang yang melakukan shalat “.
  4. Bercakap-cakap dengan Bahasa Arab di Negara Indonesia, bukan tempatnya
  5. Banyaknya buku-buku terjemahan dari buku berbahasa arab ke dalam bahasa Indonesia yang memudahkan mereka memahmi isi kandungannya, walaupun sering penulis menemukan terjemahan yang asal-asalan saja, karena motivasi penerjemahnya lebih kuat kepada bisnis atau sekedar ingin supaya namanya dikenal masyarakat.
  6. Lemahnya sumber daya guru dibidang pengetahuan Bahasa Arab dan cara mengajarnya dengan metode yang sistematis dan praktis. Kebanyakan metode yang mereka gunakan adalah metode attasmi’ dan attafhiem (memperdengarkan / memahami) kata-kata yang ada dalam buku materi ajarnya dan memberikan pemahaman isinya) saja. Artinya, para guru itu lebih menekankan pada pemahaman isi dari pada adanya upaya untuk memberikan pembelajaran yang bersifat praktek. Baik praktek mengungkapkan (bercaka-cakap) atau membaca dengan benar.

Dari enam sebab menurunnya semangat anak didik belajar Bahasa Arab, khususnya di Madrasah, tempat penulis mengajar adalah pada poin kedua menempati rangking utama. Maka sejak 5 tahun yang lalu, penulis berusaha semaksimal mungkin untuk membuat kiat atau strategi yang membuat anak-anak didik merasa senang belajar bahasa arab, khususnya materi al Muthola’ah yang ditugaskan kepada penulis.

  • Kiat / Strategi Mengajar Bahasa Arab (Sub Materi Muthola’ah)

Al Muthola’ah adalah sub materi pembelajaran Bahasa Arab yang secara terminology berarti “membaca” dan “memahami”. Sedangkan arti etimologinya adalah ungkaan atau teks berbahasa arab yang harus dibaca dan difahami dengan benar berdasarkan kaidah-kaidah Nahwiyah dan Shorfiyah (grammaer Bahasa Arab).

Sub materi ini tidak lepas dari tata bahasa arab (Nahwu dan Shorrof). Untuk itu, bagi siswa pemula, sebelum belajar sub materi ini harus telah mengenal minimal definisi istilah-istilah yang ada dalam Nahwu dan Shorrof. Misalnya macam-macam kalimat, pengertian I’rob dan macam-macamnya, pengertian jumlah dan jenisnya, bentuk-betuk perubahan kata dan lain-lain. Materi ini berbeda dengan al Muhadatsah (percakapan) yang penekanannya adalah kepada membiasakan mengungkapkan atau menyampaikan kata atau kalimat Bahasa Arab yang tentunya untuk langkah awal tidak terlalu membutuhkan kepada pendalaman tata Bahasa Arab, tapi yang penting banyak menghafal kosa kata dan ibarat-ibarat harian serta cara mengungkakan kepada orang lain. Sementara al Muthola’ah lebih menekankan kepada penguasaan tata Bahasa Arab untuk bisa membaca dan memahami kandungan suatu teks berbahasa Arab sesuai kaidah Nahwiyah.

Sebagaimana diketahui, bahwa Kurikulum Pondok Pesantren, khususnya Pondok Pesantren Salafiyah (kono) lebih ditekankan kepada pemahaman terhadap kitab-kitab kuning atau kitab karya para ulama tempoe doeloe yang tak berharkat atau bersyakal atau tidak berbaris di atas maupun di bawah kalimatnya. Topik pembahasannya mencakup  dalam berbagai bidang pengetahuan agama Islam, sejarah dan lain-lain. Maka, dalam menyusun starategi atau kiat pembelajaran Bahasa Arab itu harus disesuaikan dengan kuruikulum tersebut, sehingga anak-anak didik tidak hanya memiliki keterampilan bercakap-cakap (muhadatsah) saja, tapi juga mampu membaca dan memahami isi kandungan kitab-kitab kuning yang tak berharkat atau berbaris itu dengan baik dan benar. Untuk mencapai maksud itu, maka dalam menyusun strategi atau kiat itu, penulis menggunakan referensi kitab kuning atau istilah lain kitab gundul. Berikut deskripsi kiat atau strategi yang penulis lakukan sebagai tindakan solutif terhadap kendala-kendala dalam pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah Annuqayah yang telah penulis susun dan praktekkan sejak 7 tahun yang lalu dengan hasil yang cukup memuaskan.

Kiat atau strategi yang penulis lakukan ini lebih cenderung kepada perbaikan metode mengajar yang lebih Sistematis, Aplikatif dan Evisien (SAE). Metode ini, penulis beri nama dengan “Musyawarah Kitab Kuning Thoriqoh(MKKT). Atau dikenal dengan sebutan Thoriqoh. Dalam Bahasa Arabnya tertulis طَرِيْقَةْ yang secara bahasa berarti “jalan” atau “metode”.  Sedangkan secara istilah berarti menempuh jalan kecil untuk mencapai jalan yang luas dan lebar. Artinya, dengan metode ini, anak-anak didik dapat menempuh pembelajaran dengan cara bertahap dan sistematis dengan harapan mencapai hasil yang maksimal dalam waktu yang tidak terlalu lama (5 – 6 bulan). Metode ini terbagi kepada dua strategi/kiat. Strategi pertama digunakan untuk anak didik pemula dan yang kedua untuk yang berpengalaman atau kader.

Dalam mengaplikasikan strategi pembelajaran atau metode Thoriqoh untuk pemula lebih cenderung kepada teori (20 : 80), namun tetap pada referensi kitab kuning dalam memberikan contoh-contohnya. Misalnya memberikan contoh tentang I’rab kata atau kalimat yang berkedudkan Mubtada’ atau Khabar , maka bahan contohnya diambil dari buku-buku atau kitab berbahasa arab atau kitab kuning yang menjadi referensi pokok tersebut yang telah diajarkan sebelumnya.

Lain halnya dengan metode Thoriqoh untuk yang berpengalaman atau kader (siswa, mahasiswa, guru, dosen dan lain-lain), tensitasnya lebih kepada praktek dari pada teori (10 : 90), karena mareka telah berpengalaman belajar Nahwu dan Shorrof.

  1. Tahapan pembelajaran Bahasa Arab (Muthola’ah) metode Thoriqoh untuk siswa pemula dapat dilakukan dalam jangka waktu 3 – 4 bulan dengan durasi waktu pertemuan minimal 80 menit  sebagai berikut :
Pertemuan ke Materi

1

Perkenalan

2

Membaca kitab kuning “Fathul Qorieb” diberi makna satu persatu ke dalam bahasa Indonesia. Menerangkan kandungan isinya, sehingga mereka betul-betul mengerti maksudnya. (minimal : 80 menit)

3

Menerangkan pengertian Kalimat dan macam-macamnya, pengertian kalaimat Isim, Fi’il dan Huruf. Pembagian Isim dan jenis-jenisnya (minimal : 80 menit)

4

Lanjutan pertemuan ke 3 : Menenrangkan pengertian Isim Mudzakkar dan Muannats, Nakiroh da Ma’rifah, Isim Ghoiru Shahih Akhir dan Isim Shahih Akhir. (minimal : 80 menit)

5

Lanjutan pertemuan ke 4: Menerangkan pengertian Isim Mufrod, Mutsanna dan Jamak, Isim Jamid dan Musytaq  (minimal : 80 menit)

6

Lanjutan pertemuan ke 5: Menerangkan pengertian Kalimat Fi’il dan macam-macamnya, pengertian fi’il shahih dan mu’tal, Fi’il Mujarrod dan Mazid, Fi’il Madhi, Mudhori’ dan Amar (minimal : 80 menit)

7

Lanjutan pertemuan ke 6 : Menerangkan pengertian Fi’il Lazim dan Muta’addi, Fi’il Jamid, Mutashorrif, Maklum dan Majhul. (minimal : 80 menit)

8

Lanjutan pertemuan ke  7: Menerangkan pengertian Kalimat huruf dan macam-macamnya, Huruf yang bisa masuk pada kalimat Isim, Huruf yang bisa masuk pada kalimat Fi’il dan yang bisa masuk pada kedua-duanya   (minimal : 80 menit)

9

Praktek dan Evaluasi tulis dan lisan.  (minimal : 80 menit)

10

Membaca kitab kuning “Fathul Qorieb” diberi makna satu persatu ke dalam bahasa Indonesia. Menerangkan kandungan isinya, sehingga mereka betul-betul mengerti maksudnya

(minimal : 80 menit)

11

Lanjutan pertemuan ke  10: Menerangkan pengertian Bina’, I’rab, ‘Amil, Mu’rob, Mabni, Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi’liyah serta ciri-cirinya dan macam-macamnya  (minimal : 80 menit)

12

Lanjutan pertemuan ke  11 :Menerangkan pengertian Naibul Fa’il, Kana, Inna dan saudara-saudaranya, La Nafi, Macam-macam Maf’ul   (minimal : 80 menit)

13

Lanjutan pertemuan ke  12: Menerangkan pengertian Syibhul Jumlah, Idhafah, Jar Majrur dan Dzorof serta definisi Na’at, Athof dan macam-macamnya, Badal, Taukid Istitsna, Hal, Tamyiz, Munada dan Syarat  (minimal : 80 menit)

14

Praktek  (minimal : 80 menit)

15

Macam-macam Tashrif, sighot, bina’ dan dhomir-dhomir  (minimal : 80 menit)

16

Praktek dan Evaluasi tulis dan lisan.  (minimal : 80 menit)

 

Catatan

Dalam pelaksanaan praktek untuk anak didik pemula harus bisa menjawab 2 pertanyaan, yaitu:

Apa kalimatnya ? Mengapa dibaca begitu ? dengan bahasa pengantar guru sesuai kesepakatan antar guru dan anak didik; (bahasa Arab atau Bahasa Indonesia)

  1. Tahapan pembelajaran Bahasa Arab (Muthola’ah) metode Thoriqoh untuk peserta didik berpengalaman atau kader dapat dilakukan dalam jangka waktu 5 – 6 bulan  dengan durasi pertemuan minimal  80 menit  sebagai berikut :

Pertemuan ke

 

1

Perkenalan

2

Membaca kitab kuning “Fathul Qorieb” diberi makna satu persatu ke dalam bahasa Indonesia. Menerangkan kandungan isinya, sehingga mereka betul-betul mengerti maksudnya

(minimal : 80 menit)

3

Sekilas menerangkan pengertian Kalimat dan macam-macamnya, pengertian kalaimat Isim, Fi’il dan Huruf. Pembagian Isim dan jenis-jenisnya masing-masing dengan kaidahnya yang dibaca bersama-sama  dengan diulang-ulang. (minimal : 80 menit)

4

Praktek (minimal : 80 menit)
Peserta didik harus bisa menjawab tiga buah pertanyaan, yaitu
1. Apa kalimatnya ?   Mengapa dibaca begitu ?   Bagaimana kaidahnya ?

5

Lanjutan pertemuan ke 3 : Sekilas menenrangkan pengertian Isim Mudzakkar dan Muannats, Nakiroh da Ma’rifah, Isim Ghoiru Shahih Akhir dan Isim Shahih Akhir. (minimal : 80 menit)

6

Praktek (minimal : 80 menit)
Peserta didik harus bisa menjawab tiga buah pertanyaan, yaitu :
1. Apa kalimatnya ?   Mengapa dibaca begitu ?   Bagaimana kaidahnya ?

7

Lanjutan pertemuan ke 4: Sekilas menerangkan pengertian Isim Mufrod, Mutsanna dan Jamak, Isim Jamid dan Musytaq  (minimal : 80 menit)

8

Praktek (minimal : 80 menit)
Peserta didik harus bisa menjawab tiga buah pertanyaan, yaitu
1. Apa kalimatnya ?   Mengapa dibaca begitu ?   Bagaimana kaidahnya ?

9

Seilas enerangkan pengertian Kalimat Fi’il dan macam-macamnya, pengertian fi’il shahih dan mu’tal, Fi’il Mujarrod dan Mazid, Fi’il Madhi, Mudhori’ dan Amar (minimal : 80 menit)

10

Praktek (minimal : 80 menit)
Peserta didik harus bisa menjawab tiga buah pertanyaan, yaitu
1. Apa kalimatnya ?   Mengapa dibaca begitu ?   Bagaimana kaidahnya ?

11

Lanjutan pertemuan ke 9 : Sekilas menerangkan pengertian Fi’il Lazim dan Muta’addi, Fi’il Jamid, Mutashorrif, Maklum dan Majhul. (minimal : 80 menit)

12

Praktek (minimal : 80 menit)
Peserta didik harus bisa menjawab tiga buah pertanyaan, yaitu
1. Apa kalimatnya ?   Mengapa dibaca begitu ?   Bagaimana kaidahnya ?

13

Lanjutan pertemuan ke  11: Sekilas menerangkan pengertian Kalimat huruf dan macam-macamnya, Huruf yang bisa masuk pada kalimat Isim, Huruf yang bisa masuk pada kalimat Fi’il dan yang bisa masuk pada kedua-duanya   (minimal : 80 menit)

14

Praktek (minimal : 80 menit)
Peserta didik harus bisa menjawab tiga buah pertanyaan, yaitu
1. Apa kalimatnya ?   Mengapa dibaca begitu ?   Bagaimana kaidahnya ?

15

Membaca kitab kuning “Fathul Qorieb” diberi makna satu persatu ke dalam bahasa Indonesia. Menerangkan kandungan isinya, sehingga mereka betul-betul mengerti maksudnya

(minimal : 80 menit)

16

Lanjutan pertemuan ke  15: Sekilas menerangkan pengertian Bina’, I’rab, ‘Amil, Mu’rob, Mabni, Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi’liyah serta ciri-cirinya dan macam-macamnya  (minimal : 80 menit)

17

Praktek (minimal : 80 menit)
Peserta didik harus bisa menjawab tiga buah pertanyaan, yaitu
1. Apa kalimatnya ?   Mengapa dibaca begitu ?   Bagaimana kaidahnya ?

18

Lanjutan pertemuan ke 16 :Sekilas menerangkan pengertian Naibul Fa’il, Kana, Inna dan saudara-saudaranya, La Nafi, Macam-macam Maf’ul   (minimal : 80 menit)

19

Praktek (minimal : 80 menit)
Peserta didik harus bisa menjawab tiga buah pertanyaan, yaitu
1. Apa kalimatnya ?   Mengapa dibaca begitu ?   Bagaimana kaidahnya ?

20

Lanjutan pertemuan ke  18: Sekilas menerangkan pengertian Syibhul Jumlah, Idhafah, Jar Majrur dan Dzorof serta definisi Na’at, Athof dan macam-macamnya, Badal, Taukid Istitsna, Hal, Tamyiz, Munada dan Syarat  (minimal : 80 menit)

21

Praktek (minimal : 80 menit)
Peserta didik harus bisa menjawab tiga buah pertanyaan, yaitu
1. Apa kalimatnya ?   Mengapa dibaca begitu ?   Bagaimana kaidahnya ?

 

  1. Out put Yang Diperoleh Dalam Menggunakan Metode Thoriqoh

Setelah beberapa tahun penulis mengupayakan untuk memiliki kiat atau strategi yang sistematis dan aplikatif, maka sejak tahun 2008 yang lalu penulis baru menemukannya dan setelah dilaksanakan dengan serius dan dengan penuh ketekunan – Alhamdulillah – penulis baru merasa sukses mengajar bahasa arab dengan sub materi Muthola’ah (membaca dan memahami), walaupun masih banyak kekeurangan-kekurangannya. Di antaranya, penulis bemlum memilki dana cuku untuk mencetak buku metode tersebut yang terdiri dari 3 exemplar yang harus dimiliki oleh setiap anak didik.

Bukti sukses yang penulis rasakan, setelah diadakan evaluasi berupa praktek secara tertulis maupun lisan. Mereka bisa menjawab tiga pertanyaan tersebut di atas yang disampaikan penguji dengan benar dan lancar bahkan mereka bisa memahami maksud kandungan teks kitab atau buku yang menjadi referensi pokok dalam materi ajar ini. Dan Alhamdulillah, walaupun buku metode ini diperbanyak dengan cara di foto kopi saja, banyak lembaga pendidikan yang berminat mengeterapkannya dan mengadakan diklat cara menggunakan buku metode ini kepada anak-anak didiknya. Salah satu lembaga perguruan tinggi yang telah mengadakan diklat metode Thoriqoh ini adalah Universitas Arraniri, Banda Aceh dan STAIN Sunan Ampel Pamekasan Madura.

  • Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Bahasa Arab (Muthola’ah)

Satuan pendidikan         : MA Annuqayah

Materi Ajar                        : Bahasa Arab (Muthola’ah/Qiroah)

Kelas / Semester             : X / 1

Tema                                 : Kalimat dan Macam-Macamnya

Alokasi Waktu                  : 80 menit

Pertemuan ke                  : 1 (satu)


 

Standar Kompetensi

Mendengarkan, Membaca dan Memahami Teks Berbahasa Arab

Ø Mengenal arti masing-masing kota kata teks

Ø Membaca teks lafadz dan makna

Ø Memahami kandungan isi teks

Kompetensi Dasar

Menjelaskan pengertian kalimat dan bagian-bagiannya :

Indikator

Ø Menerangkan pengertian Kalimat

Ø Menerangkan pengertian Kalimat isim dan tanda-tandanya

Ø Menerangkan pengertian kalimat Fi’il dan macam-macamnya

Ø Menerangkan pengertian kalimat Huruf dan bagiannya

Tujuan

Ø Mampu membaca dan memahami kendungan teks

Ø Mampu menjelaskan nama kalimat dengan alasannya serta kaidahnya (bila perlu)

Materi Pembelajaran

Ø Penjelasan tentang Kalimat

Ø Penjelasan tentang kalimat Isim dan tandanya

Ø Penjelasan tentang Kalimat Fi’il dan tandanya

Ø Penjelasan tentang Kalimat Huruf dan pembagiannya

Metode Pembelajaran

Ø Mendengarkan

Ø Membaca

Ø Memahami

Ø Menjelaskan maksud kandungannya

Ø Menjelaskan hal yang terkait dengan kaidah Nahwiyah

Langkah-Langkah Pembelajaran

Ø Pendahuluan

Mengucapkan salam

Mengatur tempat duduk siswa

Bertanya nama materi ajar

Menulis tanggal hijriyah dan Masehi di papan tulis

Ø Kegiatan Inti

Guru membaca teks secara lafadz (tanpa makna)

Guru membaca teks secara lafadz dan makna satu persatu, sambil menjelaskan isi kandungan teks setiap pharase

Guru menjelaskan kaidah-kaidah yang berhubungan dengan kalimat Isim, Fi’il dan Huruf dengan merujuk ada teks

Menyimpulkan

Ø Penutup.

Sumber dan Media pembelajaran

Ø Kitab Fathul Qorieb

Ø Kitab Kaidah Thoriqoh

Ø Lain-lain.

Evaluasi dan Praktek

Ø Siswa disuruh membaca, memberi penjelasan isi kandungan teks dan menunjukkan kata atau kalimat yang berkedudukan sebagai kalimat isim, Fi’il dan Huruf dengan menyebutkan tanda-tandanya secara sempurna dan di ikuti dengan ungkapan kaidah-kaidahnya, bila perlu

Penutup

Ø Guru memberi waktu bertanya kepada para siswa tentang teks yang diajarkan

Ø Guru menyampaikan pesan-pesan atau perintah

Ø Mengucapkan do’a bersama-sama dan mengucapkan salam.

Catatan:

Bahasa pengantar guru  sesuai kesepakatan antar guru dan anak didik, apakah menggunakan Bahasa arab atau Bahasa Inggris. 

 

              Sumenep, 31 Oktober 2015

Kepala Madrasah Aliyah                                        Guru Pengampu,

Annuqayah,

 

 

………………………………..                          ……………………………………………

 

  • Penutup

Demikian artikel ini saya tulis dalam rangka ikut berartisasi dalam Lomba Guru dengan tema: Berani Menginspirasi 2015 “Cara Kreatifku Mengajar”. Semoga artikel yang sangat sederhana ini kiranya memenuhi syarat sebagai bagian dari peserta lomba dan tentunya saya siap mempresentasikannya, bila dianggap perlu. Terima kasih.

Email                              : muhsinamir14@gmail.com

Website                           : http://www.alamirfoundations.wordpress.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NO JUDUL  KITAB / BUKU DITULIS  TAHUN
1 مفتاح السعادة

Kunci Bahagia Suami Isteri

1423 H / 2003 M
2 العربية السهلة للمتوسطة

Bahasa Arab Mudah : Untuk Siswa MTs.

1428 H / 2007 M
3 رسالة تفسير سورة الفـاتحة

Risalah Tafsir Surat Al Fatihah

1429 H / 2008 M
4 التصريف للإبتدائـية

Ilmu Shorrof: Untuk Siswa MI

1429 H / 2008 M
5 حكايات اللطيفة لبعض سلوك عباد الله الصالحين

Hikayat Orang-Orang Salih

1429 H / 2008 M
6 لب العقيدة شرح منظومة الرسالة

Lubbul ‘Aqidah: Syarah Nadzoman Arrisalah

1428  H / 2007 H
7 التعليقات السنية على الأربعين الزينية

Mengomentari 40 Hadits Azzainiyah

1414 H / 1993 M
8 رسالة فى أوزان البحور فى علم العروض

Wazan-Wazan Bahar Dalam  Ilmu ‘Arudl

1428 H / 2007 M
9 الأوراد اللطيفة لحضرة الشيخ الحاج محمد عامر بن إلياس

Kumpulan Wirid KH. Moh. Amir Ilyas

1419 H / 1998 M
10 لغتـنا اليـومـية

Bahasa Arfab Harian

1425 H / 2004 M
11 طـريقـة صـرفـية

Shorrof Metode Thoriqoh

1428 H / 2007 M
12 نظـم معـانى الحـروف

Nadzoman Faedah-Faedah Huruf Arab

1428 H / 2007 M
13 قـاعـدة طـريقـة

Kaidah Bahasa Arab Metode Thoriqoh

1428 H / 2007 M
14 تزويد المفردات والعبارات العربية للمتقدمة

للدور الأول والثانى

Pengembangan Pengetahuan Kosa Kata dan Ungkapan Bahasa Arab : Untuk Siswa

Menengah Atas

 

1427 H / 2006 M

15 دروس المحفوظات والإمـلاء  للابتدائية للدور الأول

Pelajaran Mahfudzot dan Dekti: Untuk siswa MI

1427 H / 2006 M
16 دروس الاستماع والمطالعة والمحادثـة للمتقدمة للدور الأول

Pelajaran Mendengar, Memahami dan bercakap-cakap Dengan Bahasa Arab: Untuk Siswa Menengah Atas

1427 H / 2006 M
 

17

 

درو س الاستماع للمتوسطة للدور الأول

Pelajaran Mendengar Ungkapan Bahasa Arab:

Untuk Siswa Menengah Pertama

 

1427 H / 2006 M

18 دروس الاستماع والمطالعة للمتوسطة للدور الثانى

Pelajaran Mendengarkan dan Memahami Ungkapan Bahasa Arab Untuk Siswa

Menengah Pertama

1427 H / 2006 M
19 دروس المحادثة للدورللمتوسطة  الأول والثانى

Pelajaran Bercakap-Cakap Dengan Bahasa Arab:

Untuk Siswa Menengah Pertama

1427 H / 2006 M
20 دروس الاستماع والمطالعة  للمتقدمة للدور الثانى

Pelajaran Mendengarkan dan Memahami Ungkapan Bahasa Arab:Untuk Siswa

Menengah Atas

1427 H / 2006 M
21 دروس المحادثة للمتقدمة للدور الثانى

Pelajaran Bercakap-Cakap Dengan Bahasa Arab

Untuk Siswa Kelas Menengah Atas

1427 H / 2006 M
22 قاعدة طريقة فى نظم الأجرومية باإندونيسية للمبتدئين

Kaidah Nadzom Jurmiyah Berbahasa Indonesia

Metode Thoriqoh : Untuk Pemula

1429 H / 2008 M
23 العبارات الغرامـيّة

Ungkapan-Ungkpan Bahasa Arab Percintaan

—-
24 رسالة الإمام الشافعى

Rislah Imam Syafi’ie

1427 H / 2006 M
24 نظم المقياس والمكيال

Nadzoman Nama-Nama Ukuran dan Takaran

1429 H / 2008 M
25 الحبّ يعمـَى

Cinta Buta

1421 H / 2000 M
26 نور الغـرّة بخصائص يوم الجمعـة

Nurul Ghurroh: Tentang Keistimewaan

Hari Jum’at

1414 H / 1993 M
27 التعريفات فى النحو والصرف

Definisi Istilah-Istilah Dalam Nahwu dan Shorrof

1428 H / 2007 M
28 Terjemah Kumpulan Syi’ir-Syi’ir Imam Syafi’ie 1427 H / 2006 M
29 Terjemah Khutbah Jum’at KH. Moh. Ilyas 1427 H / 2006 M
30 Terjemah kitab Ushfuriyah 1426 H / 2005 M
31 Musyawarah Kitab Kuning Thoriqoh 1428 H / 2007 M
32 Sekilas Tentang Pon. Pes. Annuqayah Dan Tanya Jawab Tentang Kitab Thoriqoh

(Presentasi disampaikan di STAIN Pamekasan)

1428 H / 2007 M
33 Teknik Mengajar Bahasa Arab Praktis 1416 M / 1995 M
34 Tokoh-Tokoh Ilmu Pengetahuan Pada Masa Kejayaaan Islam
35 Kumpulan Do’a Dan Istighotsah 1428 H / 2007 M
36 Teknis Praktis Menerjemah Bahasa Asing

(Arab dan Inggris)

1424 H / 2003 M
37 Tanya Jawab Kaidah Nahwu Jurumiyah 1429 H / 2008 M
38 Kurikulum Bahasa Arab Biro Pengembangan Bahasa Asing Pondok Pesantren Annuqayah 1427 H / 2006 M
39 Kenestapaan (kumpulan Puisi) 1416 H / 1990 M
40 ترجمـة حياة علماء الصالحين الفخّام

Riwayat Hidup Pembesar Ulama

1428 H / 2007 M
41 Kamus Fathul Qoriebil Mujieb (belum di edit) 1428 H / 2007 M
42 منظومة حياة الشيخ محمد إلياس بن شرقاوى بن صادق رامو القدسى المدورى

Nadzom Silsilah KH. Moh. Ilyas bin Assyarqowi

 

1429 H / 2008 M

43 العربية السهلة الإبتدائيـة

Bahasa Arab Mudah: Untuk Siswa MI

1428 H / 2007 M
45 مَـوجة حُـزنٍ     Gelombang Duka 1429 H / 2008 M
46 فقـه العبادة شرح منظومة الرسالة

Fiqh Ibadah: Syarah Nadzoman Arrisalah

1430 H / 2009 M
47 دروس اليومية فى الأخـلاق

Pelajaran Harian Ilmu Akhlak

1430 H / 2009 M
48 متن الحـكم

Matan Kitab AL Hikam

1430 H / 2009 M
49 Terjemah Ushul Fiqh  AL LUMA’  (jilid 1 ) 1430 H / 2009 M
50 Diktat Ilmu Balaghoh 1419 H / 1999 M
51 Syarah Balaghoh ”Jawahirul Maknun” ditulis di Makkah Al Mukarromah 1993 M
52 Cerita-Cerita Lucu AL FUKAHAH 2003 M
53 Diktat Pembelajaran Kosa Kata dan

Langkah-Langkah Mengajarnya

2001 M
54 Diktat : Skema Ilmu Tajwid 2007 M
55 Rumus-Rumus Penulisan Kalimat Arab (Imla’) 2008 M
56 Terjemah Nadzom Silsilah Ibunda Tsaminah bint. Jauhari Guluk-Guluk 2014 M
57 الفوائد الغـرائب وبدائع الشهور 1346 H / 2014 M
Dan lain-lain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Riwayat Hidup Hadrostis Syekh KH. Moh. Khazin bin Ilyas bin Muhammad Asayarqawi

Moh. Khazin bsin Ilyas bin Muhammad Assyarqawi adalah perintis pertama kelembagaan formal di lingkungan PP Annuqayah. Oleh beliau sejak sekitar tahun 1940an sistem lembaga pendidikan dibentuk secara klasikal yaitu berupa pembagian kelas berjenjang sesuai dengan perkembangan dan kemampuan akademik peserta didik,yang sebelum itu, sistem pendidikan pesantren benar-benar masih berkembang dan masih mengikuti pola kuno sebagaimana pernah dipraktekkan para wali sanga tujuh ratus tahun yang lampau .

Sistem klasikal yang didirikan oleh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi merupakan sistem yang ditiru dari pondok pesantren Tebuireng yang terlebih dahulu telah memasukkan kelas-kelas, meniru sistem pendidikan Belanda. Pemikiran ini merupakan pemikiran sangat maju bahkan cenderung radikal[53] pada masa itu sehingga banyak penentangan yang diberikan oleh masyarakat  Guluk-guluk dan sekitarnya. Berkat ketekunan dan dukungan dari orang tua (KH. Moh. Ilyas Syarqawi) serta saudara-saudara beliau, pemikiran yang ditelurkannya itu akhirnya terus menjadi rujukan dan bahkan menjadi satu ikon penting bagi perkembangan PP Annuqayah hingga kini.

Tak dapat dipungkiri bahwa pemikiran KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi tentang arti pentingnya lembaga pendidikan dan kependidikan Islam memang menghujam mendalam dijangtung Annuqayah. Beliau yang berumur pendek (sekitar 32 tahun) tidak menghalangi untuk berkontribusi terhadap Annuqayah. Rintisannya  membentuk kelas klasikal adalah bukti bahwa umur yang sangat muda itu harus benar-benar dimaksimalkan dalam perjuangan ini.

Riwayat beliau yang pendek itu diselimuti kenangan amat indah, seindah bunga mawar merekah di pagi hari yang cerah. Sungguh mempesona! Beliau lahir 19 Mei[54] tahun 1916 dari ayah bernama KH. Moh. Ilyas bin Syarqawi al-Qudusi dan ibu bernama Arfiyah pendidikan dasarnya ditempuh di bawah pengasuhan sang ayah sendiri,  kemudian dilanjutkan ke pondok pesantren Tebuireng di bawah pengasuh KH. Hasyim Asy’ari. Tak lama beliau mondok di Tebuireng, lalu beliau bergabung kepada laskar pejuang rakyat yaitu Hizbullah. Di kelompok pejuang inilah kepeloporan dan kepemimpinan beliau semakin terasah. Hingga kemudian beliau diserahi komandan pejuang untuk daerah Sumenep oleh pimpinan Hizbullah Surabaya.

Di sela-sela sebagai pejuang pengusir penjajah Belanda, beliau juga menyempatkan diri membangun sistem pendidikan modern yang ia bagi secara klasikal. Rantai sistem pendidikan di lembaga Annuqayah tersebut kemudian berlanjut di bawah Mahfudh Husaini dan Amir Ilyas, Hashim Ilyas, dan Waris Ilyas. Kini, buah rintisan KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi dapat kita rasakan manfaatnya. Sungguh luar biasa jasa beliau pada lembaga pendidikan Islam, lebih-lebih di tanah Madura ini.

Mengingat umur beliau dalam mendirikan sistem pendidikan amatlah muda, sekitar 16 tahun[55], atau 17 tahun[56], maka ada sesuatu yang menakjubkan yang ada di diri beliau. Rekeman jejak langkah KH. Kkazin Ilyas Syarqawi dari ingatan yang lamat dan mulai pudar pada saudara-saudara beliau yang masih hidup, yang saat ini pun telah berumur udhur, sungguh mencerminkan pribadi besar dan cita-cita besar demi kemajuan umat ini.

Digambarkan oleh KH. Warist Ilyas, bahwa secara fisik KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi mempunyai tubuh kekar dan relatif tinggi[57], dengan raut wajah oval, beralis tebal dan bentuk dagu atau graham yang kokoh, dipadu oleh rambut yang sedikit bergelombang tetapi tidak menjurus ikal/kriting. Bentuk fisik itu kemudian dilengkapi oleh kulit yang kuning, menampakkan secara dhahir potongan fisik pemimpin yang kerkerakter kuat. Lebih lanjut dikatakan oleh beliau, saudara-sudara yang lain tidak ada yang mempunyai bentuk fisik yang mirip dengannya, kecuali sedikit pada Nyaih Syifa Ilyas.

Dari lahir sampai umur remaja KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi berada dalam didikan keluarga besar KH. Moh. Ilyas. KH. Ilyas-lah yang pertama kali memberikan bekal pengetahuan agama. Sekitar umur 12 tahun, KH. Khazin diberangkatkan keseberang pulau Madura. Wilayah Madura dan Jawa pada umumnya, pada tahun 1928-an bukanlah tempat yang bersahabat bagi manusia. Di kedua daratan ini masih dipenuhi manusia blater dan bajingan tengik, disamping diaral-lintangi oleh binatang-binatang buas dan sesekali gangguan dari kompeni Belanda. Lengkaplah penderitaan menuntut ilmu pada waktu itu. Tetapi dengan bekal seadanya[58], KH. Khazin tetap diberangkatkan dengan menumpang kereta api jalur selatan Madura[59] dari Prenduan sampai di Kamal. Kemudian beliau menyeberangi selat Madura dengan kapal Tongkang ke Tanjung Perak.

Suasana Surabaya tempo dulu memang relatif cukup ramai, sebab kota ini merupkan kota terbesar Hindia-Belanda nomer dua  setelah Batavia. Wajarlah jika fasilitas transpormasi menghubungkan berbagai tempat di nusantara relatif sedikit baik daripada yang ada di pulau  Madura. Dan jarak antara Surabaya – Jombang tetaplah jarak yang sangat sunnyi, sebab satu-satunnya alat transpormasi yang dapat menghubungi ke dua tempat itu hanya dengan kreta api. Maka jadilah kereta api waktu itu raja jalanan tanah Jawa. Perlu diketahui juga bahwa alat transpormasi kala itu mengenal dua bentuk, yaitu Kapal laut dan Kereta api. Mobil hanya buat orang kulit putih Eropa.

Sesampainya di Tebuireng, KH. Khazin langsung diterima sebagai santri. Menurut penuturan KH. Muchid Muzadi[60], KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi termasuk santri yang pandai dan cepat meyerap ilmu yang disampaikan oleh KH. Abdul Wahid Hasyim. Sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk menguasai disiplin ilmu yang ada di PP Tebuireng.

Sekitar empat tahun belajar di PP Tebuireng, KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi kembali ke tanah kering Madura. Melihat perkembangan ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi sedemikian bagus, maka KH. Moh. Ilyas secara langsung mendedikasikan kemampuan putranya dengan mengangkatnya sebagai tenaga pedidik di lingkungan pondok Gulukguluk. Kesempatan lipahan amanah ini tak disia-siakan, kemudian berbagai terobosan baru guna meningkatkan derajat pondok pesantren beliau lakukan dengan cara-cara modern dan terorganisir secara rapih. Pertama;  beliau mengganti nama pondok Gulukguluk menjadi pondok pesantren Annuqayah, kedua; membentuk madrasah secara klasikal sebagaimana di PP Tebuireng, ketiga; membuat kepenguruan santri atau organisasi santri, keempat; mengadakan pelatihan kepanduan, kelima; mengadakan perbaikan air bersih dan sehat dengan cara jambanisasi yang baik[61].

Tahun 1933 KH. selang satu tahun setelah beliau pulang mondok, mendirikan sekolah yang benar-benar modern[62]. Tak sedikit tantangan menerpa beliau, tapi berbekal kayakinan dan tabah madrasah ini terus disempurnakan. Sepuluh tahun KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi membina sekolah ini, sampai  tahun 1943 beliau bergabung dengan pelatihan meliter dan menjadi bagian dari pejuang-pejuang menyongsong kemerdekaan Republik Indonesia. Ternyata ajang revolusi fisik benar-benar menyeta pikiran dan tenaga, beliau tak sempat lagi menelorkan pemikiran pendidikannya di Annuqayah disebabkan kesibukannya berjuang dengan balatentara Jepang.

Tahun 1945 Jepang menyerah kalah tanpa syarat pada sekutu. Kesempatan emas dapat diraih untuk mewujudkan kemerdekaan NKRI, tapi sisa-sisa balatentara Jepang yang kalah perang di Pasifik ternyata menghalangi niat terebut. Kontak senjata antara para pejuang dengan balatentara itu terus berlangsung di seluruh tanah air. KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawisebagai komandan pasukan Hizbullah juga tak luput dari situasi ini. Beliau dengan anak buahnya mengambil bagian dalam Pertempuran Surabaya, sebelum 10 November 1945.

Melihat situasi kian mencekam, Soekarno segera bertindak. Atas desakan golongan muda di Jakarta yang dipelopori Chairus Shaleh, Sayuti Malik, Sutan Syahrir dan lima nama lainnya[63], Soekarno didesak segera mengumandangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Maka tepat 17 Ramadhan hari Jumat, bertepatan 17 Agustus 1945 atas nama bangsa Indonesia Soekarno dan Mohammad Hatta meproklamirkan negera kesatuan republik Indoneia (NKRI).

Angin segar kemerdekaan berhembus keseantero nusantara dan dunia. Termasuk juga segera informasi ini diterima KH. Khazin dan seluruh pejuang kemerdekan Jawa Timur. Tapi tidak dinyana, angin segar itu berubah menjadi angin ribut yang sungguh diluar dugaan para pejuang. Tanggal 15 Oktober 1945, dua bulan sejak teks proklamasi dikumandangkan, datanglah Brigade 49 di bawah pimpinan Brigjend. A.W.S. Mallaby dan mendarat di Surabaya. Brigade ini adalah bagian dari Divisi Gurkha India ke-23, di bawah pimpinan Jenderal D.C. Hawthorn. Mereka mendapat tugas dari panglima AFNEI untuk melucuti tentara Jepang dan menyelamatkan para tawanan perang sekutu. Kedatangan mereka diterima dengan baik oleh pemerinntahan Jawa Timur yang dipimpin oleh Suryo. Kemudian pihak Indonesia mempersilakan pasukan sekutu itu memasuki kota Surabaya dengan aman sesuai dengan syarat-syarat yang telah disepakati.

Perkembangan selanjutnya ternyata sekutu mengingkari kesepakatan itu. Tanggal 26 Oktober 1945 satu peleton dari Field Security Section di bawah kapten Shaw, melakukan penyergapan di penjara Kalisosok dengan dalih mau membebaskan seorang kolonel angkatan laut Belanda. Tindakan ceroboh sekutu terus berlanjut, tanggal 27 Oktober 1956 sekutu menduduki Pangkalan Udara Tanjung Perak sambil menyebarkan pamplet yang berisi perintah agar rakyat Surabaya dan Jawa Timur umummya menyerahkan senjata-senjata yang dirampas dari Jepang. Saat itulah, Jawa Timur, khusunya Surabaya membara. Puncak membaranya kontak senjata ini terjadi pada tanggal 10 November 1945.[64] Inilah perang terbesar yang terjadi di negara kita sehingga pertempuran itu dijadikan Hari Pahlawan.

Situasi kalanjutan dari perang fisik ini, walau telah selesainya pertempuran 10 November 1945, ternyata tidak langsung juga selesai. Peristiwa ini awal dari perang Kemerdekaan NKRI. Dan Belanda kembali lagi menancapkan kekuasaannya di bumi pertiwi ini. Rentetan-rentetan peristiwa itu memaksa KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi dan anak buahnya yang tergabung dengan Hizbullah mengungsi ke PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus Situbondo. Pondok ini oleh Belanda memang dijadikan daerah istimewa keagamaan yang tidak boleh dimasuki tentara Belanda. Pengungsian ini terjadi pada tahun 1946[65].

Kisah menarik waktu mengungsi di Situbondo adalah kegiatan yang KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi lakukan, yaitu merintis lembaga pendidikan sistem klasikal yang waktu itu di PP Sukorejo belum ada[66]. Beribu kredit point kembali kita haturkan pada KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi, sebab jasa pemikiran pendidikannya tak hanya berhasil membuat nama Annuqayah bergaung ke seluruh dunia, tetapi juga dapat membantu PP Sukorejo dalam mendirikan sistem pendidikan modern, dimana kelak, PP Sukorejo ini menjadi pondok terbesar di Indonesia.

Sementara itu, PP Annuqayah yang beliau tinggalkan mengungsi lagi disatroni pasukan meliter Belanda. Belanda mencari sisa-sisa pejuang Hizbullah yang bersembunyi di Gulukguluk yang tak ikut mengungsi ke Situbondo. Puncak dari penytronan pasukan Belanda ini adalah terjadi pada tahun 1947 tatkala KH. Abdullah Sajjad di tembak mati di lapangan Gulukguluk. Kejadian ini bagaikan halilintar di siang hari waktu informasinya sampai di telinga KH. Moh. Khazin Ilyas. Mendengar sang mertua mati syahid[67], bergegas beliau bersama sang istri dan dua putranya, Tsabit dan Waqid, pulang dengan melewati selat Madura melalui Besuki ke arah Talang atau Aengapanas[68]. Kepulangan beliau ke Gulukguluk ternyata penutup akhir riwayat beliau, sebab tak seberapa lama dari syahidnya sang mertua, KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 05 Dzulhijjah 1362 H, bertepatan dengan 10 Juni 1948[69]. Dengan dishalatkan di bawah imam ayahanda sendiri, KH. Moh. Ilyas Syarqawi dengan diikuti ratusan santri, beliau diantar ke pembaringan terakhirnya di pemakaman selatan berdekatan dengan sang mertua yang terlebih dahulu syahid menemui Tuhan Maha Azali. Umur beliau kala wafat adalah 32 tahun Miladiyah atau 33,5 tahun dalam tahun Hijriyah. Allahummaghfirlahu War Hamhu Wa’afi’I  Wa’fuanhu, amin ya mujiussa’iliin.

  1. Pemikiran KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi Tentang Pendidikan Islam

Hal paling urgen dari laporan ini adalah pemikiran KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi dalam bidang pendidikan. Dikatakan urgen sebab bermula dari pemikiran ini kemudian diwujudkan dalam bentuk lembaga yang gemanya terus berkumandang hingga detik ini. Hal ini sungguh luar biasa bagaimana kokohnya pemikiran beliau tentang masa depan pendidikan generasi muslim sehingga bisa menyemarakkan alam ini dengan Islam yang rahmatalli’alamin. Menurut hemat penulis, tanpa kehadiran sosok beliau mungkin PP Annuqayah tak akan ada, karena tidak ditemukannya nama ini, atau lebih halusnya, tanpa lahirnya sosok KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi maka Annuqayah sampai setakat ini tak akan lahir lembaga pendidikan berbentuk klasikal. Mengapa penulis berani berargumen demikian? Alasannya adalah dengan munculnya pemikiran luar biasa ini Annuqayah selangkah demi selangkah dapat menengok dunia luar, yaitu dunianya para penjajah yang kafir. Sehingga dengan didapatkannya ilmu pendidikan modern ini Annuqayah bisa menyeimbangkan pemikiran antara Ukhrawi dan Duniawi. Dan disinilah ad-Dien al-Islam diturunkan, dan demikianlah fungsi-fungsinya yang tak membeda-bedakan akan hakikat ilmu. Semua ilmu berhulu pada Islam. Tak ada ilmu agama, dan tak ada pula ilmu umum. Inilah setitik kesimpulan dari kuantum pemikiran KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi yang secara lebih tajam penulis akan bahas.

Filosofi pemikiran pendidikan beliau[70] bersumber pada pembacaannya yang mendalam atas kitab Mandhūmat al-Nuqāyah karya Iman Asy-Syuyuti.[71] Dalam kitab ini ada empat belas faann (disiplin ilmu), yaitu : ‘Ilm Ushūlu al-Dīn, ‘Ilmu al­Tafsīr, ‘Ilmu al­Hadīts, ‘Ilm Ushūl al­Fiqh, ‘Ilmu al­Farā’idh (ilmu distribusi harta waris), ‘Ilmu al­Nahwi (ilmu tata bahasa),  ‘Ilmu al­Tashrīf (ilmu konjugasi), ‘Ilmu al­Khath (ilmu kaligrafi),  ‘Ilmu al­Ma’ānī, ‘Ilmu al­Bayān (keduanya adalah ilmu retorika),  ‘Ilmu al­Badī’ (ilmu tentang teori metafor), ‘Ilmu al­Tasyrīh (ilmu anatomi; ilmu urai), ‘Ilmu al­Thibb (ilmu kedokteran; pengobatan)dan ‘Ilmu al­Tashawwuf. Kitab ini beliau dapatkan waktu mondok di Tebuireng dan benar-benar marasuki jiwa dan tindak-tanduk pemikirannya tentang macam-macam ilmu yang harus diwujukan melalui dunia pendidikan cetusannya kelak.

Keempat belas cabang ilmu pengetahuan di atas bila penulis urai lagi adalah sebagai berikut :

  1. Ilmu Ushul al-Dien.

Secara bahasa, ushuluddin berarti ilmu pokok-pokok agama. Dalam ilmu ini hal-hal yang dibicarakan adalah :

  1. Kepercayaan  (I’itiqat)  yang bertalian dengan ketuhanan (ilahiyat)
  2. Kepercayaan yang bertalian dengan Kenabian  (nubuwaat)
  3. Kepercayaan yang bertalian dengan soal-soal yang qhaib (hari akhirat, syurga,  neraka, dan lain-lain).
  4. Dan lain-lain soal keparcayaan.

Ilmu Ushuluddin kadang-kadang dinamai ilmu kalam, ya’ni kalam Tuhan karna dalam ilmu ini banyak dibicarakan sifat-sifat Tuhan, di antaranya sifat kalam (berkata). Ulama-ulama dan ahli-ahli ilmu kalam dinamai Mutakallimum atau Mutakallimin.Ada juga orang menamai ilmu ini dengan ilmu Tauhid, ya’ni Ilmu ke-Esaan Tuhan karna yang banyak dibicarakan dalam ilmu ini ialah tentang ke-Esaan Tuhan.

Ada juga yang menamai dengan ilmu ‘Aqaid,ya’ni ilmu I’iktiqad karna banyak dibicarakan dalam ilmu ini ialah soal-soal i’itiqad  (kepercayaan). Pendeknya perkataan-perkataan Ilmu Ushuluddin, Ilmu kalam, Ilmu Tauhid, Ilmu  ‘Aqaid, ilmu sifat Duapuluh, sama artinya yaitu ilmu yang dibicarakan  dida di dalamnya soal-soal  i’itiqat (kepercayaan tentang Ketuhanan, Kenabian, Keakhiratan). Kesimpulannya dapat ditegaskan bahwa Ushuluddin ialah i’itiqad-I’itiqat dan furu’ syariat ialah ibadah-ibadah yang lahir.

  1. Ilmu Tafsir

Ilmu ini bertujuan untuk menerangkan firman Allah SWT dalam al-Qur’an, terutama firman Allah SWT yang berkaitan dengan hukum-hukum Syari’ah, hukum-hukum Mu’amalah, hukum-hukum yang bersifat keduniawian. Tapi ada kalanya ilmu tafsir membahas juga masalah-masalah yang menyangkut akidah dan kegaiban lainnya.

Ilmu ini terus berkembang mengikuti perkembangan manusia. Oleh karenanya ilmu ini secara kontekstual selalu hangat dibicarakan. Makanya dalam perkembangan kekinian tafsir-tafsir al-Qur’an selalu terbit dalam kajian kontemporer. Kaitan dengan pemikiran KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawinyata sekali titik temunya, yaitu pada kurikulum yang dianut di lembaga Annuqayah, pasti selalu menyertakan ilmu ini dalam tiap-tiap jenjangnya.

  1. Ilmu Hadis

Ilmu ini juga dikenal istilah Ash-Shunnah, yaitu perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi Muhammad SAW dalam masa-masa hidup di Makkah atau Madinah serta tempat-tempat lainnya. Ilmu ini menyangkut dua obyek kajian, yaitu ilmu Hadist Riwayat dan ilmu Hadist Dirayah[72].

Ilmu Hadist dalam epistemologi pemikiran pendidikan KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawimempunyai tempat yang istimewa. Ilmu ini mempunyai peran sangat sentral dalam masalah akidah dan syari’ah, sebab hal-hal yang tak dijelaskan secara terinci dalam al-Qur’an akan dijelaskan oleh Sunah Nabi SAW. Oleh sebab itu, Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah yang beliau dirikan mempunyai silabi yang mencantumkan ilmu Hadist sebagai muataan inti.[73]

Kiranya cukup membanggakan bahwa hasil pemikiran ini terus dipertahankan hingga kini dalam setiap satuan pendidikan di PP Annuqayah. Ini berarti manfaat jasa pikiran pendidikan KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawiakan selalu bertahan di kenang sepanjang zaman.

  1. Ilmu Ushul Fiqih

Ilmu ini adalah dasar pengambilan istimbath hukum dari al-Qur’an dan Hadist dengan cara memberikan rumusan, analogi, dan validitas hukum tersebut. Orang pertama kali membikin ilmu ini menjadi ilmu tersendiri adalah Mohammad bin Idris asy-Syafi’ei, lahir di Gaza Palastine, wafar di Kairo Mesir.

Ilmu ini menjadi tulang punggung dalam membekali keilmuwan santri di PP Annuqayah dari semenjak berdiri hingga kini. Ushul Fiqih menjadi mata pelajaran wajib di kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah kelas Tsani dan Tsalits[74]. Hingga sekarang, ilmu ini tetap menjadi mata pelajaran di tingkat Aliyah dan Perguruan Tinggi INSTIKA.

  1. Ilmu Faraidh

Ilmu ini kini diajarkan di tingkat MTs dan MA. Ilmu ini bagian dari ilmu Fiqih tetapi mempunyai peranan sentral dalam bermu’amalah, terutama masalah hitungan waris-mewaris. Ilmu Faraidh adalah cerminan rasa keadilan dalam Islam sebab dengan menggunakannya secara tepat akan menghilangkan syak prasangka dalam membagi harta peninggalan orang tua kita secara adil.

  1. Ilmu Nahwu

Suatu ilmu yang sangat sulit bagi sebagian santri, tapi mempunyai peran pokok dalam memahami bahasa Arab yang merupakan bahasa al-Qur’an dan Hadist. Oleh sebab itulah KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawimeletakkan ilmu ini dalam silabus Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah dari jenjang dasar agar para santri diharapkann dengan cepat menguasai ilmu pengetahuan secara mendalam[75].

Karena mempunyai peranan pokok dalam memahami agama Islam, maka PP Annuqayah, selaras dengan pemikiran KH. Khazin Ilyas, mewajibkan tiap jenjang mengajarkan ilmu ini secara intens, lebih-lebih satuan pendidikan MAT atau  MAK.

  1. Ilmu Tashrif

Sama halnya dengan ilmu nahwu yang mengatur tata bahasa Arab, maka demikian pula dengan ilmu Tasrif ini, ia sebagai bagian dari tata bahasa Arab dalam mengintodusir kata-katanya.

Di lembaga yang didirikan oleh beliau silabi Tasrif diberikan secara bergandingan dengan ilmu nahwu, dan menjadi kurikulum wajib bagi Madrasah yang beliau kelola.

  1. Ilmu Khat

Khattul jamil adalah menulis huruf Arab indah. Ilmu ini bertujuan untuk menjadikan tulisan arab agar sedemikian indah dan menarik. cabang-cabang ilmu khat ini adalah ilmu kaligrafi yang meliputi tulisan khuffi, parsi/ajami, baghdadi, mesri dan sebagainya.

Oleh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawiilmu ini dimasukkan ke dalam silabus madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Annuqayah[76] yang hingga kini masih terus dipertahankan walau hanya sampai ditingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI).

  1. Ilmu Ma’ani

Ilmu Ma’ani dan juga Bayan, merupakan cabang labih lanjut dari ilmu-ilmu bahasa Arab yang menerangkan tentang retorika bahasa Arab. Dengan menguasai ilmu ini maka tingkat kefasihan berbicara dalam bahasa Arab mencapai tataran sempurna. Ilmu ini bagian dari I’jaz al-Qur’an sehingga bagian-bagian ungkapan alam al-Qur’an dapat di pahami dengan mudah.

Di lembaga pendidikan yang dibentuk pertama kali oleh KH. Khazin Ilyas, ilmu di atas dimasukkan ke silabus pengajaran tingkat terakhir (Tsalist) di Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah[77]. Cuma dalam perkembangan lebih lanjut ilmu ini hanya diajarkan di Madrasah Aliyah Tahfidh dan MAK Putri, sedangkan di satuan pendidikan lainnya tak diajarkan lagi[78].

  1. Ilmu Badhi’

Ilmu ini bagian dari ilmu tafsir yang  bergerak dalam teori-teori metafor atau majaz. Yaitu cara-cara mengungkapkan I’jaz al-Qur’an dengan baik, seseorang harus memahami dengan baik akan ilmu ini. Bagaimana kata-kata Antrophormofisme yang terdapat dalam al-Qur’an juga bisa dipahami dengan baik bila kita menguasai ilmu ini.

Memperhatikan betapa pentingnya ilmu ini dalam mendukung ilmu tafsir dan ilmu-ilmu sastra lainnya, maka KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawimemasukkannya menjadi bagian dari bahan ajar di Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah pada tingkat tiga[79]. Sayang, kini ilmu ini hanya diajarkan di MAT dan INSTIKA jurusan Tafsir Hadis.

  1. Ilmu Tasyrih (Ilmu Urai/anatomi tubuh)

Sangat menarik kandungan kitab Annuqayah ini. Penulis sendiri jika membaca kitab aslinya yang berada ditangan KH. Warist Ilyas Syarqawi, dan kemudian difotokopi, merasakan juga kandungan mendalam kitab ini. Kecil memang tapi substantif. Inilah pemikiran ulama-ulama terdahulu, mereka tak terjemak dengan sifat dikotomis kita dalam memandang ilmu.

Bagaimana tidak, ternyata ilmu-ilmu yang seakan jauh dari prinsip agama seperti ilmu Urai atau Anotomi di atas dikaji dengan mendalam oleh asy-Syuyuti. Persfektif inillah yang hendak dikembalikan oleh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawibahwa umat Islam harus bangkit dengan menguasai berbagai ilmu pengetahuan agar keterpurukan mereka hilang berganti menjadi berkebudayaan dan berperadaban gemilang. Sekali lagi, inilah risalah Islam yang diturunkan kepada Nabi yang ummi, Muhammad SAW.

Ilmu urai adalah bagian atau cabang dari ilmu hayat atau Biologi. Ilmu ini mengkaji tentang struktur susunan rangka dan syaraf manusia. Oleh karenanya, KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawisangat antusias untuk memasukkan pelajaran ini pada sistem klasikal yang dirintis dari tingkatan terbawah sampai ‘ula[80].

  1. Ilmu Thibbun (Kedokteran)

Ilmu ini sangat berkaitan dengan ilmu Urai tapi dalam porsi yang lebih mendalam lagi, yaitu kajian tentang penyakit dan obatnya yang menimpa manusia. Thibbun atau kedokteran ini bukan hanya menguasai ilmu Urai dengan baik, tapi juga harus menguasai ilmu Kimia, dan ilmu Hitung dengan baik pula.

Khusus ilmu ini, di Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah tak diajarkan karena memang belum ada orang yang menguasai ilmunya yang harus menimba ilmu di perguruan tingga fakulltas Kedokteran. Tapi walau belum mampu menguasai ilmu ini, yang jelas pintu ikhtiar menuju ke cita-cita itu telah dibuka oleh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawisehingga generasi-generasi selanjutnya ada yang bisa menguasai ilmu kedokteran dengan baik. Ternyata cita-cita itu mulai menuai hasilnya, putri dari KH. Afif Hasan, cucu iring dari KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawikini hampir rampung menyelesaikan ilmu kedokterannya di Universitas Muhammadiyah Malang. Hal ini karena mindsheet para ulama Annuqayah sepeninggal KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawimulai terbuka bahwa ilmu semuanya dari Allah SWT. Subhanallah..!

  1. Ilmu Tasawuf

Inilah ilmu yang cukup mengandung kontroversi dalam perjalanan sejarahnya. Tasawuf sebenarnya praktik Nabi Muhammad SAW sendiri dalam menyampaikan risalah Allah SWT. Rasullah adalah sosok yang zuhud dan tak ada orang yang menandingi tingkat kezuhudannya, tidak juga para sufi.  Yang belakangan timbul kontroversi dalam dunia adalah adalah sikap menyimpang dari para sufi dalam mengamalkan ilmu ini. Inilah pertama kali yang mencemarkan nama harum ilmu tasawuf.

Maka tampillah orang-orang zahud tapi tetap para relnya, yaitu agama yang benar, Islam. Ada nama berikut yang perlu kita contoh dalam bertasawuf; al-Gazali, al-Juneid, al-Jailani, Ali bin Abi Thallib, Para sahabat yang tergabung ahli suffah, dan lain-lain. Dalam hal inilah, yaitu tasawuf yang benar, KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawimengajarkan ilmu ini pada generasi Annuqayah agar mereka nanti tak mudah putus asa.

  1. Ilmu Bayan [81]

Dan pemikiran KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi selain dipengaruhi oleh karya tulis Asy-Syuyuti, beliau juga sempat menelorkan karya orisinal dalam rentang waktu umurnya yang singkat. Karya-karya tersebut antara lain :

  1. Mamdhumatur Risalah (Karya yang mengkaji masalah Tauhid).

Karya ini telah mengekalkan KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi dalam jajaran ulama Annuqayah yang mempunyai tingkat intelektualitas tinggi. Bayangkan saja, karya ini lahir waktu umur beliau masih amat belia, yakni sekitar 17 sampai 20 tahun.[82] Karya ini berisi dengan masalah-masalah ketauhidan, seperti ilmu kalam, ilmu ushuluddin, pembagian iman, tingkatan-tingkatan iman, rukun-rukun iman, dan madzhab-madzhab ketuhanan dalam Islam. Sesungguhnya, amat berartilah jika kitab kecil ini dicetak dan disebarkan ke para  santri Annuqayah kini biar pola pemikiran KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi dapat di kenal dengan baik.

  1. Syaranatush Sholah (Petunjuk tentang Shalat)

Adapun karya yang kedua adalah Shuranatush Sholah, yaitu petunjuk tentang mendirikan shalat. Karya ini berbentuk nadham dan masih berupa manuskrip sama seperti karya beliau yang pertama[83]. Isi dari karya ini antra lain : Syarat-syarat sah shalat, rukun-rukun shalat, hal-hal yang membtalkan shalat, perihal shalat Jumaat, shalat sunnah-shalat sunnah, jama’ shalat, dan qashar shalat, dan sebagainya.[84]

Di sini penulis sungguh tertegun melihat dari kemampuan intelektullitas berpikir beliau yang ‘hanya’ lulusan Madrasah Nidhamiyah PP Tebuireng, tapi beliau telah dikenal sebagai ahli sastra Arab mempuni[85]. Tak salah memang jika beliau dikenal sebagai pengarang kitab berbahasa Arab. Dan tentu, ini suatu harapan dari penulis agar bagaimana caranya kita bisa berinteraksi dengan kedua karya tersebut, syukur-syukur jika kita bisa menteladani pola hidup dan tingkah laku beliau.

  1. Kontribusi KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi Terhadap Pendidikan Islam Dalam Upaya Merintis Sistem Pendidikan Formal Di Pondok Pesantren Annuqayah.

Untuk dapat memetakan dengan jelas kontribusi KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawidalam upaya merintis membangun sistem pendidikan klasikal di PP Annuqayah, diperlukan point-point khusus sebagaimana misal pada pemikiran pendidikan beliau di atas. Adapun kontribusi-kontribusi tersebut adaalah :

1.Pembentukan Sistem Kelembagaan

Upaya pertama yang dilakukan oleh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi setelah pulang ke Madura adalah meminta izin pada orang tuanya untuk mendirikan lembaga penidikan berbentuk modern.[86] Lembaga ini penting didirikan sebab hanya dengan lembaga seperti ini generasi kita kelak bisa bangkit, demikian alasan yang melari mengapa beliau minta izin dulu. Sedikit membuat komparasi, pemikiran KH. Khazin Iliyas ini hampir sama dengan pemikiran KH. Ahmad Dahlan tahun 1917 waktu pertama kali mendirikan lembaga pendidikan, panti, dan pusat kesehatan yang kemudian berbentuk organisasi bernama Muhammadiyah.

Lebih lanjut, setelah mendirikan lembaga pendidikan klasikal sebagai kontribusi utama, maka kontribusi lanjutan dari gerak pemikiran beliau adalah sebagai berikut :

  1. Membuat Silabus

Silabus yang diberikan di Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah adalah sama dengan yang  ada di Madrasah Nidhamiyah Tebuireng. Silabus ini berhulu pada paham berupa Akidah yang disebut I’tiqad Ahlusunnah Wal Jama’ah; Fiqiyah yang menjalur pada empat imam madzhab, utamanya Madzhab Syafi’iyah; Akhlak Tasawuf yang berujung pada rumusan al-Juneid al-Baghdadi dan al-Ghazali.

Silabus ini terdiri dari mata pelajaran antara lain :

  1. Fiqih yaitu fiqihnya Madzhab Syafi’ei.
  2. Aqidah
  3. Akhlaq
  4. SKI
  5. Bahasa Arab,  meliputi Nahwu dan Sharraf
  6. Tafsir
  7. Hadist
  8. Ushul fiqh
  9. Ma’ani, Bayan dan Badi’
  10. Aljabar
  11. Ilmu hayat
  12. Bahasa Inggris
  13. Sejarah Dunia dan Nasional[87]

Apa yang tercantum dalam daftar pelajaran ini nyata sekali pengaruh karya asy-Syuyuti, Annuqayah. Dan nyata juga bahwa pengaruh tersebut berkontribusi terhadap jalannya roda kependidikan di PP Annuqayah hingga kini. Disamping hal-hal di atas, kontribusi yang tak kalah mencengangkan dari diri beliau adalah :

1). Mencetak Tenaga Kependidikan

Kontribusi awal dari peran KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi dalam membina PP Annuqayah adalah pengangkatan tenaga pendidik sesuai dengan silabus yang ada. Kebijakan ini sungguh amat sulit dilakukan, sebab kurangnya tenaga yang hendak dicetak menjadi tenaga pendidik. Terpaksa untuk memenuhi kebutuhan guru tersebut, KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi yang dengan sigab mendidik calon-calon guru sesuai dengan disiplin ilmu yang ada pada silabus.[88] Nah, nampak kini betapa ulama panutan ini multi telenta yang saat ini sulit dicari padanannya.

2).  Membikin Organisasi Madrasah

Sesuai dengan kemauan zaman, maka KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawimembuat struktur Organisasi secara rapih sebagaimana layaknya organisasi saat ini. Kepala Madrasah di pegang sendiri dan Tata Usaha merangkap Wakil Kepala adalah KH. Mahfudh Husaini.[89]

3).  Mengevaluasi Siswa

Layaknya sebuah sekolah klasikal modern, KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawijuga menerapkan aturan pada para guru agar di tiap-tiap catur wulan harus diselenggarakan evaluasi untuk mengukur tingkat keberhasilan para siswa[90]. Persaksian salah seorang murid yang hingga kini masih hidup, bahwa KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawimerupakan mentor handal bagi guru dan murid. KBM yang beliau berikan melampaui zamannya. Waktu itu masih belum ada cara-cara atau metode-metode belajar yang diajarkan, belum ada KBK, belum KTSP, belum ada CBSA, tapi KBM yang beliau sampaikan telah mengandung pada macam-macam istilah di atas.[91] Penulis sempat tertekun, bagaimana mungkin seorang KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawidengan usai belia telah mendalam penguasannya akan ilmu-ilmu yang kini disebut dengan berbagai macam sebutan, seperti Psikologi, Padagogik, Dadaktik Metodik, Evaluasi Pengajaran dan lain-lain. Apa nilai yang harus kita petik? Inilah mungkin, menurut penulis, ketabahan dan kesabaran dalam menuntut ilmu harus jadi dasar kita.

4).  Pemberian Nama Annuqayah

Kontribusi tak kalah hebohnya untuk kita kaji adalah pemberian nama PP Gulukguluk menjadi PP Annuqayah. Ada sedikit kontroversi di sini, menurut sumber pertama yang penulis anggap mempunyai tingkat validitas tinggi, yang memberi nama lembagai ini adalah KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi.[92] Sedangkan dalam booklet Profil Pondok Pesantern Annuqayah[93], pemberian nama ‘Annuqayah’ adalah KH. Moh. Ilyas Syarqawi.

Silang pendapat ini jika tidak penulis luruskan maka akan menggugurkan tesis yang penulis bangun sebelumnya. Penulis lebih yakin membenarkan pendapat pertama dengan alasan bahwa beliau merupakan saksi hidup waktu Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah didirikan oleh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi. Pendapat penulis juga didukung oleh fakta sejarah bahwa sejak lembaga ini didirikan oleh KH. Syarqawi al-Quddusi tahun 1307 H/1887 M sampai dengan tahun 1933 tetap bernama Pondok Gulukguluk.[94] Dan fakta sejarah juga bahwa kitab karangan Asy-Syuyuti itu di bawa dari Tebuireng oleh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi setelah beliau usai menuntut ilmu[95].

Maka kesimpulan yang dapat penulis berikan adalah bahwa pemberian nama ‘Annuqayah’ adalah KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi. Adapun KH. Moh. Ilyas Syarqawi, menurut hemat penulis, adalah sebagai pelindung dan penjaga atau penasehat bagaimana baiknya saja. Sikap ini memang cerminan sikap Ulama tawadhu’ tempo dulu yang selalu bersikap toleran pada perubahan yang ada, asalkan perubahan tersebut berdampak positif.

Adapun jika dari hasil analisa data dan paparan data mengenai kepribadian KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi, penulis dapat membuat tiga kategori besar dalam mendialogkan sosok agung ini pada kehidupan nyata kita. Ketiga kategori ini adalah :

  1. Masa Kanak-Kanak Hingga Remaja

Berangkat dari keluarga kiai yang sangat mendalam kemampuannya mengekspresikan ilmu pengetahuan, maka pola asuh pada anak laki-laki pertamanya sungguh dilakukan  oleh KH. Moh. Ilyas bersama sang istri Nyaih Arfiyah. Watak yang muncul dari pola asuh demikan adalah watak langsung kedua orang tuanya. Segala sifat dan kejiawaan kedua orang tuanya akan turun pada si buah hati.

Cara didik seperti inilah yang diperintahkan oleh baginda Nabi pada umatnya, bahwa tugas memberi nama, merawat anak, mengayomi si buah hati adalah tugas ayah dibantu oleh si istri. Baru kemudian bila anak beranjak remaja di tuntutkan ilmu pada orang lain sebagai pembelajaran bersosiologis.

Watak yang dimiliki oleh Khazin kecil adalah watak rabbani, yaitu watak-watak yang bisa mengubah roda sejarah dengan perannya kelak. Hal ini terbukti setelah sedikit dewasa ia telah mengembara mencari ilmu dan kemudian mentransfer ilmu itu pada wadak kelembagaan kokoh. Untuk menjadi orang berwatak kokoh adalah dimulai dari pembentukan embrio kedua orang tuanya. Di sini KH. Moh. Ilyas paham betul, bahwa jika seorang anak ingin sukses dalam kehidupannya, maka ia sudah dibentuk sedemikian rupa semenjak kecil, bahkan semenjak masih dalam kandungan. Inilah prinsip robbani dalam mencetak generasi baru.

  1. Masa Pergulatan Pemikiran

Umur 12 atau 13 tahun ia di kirim ke kawah candradimukanya ilmu keagamaan kala itu. Sinilah selama kurang lebih empat tahun ia menimba ilmu pada KH. A. Wahid Hasyim Asy’ari, dan maestro kebangkitan ulama, Nahdatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari. Di tempat ini pergulatan pemikiran keilmuwan terjadi. Dengan berbekal kecerdasan rabbani, Khazin muda tak sulit menangkap berbagai kelindan kuatum ilmu yang dipancarkan sang gurunya. Ilmu-Ilmu alat, Fiqih, Tafsir, Hadis, Matematika yang kala itu disebut al-Jabar, juga dikuasainya dengan tangkas, Ilmu Hayat, Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi dan semua ilmu yang ada di Madrasah Nidhamiyah Tebuireng ia kuasai dengan baik

Puncak kecemerlangan ilmu itu memancar terus sampai waktu ia kembali ke ranah Madura untuk terus mengemban risalah Islam demi menyemai dakwah kebajikan di tanah gersang kelahirannya. Pertama-tama yang ia lakukan adalah membuat lembaga penndidikan klasikal yang senada dengan Madrasah Nidhamiyah Tebuireng, yaitu MADRASAH IBTIDAIYAH SALAFIYAH. Kemudian ia mengubah nama pondok Gulukguluk menjadi Pondok Peantren Annuqayah Gulukguluk. Tahapan inilah yang kemudian mendongkrak nilai tawar Annuqayah ke seantero nusantara, sehingga banyak santri datang dari berbagai pulau tanah air dan negeri-negeri Jiran.

  1. Masa Perjuangan yang Sebenarnya.

Selesai mendirikan Madrasah dan memberi nama pondok, ternyata tak menyelesaikan Khazin muda untuk terus bergulat dengan berbagai fenomena sosial. Selang 10 tahun memipin Madrasah, ada tawaran dari Barisan Sabillah Jawa Barat untuk masuk menjadi anggota lakar Hizbullah. Tawaran ini tak disia-siakan Khazin muda untuk berangkat ke dua kalinya menembus balantara tanah Jawa yang masih kelam.

Sampai di Bandung tahun 1943 langsung mengikuti pelatihan kemeliteran yang secara detilnya tak dapat penulis lacak. Beberapa bulan mengikuti pelatihan meliter juga tak ada kepastian, yang pasti hanya pergulatan beliau dengan tugas meliter itu sehingga beliau tak bisa memimpin lagi Madrasah yang didirikannya. Inilah masa-masa perjuangan sebenarnya, sebab perjuangan ini banyak menyita dirinya baik dari jiwa, fisik dan harta benda, harus rela dikorbankan demi tegaknya agama, negara dan bangsa ini.

Perjuangan menggapai kemerdekaan Indonesia mencapai titik klimaks dengan terjadinya pertempuran besar 10 November 1945. Gurunya di Jombang, KH. Hasyim Asy’ari, mengumandangkan Resolusi Jihad, bahwa tiap kaum muslimin di Jawa Timur dan Indonesia umumnya wajib berperang melawan kafir sekutu. Barang siapa yang tewas dalam pertempuran tertsebut akan mati Syahid. Resolusi Jihad ini bergema keseantero jagat. Khazin muda terpanggil untuk sama-sama menyambut seruan ini dan bertempur di garis depan melawan keganasan pasukan Gurkha India. Dia sendiri selamat dari pertempuran dahsyat itu, tapi banyak dari anak buahnya Laskar Hizbulla, Syahid di medan tempur.

Selesai dari drama 10 November 1945, ia pulang ke Gulukguluk. Tapi tak seberapa lama ia tinggal masuk lagi khabar jelek bahwa Belanda ternyata hendak menjajah lagi Indonesia merdeka. Naluri keperwiraannya bangkit, ia pimpin lagi sisa-sisa Laskar Hizbullah Madura, dan merapat ke medan-medan tempur, seperti pertempuran Arek Lancor, Pertempuran Sampang dan Bangkalan. Karena perbekalan persenjataan mulai menipis, sedangkan bantuan amunisi dari Surabaya dicegat di selat Madura dan di hancurkan Belanda, maka Komandan Khazin mengajak anak buahnya bergerilya ke seantero Madura. Taktik bumi hangur ini ternyata berhasil menciutkan nyali Belanda. Berkali-kali Belanda dibuat tak berkutik oleh taktik gerilya ini, tapi karena Belanda lebih superior dalam jumlah perangkat meliter dan senjata, taktik gerilya terus tergencet ke arah timur Madura. Akhirnya, jalan mengungsi harus ditempuh Komandan Khazin.

Beliau mengungsi ke Situbondo, tepatnya di PP Asembangus KH. Syamsul Arifin dari Bangkoneng, Pamekasan. Ditempat ini beliau juga memberikan andil mendirikan lembaga klasikal seperti mana yang ada di PP Annuqayah.

  1. PEMBAHASAN

Mengingatkan pendapat E.Taylor, seorang ilmuwan Sosial Religius dari Harvard, bahwa disetiap perjalanan sejarah, setiap generasi dengan kemampuannya sendiri mengembangkan dan melanjutkan apa yang telah dicapai oleh generasi sebelumnya. Pendapat ini sangat cocok dengan hasil temuan penelitian penulis atas KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi ini.

Teori di atas kebenarannya sangat nyata bagi timbul-tenggelamnya suatu peradaban umat manusia. Bagaimana kemajuan kini yang kita rasakan, adalah hasil interaksi, aksi, dari berbagai tesis dan antitesis, atau tesa dan sintesa dari pergulatan ilmu pengetahuan.  Dan hadirnya sosok KH. Khazin ke panggung motor peradaban di lingkungan pendidikan adalah hasil perkawinan berbagai interaksi di atas.

Hasil positif yang ditelorkan oleh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi ini ialah membuminya dengan pasti sistem pendidikan yang kental dengan nuansa modern tapi tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman yang mempuni. Annuqayah kini merasa punya hutang budi yang tak dapat di balas oleh generasi selanjutnya, kecuali segala fikroh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi di atas selalu di jaga, dikenang, diwujudkan atau diejawantahkan dalam apresiasi nyata keseharian santri Annuqayah kini.

Berbagai tindak-tanduk KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi haruslah dapat kita teladani sedini mungkin ke relung senubari terdalam para santri. Wacana pergulatan pemikirannya boleh saja membetot kita untuk selalu berpikir mendalam secara positif, tapi sisi epistemologi mendalam dari diri KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi harus juga dijalankan dengan baik, seperti pijakan pemikiran kokohnya tentang arti penting paham Ahlusunnah.

Bukan tidak mungkin, untuk zaman kekinian yang mulai menghilangkan rasa kebersamaan kemanusiaan, pijakan epistemologi di atas lambat laun dapat memudar. Disinilah generasi kita harus dapat merevitalisasi kembali akan pemikiran pendidikan Islam ala KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi.

Bagaimana Khazin kecil hidup, sampai ia pergi ke Jombang, adalah bak mutiara terpendam bila kita sanggup menggalinya. Saksi hidup beliau yang kini juga hampir punah karena telah berumur udhur, peserti KH. Warits Ilyas, KH. Abd Bashith AS dan KH. Nur Zedqi Idris merupakan penutur yang telah mengalami penuaan sehingga kisah-kisah kecil KH. Moh. Khazin Ilyas  Syarqawi kurang tergali secara maksimal.

Melalui dari masa kecil, remaja, menuntut ilmu, menyebarkan ilmu yang diperoleh dari Tebuireng  yang berupa sekolah klasikal yang di rintisnya semua itu tidak digeluti sendiri, tetapi bekerja sama dengan sepupunya, KH. Mahfud Husaini, samapi kemudian, beliau bergabung dengan pasukan Hizbullah .semasa hidupnya yang terakhir ini, dihabiskan  untuk membela tanah airnya, yaitu melawan pasukan kolonial Belanda.

Titik tekan dalam laporan ini hanya terletak papa pemikiran dan kontribusi pemikirannya dalam kancah dunia pendidikan. Boleh dibilang, pemikiran ini urgen sebab bermula dari pemikiran ini kemudian diwujudkan dalam bentuk lembaga yang gemanya terus berkumandang hingga detik ini. Hal ini sungguh luar biasa bagaimana kokohnya pemikiran beliau tentang masa depan pendidikan generasi muslim sehingga bisa menyemarakkan alam ini dengan Islam yang rahmatalli’alamin.

Berulang kali penulis bilang, tanpa kehadiran sosok beliau mungkin PP Annuqayah tak akan ada, karena tidak ditemukannya nama ini, atau lebih halusnya, tanpa lahirnya sosok KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi maka Annuqayah sampai setakat ini tak akan lahir lembaga pendidikan berbentuk klasikal. Mengapa penulis berani berargumen demikian? Alasannya adalah dengan munculnya pemikiran luar biasa ini,  Annuqayah selangkah demi selangkah dapat menengok dunia luar, yaitu dunianya para penjajah yang kafir.

Dalam rentetan perjungan terhadap pemikiran pendidikan tersebut maka PP Annuqayah mendapat hasilnya. Sehingga dengan didapatkannya ilmu pendidikan modern ini Annuqayah bisa menyeimbangkan pemikiran antara Ukhrawi dan Duniawi. Dan disinilah ad-Dien al-Islam diturunkan, dan demikianlah fungsi-fungsinya yang tak membeda-bedakan akan hakikat ilmu. Semua ilmu berhulu pada Islam. Tak ada ilmu agama, dan tak ada pula ilmu umum. Inilah setitik kesimpulan dari kuantum pemikiran KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi yang secara lebih tajam penulis akan bahas.

Kontribusi dunia pendidikan Islam yang dibangun oleh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi, memanglah sangat terasa bagi generasi setelahnya. Kontribus yang dibangunnya berupa; (1).Pembentukan Sistem Kelembagaan; hal pertama yang dilakukan oleh KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi setelah pulang ke Madura adalah meminta izin pada orang tuanya untuk mendirikan lembaga penidikan berbentuk modern.[96] Lembaga ini penting didirikan sebab hanya dengan lembaga seperti ini generasi kita kelak bisa bangkit, demikian alasan yang melari mengapa beliau minta izin dulu.

Sedikit membuat komparasi, pemikiran KH. Khazin Iliyas ini hampir sama dengan pemikiran KH. Ahmad Dahlan tahun 1917 waktu pertama kali mendirikan lembaga pendidikan, panti, dan pusat kesehatan yang kemudian berbentuk organisasi bernama Muhammadiyah. Lebih lanjut, setelah mendirikan lembaga pendidikan klasikal sebagai kontribusi utama, maka kontribusi lanjutan dari gerak pemikiran beliau adalah sebagai berikut : Membuat Silabus yang isinya; Fiqih yaitu fiqihnya Madzhab Syafi’ei, Aqidah, Akhlaq , SKI, Bahasa Arab,  meliputi Nahwu dan Sharraf, Tafsir, Hadist, Ushul fiqh, Ma’ani, Bayan dan Badi’, Aljabar, Ilmu hayat,  Bahasa Inggris, Sejarah Dunia dan Nasional[97]. Apa yang tercantum dalam daftar pelajaran ini nyata sekali pengaruh karya asy-Syuyuti, Annuqayah. Dan nyata juga bahwa pengaruh tersebut berkontribusi terhadap jalannya roda kependidikan di PP Annuqayah hingga kini.

Disamping hal-hal di atas, kontribusi yang tak kalah mencengangkan dari diri beliau adalah : (2).  Mencetak Tenaga Kependidikan; yaitu kontribusi awal dari peran KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi dalam membina PP Annuqayah adalah pengangkatan tenaga pendidik sesuai dengan silabus yang ada. Kebijakan ini sungguh amat sulit dilakukan, sebab kurangnya tenaga yang hendak dicetak menjadi tenaga pendidik. Terpaksa untuk memenuhi kebutuhan guru tersebut, KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi yang dengan sigab mendidik calon-calon guru sesuai dengan disiplin ilmu yang ada pada silabus.[98] Nah, nampak kini betapa ulama panutan ini multi telenta yang saat ini sulit dicari padanannya. (3).  Membikin Organisasi Madrasah; yaitu sesuai dengan kemauan zaman, maka KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawimembuat struktur Organisasi secara rapih sebagaimana layaknya organisasi saat ini. Kepala Madrasah di pegang sendiri dan Tata Usaha merangkap Wakil Kepala adalah KH. Mahfudh Husaini.[99] (4).  Mengevaluasi Siswa; yaitu layaknya sebuah sekolah klasikal modern, KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawijuga menerapkan aturan pada para guru agar di tiap-tiap catur wulan harus diselenggarakan evaluasi untuk mengukur tingkat keberhasilan para siswa[100]. Persaksian salah seorang murid yang hingga kini masih hidup, bahwa KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawimerupakan mentor handal bagi guru dan murid. KBM yang beliau berikan melampaui zamannya. Waktu itu masih belum ada cara-cara atau metode-metode belajar yang diajarkan, belum ada KBK, belum KTSP, belum ada CBSA, tapi KBM yang beliau sampaikan telah mengandung pada macam-macam istilah di atas.[101] Penulis sempat tertekun, bagaimana mungkin seorang KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawidengan usai belia telah mendalam penguasannya akan ilmu-ilmu yang kini disebut dengan berbagai macam sebutan, seperti Psikologi, Padagogik, Dadaktik Metodik, Evaluasi Pengajaran dan lain-lain. Apa nilai yang harus kita petik? Inilah mungkin, menurut penulis, ketabahan dan kesabaran dalam menuntut ilmu harus jadi dasar kita.

(5).  Pemberian Nama Annuqayah, yaitu kontribusi tak kalah hebohnya untuk kita kaji adalah pemberian nama PP Gulukguluk menjadi PP Annuqayah. Ada sedikit kontroversi di sini, menurut sumber pertama yang penulis anggap mempunyai tingkat validitas tinggi, yang memberi nama lembagai ini adalah KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi.[102] Sedangkan dalam booklet Profil Pondok Pesantern Annuqayah[103], pemberian nama ‘Annuqayah’ adalah KH. Moh. Ilyas Syarqawi yang secara tajam telah penulis urai dalam pembahasan terdahulu.

[1] Lexy J. Moleong, Ibid, hal. 157

[2] Nana Syaodah Sukmdinata, Ibid, hal. 145

[3] Kisah ini masih bersifat legenda

[4] Anotasi tentang nama asal-usul desa Gulukguluk penulis ambil dari tulisan yang berada di kantor desa Gulukguluk.

[5] Angka tahun tak jelas. Sumber di atas merupakan ungkapan dari Babad Sungonep yang ditulis abab XVII.

[6] Yaitu Arya Wiraraja. Nama ini sebenarnya sesepuh Jokotole, perintis pertama kerajaan Madura yang diangkat oleh raja Singasari terakhir, Kertanegara. Ayah Jokotole yang benar adalah Adipodai. Pemimpin di kepulauan Sepudi.

[7] Sebenarnya bukan satu-satunya keturunan Arya Wiraraja dari putrinya yang hamil diluar kebiasaan. Ada lagi adik dari Jokotole, yaitu Jokowedi, tetapi nama terakhir dibesarkan oleh pamannya, Adirasa di puncak Gunung Ghagghar, Bangkalan.

[8] Raja Kerajaan Buleleng, Singaraja, yaitu Bali utara.

[9] Nama ini dalam Babad Sungonep tak dikenal. Kemungkinan nama Tongkat Madura hanya rekaan belaka. Penulis tak bisa menafsirkan.

[10] Dari sinilah nama kecamatan Peragaan di ambil. Peragaan berasal dari kata ‘agerage’ yakni meminta-minta.

[11] Angka astronomis di atas penulis lacak di Googlemap dan dipadukan dengan peta pulau Madura.

[12] Data arsip di kantor desa Gulukguluk.

[13] Sumber: Kantor desa Gulukguluk

[14] Sumber: Kantor desa Gulukguluk

[15] Sumber : Kantor Desa Gulukguluk

[16] Sekilas Profil  Pondok Pesantren Annuqayah  Guluk-Guluk Sumenep Madura, merupakan stensilan tulisan tangan dari KH. Abdul Bashith Abdullah Sajjad yang disusun dalam Bahasa Arab, dan kemudian disepurnakan oleh almaghfirah KH. Ishamuddin Abdulah Sajjad. Oleh penulis, stensilan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia hingga kemudian tampil apa adanya dan sepenuhnya penulis kutip. Perlu diingat bahwa stesilan ini di tulis tahun 1979, jadi sampai saat ini jelas tidak sama. Oleh karena itu kejelasan stensilan tersebut penulis tambahi dengan catatan kaki sepenuhnya.

[17] pada tahun 1980-an, sedangkan saat ini jumlah penduduk desa Gulukguluk menurut data statistik desa adalah 14.571 Jiwa.

[18] Saat ini bangunan tersebut terus bertambah dan tak kurang dari 235 bagunan yang terdiri dari asrama, ruang kelas, laboratorium, ruang aula, dan kampus putra dan putri.

[19] Dalam konversi tahun antara Hijriyah ke Miladiyah menurut ahli Falaqiyah PP Annuqayah, M. Faidhal,  adalah 1887 M.

[20] Menurunkan kiai-kiai di pondok pesantren Karay, Ganding Sumenep.

[21] Jika menelisik tahu lahir beliau, 1916, maka waktu merintis pondok pesantren Annuqayah, sembari memberi nama dan mengembangkannya dengan pendidikan formal klasikal, umur beliau sekitar 14 tahu (dari tahun 1916 sampai 1930 M). Tapi menurut sumber yang lain, yaitu K. Moh. Musthofa Abdul Bashith Bahar, umur KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi waktu rintisan awal tersebut sekitar 17 tahun. Data yang penulis ambil sebagai kebenaran adalah sumber pertama dengan alasan, sumber itu lebih otoritatif sebab ditulis oleh tokoh yang seangkatan dari KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi.

[22] Dengan model kelas sampai ke kelas 3, yaitu Shifir Awwal, Shifir Tsani dan Shifir Tsalis. Wawancara, ibid.

[23] Bernama Madrasah Nidhamiyah. Wawancara, ibid.

[24] Dahulu masih bernama Ilmu Hitung atau Ilmu Hisab. Wawancara KH. Waris Ilyas Syarqawi, tanggal 10 Juni 29013, jam 08.00 WIB

[25] KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi memberi nama lembaga pondok pesantren Gulukguluk, demikian nama yang diberikan KH. Syarqawi sebelumnyaa, bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang tertera dalam kitab tersebut yang bukan hanya ilmu-ilmu keislaman semata, tetapi juga ada ilmu-ilmu bumi, kimia, fisika, sejarah, dan ilmu-ilmu lain yang kini kita sebut dengan kecenderungan dikotomis, yaitu ilmu-ilmu umum.. Sedangkan menurut sebagian sumber, nama ‘Annuqayah’ diberikan oleh KH. Moh. Ilyas Syarqawi, lihat booklet Profil PP Annuqayah. Akan tetapi menurut KH. Warist Ilyas Syarqawi, yang memperkenalkan nama ini ke khalayak ramai adalah KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi. Memang benar juga jika penamaan ‘Annuqayah’ pertama kali diacukan kepada KH. Moh. Ilyas Syarqawi, mungkin beliau yang memang menemukan nama tersebut, tetapi oleh beliau tidak diumukan ke khalayak. Barulah putra beliau yang dengan tegas mengganti nama ‘pondok Gulukguluk’ menjadi ‘pondok pesantren Annuqayah’ hingga kini. Wawancara, Ibid

[26] Kitab Mandhūmat al-Nuqāyah ini, sebagaimana kitab rujukan dasarnya,  mencakup empat belas fann (disiplin ilmu) yaitu: ‘Ilm Ushūlu al-Dīn, ‘Ilmu al­Tafsīr, ‘Ilmu al­Hadīts, ‘Ilm Ushūl al­Fiqh, ‘Ilmu al­Farā’idh (ilmu distribusi harta waris), ‘Ilmu al­Nahwi (ilmu tata bahasa),  ‘Ilmu al­Tashrīf (ilmu konjugasi), ‘Ilmu al­Khath (ilmu kaligrafi),  ‘Ilmu al­Ma’ānī, ‘Ilmu al­Bayān (keduanya adalah ilmu retorika),  ‘Ilmu al­Badī’ (ilmu tentang teori metafor), ‘Ilmu al­Tasyrīh (ilmu anatomi; ilmu urai), ‘Ilmu al­Thibb (ilmu kedokteran; pengobatan)dan ‘Ilmu al­Tashawwuf.  Wawancara, ibid.

[27] Yang penulis ambil dari anotasi K. Mohammad Faizi. Kitab di atas kemudian diubah dalam bentuk syair oleh KH. Mahfudh Husaini dengan judul Kitab Mandhūmah al-Nuqāyah`1, ini belum sepenuhnya selesai ditulis. Pada saat anotasi  ini dilakukan oleh K. Mohammad Faizi (3003), Kiai Mahfoudh telah menadhamkan hampir 1400-an larik, sementara itu masih tinggal 3 disiplin ilmu (fann) lagi yang harus diselesaikan. Akan tetapi kondisi jualah yang berbicara, sejak itu kesehatan KH. Mahfudh Husaini menurun, dan sampai beliau wafat (2008) kitab karyanya belum terselesaikan.

[28] Saat ini, manuskrip kitab ini berada di tangan KH. Warist Ilyas Syarqawi.

[29] Tahun 1917-an.

[30] Yaitu masa awal kemerdekaan NKRI tahun 1945, atau disebut juga masa-masa revolusi fisik. Lihat, Sejarah Nasional Indonesia, Marwati Djoened Poespanegara dan Nugraha Notosusanto, (Jakarta : Balai Pustaka, 1990), hal. 89-171.

[31] Tahun 1979 M.

[32] Saat ini bernama MTs 2 Annuqayah, terletak di Kebun Jeruk Kemisan Gulukguluk, 1 km dari pusat pondok Annuqayah.

[33] Saat ini bernama MA 2 Annuqayah, terletak dilokasi yang sama dengan MTs 2 Annuayah.

[34] Kata ‘sekarang’ dalam tulisan di atas sampai tahun 1986, waktu stensilan ini ditulis oleh KH. Abdul Bashith AS.

[35] Sejak tahun 1987, yaitu satu tahun laporan stensilan KH. Abdul Bashith AS selesai ditulis,  berdirilah di lingkungan PP Annuqayah daerah baru, yaitu PPA Daerah Karang Jati berdiri 1987, PPA Daerah Assaudah Karang Jati tahun 1993, PPA Daerah Kusuma Bangsa  Putra tahun 1992,  dan PPA Daerah Latee Utara tahun 1997. Lihat, Jurnal Annual HIM ’99 Nuansa (Annuaqayah antara masa ke masa), (Gulukguluk: Tim HIMA ’99), hal. 21, 24 dan 26.

[36] Majlis ini kemudian berubah nama menjadi Dewan Masyaikh PP Annuqayah, seiring dengan dibentuknya Yayasan Annuqayah pada tahun 1984. Wawancara, KH. AbdulBshith Abdullah Sajjad, tanggal 15 Juni 2013, pukul 15.30 WIB.

[37] Lanjutan dari bahasan yang ditulis oleh KH. Abdul Bashith AS merupaakan hasil penelitian penulis.

[38] Dalam laporan ini, penulis membedakan antara jumlah santri dengan siswa dengan alasan; antara kedua populasi ini memang tidak pernah sama. Santri jelas bermukim di asrama, sedangkan siswa tidak mesti mondok. Banyak dari mereka berangkat dari rumahnya (dalam istilah maduranya disebut santri kalong aleas santri colokan).

[39] Data di atas penulis himpun dari berbagai sumber. Tetapi menurut catatan Pusat Statistik kantor  pusat Yayasan Annuqayah, tercatat bahwa kini, 2013, keseluruhan santri PP Annuqayah berjumlah 3994 santri. Data yang dihimpun oleh Yayasan ini agak janggal, sebab menurut sumber-sumber yang penulis rujuk, jumlah santri pada 2010 saja ada 4431 santri, dengan fluktuasi yang hanya berkisar 0,7 % – 1,5 % tiap tahunnya, perkurangan santri secara matematis tak akan sampai di kisaran 438 santri. Setelah penulis menelusuri secara intens ternyata dalam caatatan kantor Yayasan tersebut tak memasukkan jumlah santri dari kalangan mahasiswa. Yang tepat, jumlah santri 2013 lebih dari 4806 santri, sebagaimana pelacakan penulis kepada pengurus di masing-masing daerah.

[40] Profil Pondok Pesantren Annuqayah (Gulukguluk: Pusat Data PPA, 2010), hal.28

[41] Waktu laporan ini ditulis

[42] Pelacakan secara langsunng pada kantor masing-masing daerah penulis lakukan merupakan sumbangan tenaga yang hendak penulis berikan  pada kantor pusat data di Yayasan Annuqayah, hal ini data yang penulis perlukan untuk tahun 2013 ini di kantor tersebut belum ada. Data yang disimpan untuk arsip di kantor Yayasan adalah data lama pada tiga tahun lalu. Mudah-mudahan ini bermanfaat.

[43] Pembantu di bagian Pusat Data Statistik Yayasan Annuqayah.

[44] Ibid.

[45] Berhubung dengan kesulitan data tentang jumlah siswa sejak tahun 1980, maka pola penempatan angka menggunakan sistem penambahan rasional dari tahun 1980, 1985, 1990, 1995, dan 2000. Penambahan angka rasional ini penulis berpatokan pada perkembangan jumlah siswa pada tahun 2005, 2010 dan 2011, 2012, sebab pada tujuh tahun terakhir data-data siswa telah terkomputerisasi dan terarsipasi dengan baik.

[46] Wawancara beberapa alumni MTs 2 Annuqayah, tanggal 12 Juli 2013.

[47] Wawancara dengan Kepala Madrasal pada tanggal 22 Juli 2013.

[48] Sistem ini hanya berlaku satu kali, setelahnya tak diketahui rimbanya.

[49] Wawancara dengan beliau pada tanggal 22 Juni dan 20 Juli 2013, pikul 09.30 dan 10.24 WIB.

[50] Tahun 2010 berjumlah 125, tahun 2011 berjumlah 186, dan tahun 2012 kemarin berjumlah 184 siswi.

[51] Data arsip pada kantor pusat Yayasan Annuqayah.

[52] Saat laporan ini ditulis

[53] Terbukti sampai 2013 ini sistem klsikal ini belum sepenuhnya diterima pondok pesantren-pondok peantren di nusantara. Ada saja yang masih mengharamkan sistem ini. Contoh kasus adala PP al-Karawy Karai, dan PP al-‘Ish’af, Kalabaan.

[54] Sebenarnya tanggal di atas tidaklah pasti, sebab pada masa itu sistem penanggalan Miladiyah masih kurang populer, dan tanggal Hijriyah pun penulis tak dapat menelusuri lebih jauh. Hal ini karena sumber pertama yang penulis wawancarai juga tidak bisa memastikan. Wawancara dengan KH. Nur Zakki (K. Sadakah), tanggal 20 Juni 2013, sepupu tertua KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi yang saat ini masih hidup. Konfrontasi data penulis juga lakukan dengan melacak sumber primer lain, yaitu KH. Warist Ilyas dan KH. Abdul Bashit Abdullah Sajjad Syarqawi. Kedua beliau tidak bisa memastikan juga.

[55] Melacak dari tahun kelahiran beliau dengan menambah tahun-tahun belajar di PP Tebuireng.

[56] Angka tahun yang diberikan oleh Ra Mushthofa.

[57] Perkataan KH. Warist Ilyas ini didukung oeh fakta sejarah bahwa KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawimendapat pelatihan kemeliteran dan kemudian menjadi komandan tempur pasukan Hizbullah wilayah Madura. Fakta ini memberikan pengertian bahwa hanya orang-orang bebadan tegaplah yang bisa mengikuti latihan fisik ini yang juga berlaku kepada para komandan tempur lainnya, seperti Soedirman, Soeharto dan sebagainya.

[58] Mata uang waktu itu masih mata uang Hindia Belanda terkecil, yang kita kenal dangan istilah ‘uang gepeng atau binggulan’. Jadi bukan mata uang Golden, sebab mata uang ini hanya untuk para seno-seno Belanda.

[59] Dalam sejarah perkretaapian Indoneia, jalur kreta api lintas Madura di bangun sekitar tahun 1920 dan dinonaktifkan pada tahun 1960-an.

[60] KH. Muchid Muzadi adalah seorang ulama khos asal Jember yang sekarang tinggal di PP al-Hikam berama saudaranya, KH. Hasyim Muzadi. Beliau adalah teman satu pondok dari KH. Khazin Ilyas. Riwayat ini penulis dengar dari penuturan H. Panji Taufik, tanggal 12 Juni  2013.

[61] Wawancara dengan KH. Warist Ilyas Syarqawi, ibid.

[62] Nama sekolah ini adalah Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah dengan menggunakan nadhmiyah ala PP Tebuireng. Wawancara, ibid.

[63] Marwati Djoened, Sejarah Nasional Indonesia VI (Jakarta : BP, 1990), hal. 187

[64] Ibid, hal. 101-179

[65] Wawancara dengan KH. Abdul Bashith AS, tanggal 20 Juni 2013.

[66] Wawancara, ibid.

[67] Kisah kasih beliau dengan Nyaih Mu’adzah Abdullah Sajjad Syarqawi memang belum pernah penulis singgung. Sumber primer tak pernah bercerita kapan KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawimenikah. Tapi menilik  Nyaih Mu’adzah lahir tahun 1927 dan anak pertama beliau, KH. Tsabit Khain Ilyas Syarqawi, lahir pada tahun 1944, maka dapat penulis tafsir bahwa beliau menikahi Nyaih Mu’adzah sekitar tahun 1939 sampai 1942. Hal ini tafsir dari umur baligh wanita kala itu berkisar antara umur 12 sampai 15 tahun. Lima atau dua tahun dari pernikahannya lahirlah Tsabit.

[68] Tak jelas juga penuturan sumber primer, tapi yang cukup jelas adalah bahwa dua pelabuhan tradisional itu memang telah ada sejak jauh hari sebelum kedatangan Hindia Belanda ke Madura tahun 1785.

[69] Periksa lagi mengenai kebenaran tanggal wafat KH. Khazin Ilyas, utamanya tanggal dan bulan Miladiyahnya, sebab sumber primer tidak ada kesepakatan. Adapu menurut KH. Muhsin Amir, sebagaimana diceritakan oleh KH. Moh. Amir Ilyas Syarqawi padanya, beliau wafat karena kecelakaan, jadi bukan wafat karena sakit biasa. Wawancara, ibid.

[70] Hal ini tersirat pada kecintaannya pada kitab karya As-Suyuti ini. Akan rasa cinta ini pula beliau memberi nama pondok yang pada masa kakeknya masih bernama Pondok Gulukguluk dengan nama kitab ini pula. Oleh karenanya bukan menjadi suatu yang aneh bila Annuqayah dalam sejarah perjalanannya tetap konsisten dengan ilmu-ilmu yang terintegratif dan tak menyisakan dikotomi di antara ilmu agama dan ilmu umum, yang pemahaman salah terebut cenderung merugikan kita umat Islam yang cenderung berpikir secara dikotomis pula. Wawancara dengan KH. Warist Ilyas, ibid.

[71] Wawancara dengan KH. Warist Ilyas, ibid.

[72] Muhammad Hajaj al-Khatib, Ushul al-Hadist, (Jakarta : Gema Media Pratama, 1997), hal. xi dan seterusnya.

[73] Wawancara dengan KH.Sadakah, sepupu KH. Khazin pada tanggal 20 Juni 2013 pukul 17.00 – 22.00 WiB.

[74] Ibid.

[75] Wawancara dengan KH. Warist Ilyas, ibid.

[76] Wawancara, ibid.

[77] Wawancara, ibid.

[78] Wawancara dengan KH. Moh. Muhsin Amir Ilyas, tanggal 22 Juli 2013, pukul 21.00 WIB

[79] Wawancara dengan KH. Warist Iliyas, ibid.

[80] Wawancara, ibid.

[81] Pembahasannya sama dengan ilmu Ma’ani di atas.

[82] Wawancara dengan KH. Warits Ilyas dan KH. Abdul Bashith Abdullah Sajjad Syarqawi.

[83] Wawancara, Ibid.

[84] Wawancara, ibid.

[85] Riwayat ini bersumber dari KH. Amir Ilyas, yang dituturkan oleh KH. Muhsin Amir Ilyas. Wawancara tanggal 20 Juli 2013.

[86] Wawancara dengan KH. Warist Ilyas Syarqawi, ibid.

[87] Wawancara, ibid.

[88] Wawancara, ibid.

[89] Wawancara, ibid.

[90] Wawancara, ibid.

[91] KH. Nur Zetki Idris Syarqawi (K. Sadakah). ibid.

[92] Wawancara dengan KH. Warist Ilyas Syarqawi, KH. A. Bashith AS dan KH. Nur Zetki Idris Syarqawi, ibid.

[93] Diterbitkan oleh Kantor Pusat Yayasan Annuqayah, 2010.

[94] Wawancara, ibid.

[95] Wawancara, ibid.

[96] Wawancara dengan KH. Warist Ilyas Syarqawi, ibid.

[97] Wawancara, ibid.

[98] Wawancara, ibid.

[99] Wawancara, ibid.

[100] Wawancara, ibid.

[101] KH. Nur Zetki Idris Syarqawi (K. Sadakah). ibid.

[102] Wawancara dengan KH. Warist Ilyas Syarqawi, KH. A. Bashith AS dan KH. Nur Zetki Idris Syarqawi, ibid.

[103] Diterbitkan oleh Kantor Pusat Yayasan Annuqayah, 2010.

                                         

                                                                                     BAB V

                                                                                   PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

Dari keseluruhan laporan mengenai sosok ulama pendiri lembaga pendidikan formal di PP Annuqayah, penulis dapat berkesimpulan dengan dua bentuk, yaitu :

  1. Pemikiran KH. Khazin Ilyas Syarqawi tentang pendidikan formal di Annuqayah adalah bersumber pada filosofi pembacaan secara mendalam atas kitab Mandhūmat al-Nuqāyah karya Iman Asy-Syuyuti.
  2. Adapun kontribusinya terhadap sistem pendidian di lingkungan PP Annuqayah adalah dalam bidang kelembagaan, yaitu membuat silabi terendiri, yang diberikan pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah. Silabus yang diberikan di Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah adalah sama dengan yang  ada di Madrasah Nidhamiyah Tebuireng. Silabus ini berhulu pada paham berupa Akidah yang disebut I’tiqad Ahlusunnah Wal Jama’ah; Fiqiyah yang menjalur pada empat imam madzhab, utamanya Madzhab Syafi’iyah; Akhlak Tasawuf yang berujung pada rumusan al-Juneid al-Baghdadi dan al-Ghazali.
  3. SARAN

Kajian penelitian lapangan yang coba penulis integrasikan dalam menyusun kerangka berpikir guna menerangkan eksistensi pemikiran dan kontribusi KH. Khazin Ilyas Syarqawi secara umum, paling tidak dapat menjadi acuan yang komprehensif. Secara general, operasionalitas dari tuangan konsep dari sosok beliau yang penulis jabarkan tersebut, dapat menjadi sebuah pendekatan dan pemikiran baru dalam upaya menciptakan sistem pendidikan Islam keannuqayahan yang sesuaai dengan zamannya. Upaya ini dapat dilakukan dalam beberapa kalimat penutup di bawah ini ;

  1. Sebagai wujud kepedulian penulis bahwa KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi mempunyai pola pemikiran yang selama ini belum dikenal dan digali secara paripurna oleh warga Annuqayah sendiri. Oleh karenanya, pemikiran tentang pendidikan Islam ala beliau harus senantiasa kita revitalisasi sesuai dengan zamannya. Dan kontribusi beliau dalam mewujudkan pemikirannya harus selalu kita gali terus, sebab tulisan ini merupakan langkah awal untuk memulai membedah peran beliau terhadap Annuqayah.
  2. Tentu saja, berkaitan dengan model yang penulis sodorkan ini,   memebutuhkan kinerja serius demi peningkatan keilmuwan kita sebagai santri PP Annuqayah, yang juga calon atau yang telah menjadi sarjana sekalipun, yaitu dengan cara meneliti lagi secara lebih mendalam terhadap kiprah KH. Moh. Khazin Ilyas Syarqawi. Dan disinilah penulis meminta pada INSTIKA sebagai lembaga yang mampun mencetak insan ilmuan untuk terus-menerus memberi rangsangan pada tiap mahasiswanya agar berani meneliti para ulama di lingkungan PP Annuqayah. Harapan penulis dalam hal ini memang sangat besar.

DAFTAR PUSTAKA

Ali , Mukti , 1993, Alam Pemikiran Islam Modern (Bandung : MIZAN)

—————, 1992, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya)

Abbas , Sirajuddi ,  1994, Ahlusunnah Wal Jamaah, (Jakarta : Pustaka Tarbiyah)

A’la , Abd, 2006, Pembaharuan Pesantren (Surabaya : SiC)

az-Zarnuji, Ta’allim Muta’allim, ( ttp)

Arikunto , Suharsimi,  1998, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta : UGM Press)

Azra, Azyumardi, 1999,  Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu).

al-Khatib, Moh. Ajaj,  1998, Ushul Hadist, (Jakarta : Gema Media)

Binti,  Maunah, 2009, Tradisi Intelektual Santri, (Yogyakarta : Teras)

Djajal , Abdul, 2000,Ulumul Qur’an, ( Surabaya : Dunia Ilmu).

Dhofier,  Zamakhsyari, 1994, Tradisi Pesantren, (Jakarta : LP3SM)

Daradjat , Zakiah, 1994, Remaja Harapan Dan Tantangan, (Jakarta: Ruhama)

Departemen Agama RI, 1976, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Bumi Restu)

Djoened , Marwati,   1990, Sejarah Nasional Indonesia VI (Jakarta : Balai Pustaka)

Efendy, Bisri, 1990, Annuqayah: Gerak Trasformasi Sosial di Madura, (Jakarta :

P3M).

Koestoer Partowisastro, Hadisuparto, 1998, Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan

Belajar , (Jakarta: Erlangga)

Muhammad,  Ahmad, 2000, Ulumul Hadis, (Jakarta : Pustaka Setia)

Moelung, Lexy,  J. , 2000Metodologi penelitian Kualitatif, (Bandung : Rosda Karya).

Pals , Daniel,  Laphidus, , 2003, Dekonstruksi Kebenaran: Kritik Tujuh Teori

Kebenaran, (Yogyakarta: LKis)

Rahardjo, Dawam,  (Ed), 1995, Pesantren dan Pembahauan, (Jakarta : LP3ES)

Tim Penyusun, Silsilah KH. Moh. Syarqawi, 1999 , (Gulukgulk : Annuqayah).

Tim Yayasan Annuqayah, Profil Pondok Pesantren Annuqayah, 2010.

Wahjoetomo, 1994, Perguruan Tinggi Pesantren, (Jakarta : GIB)

Wahid, Abdurrahman, 2010, Menggerakkan Pesantren, (Yogyakarta : LKis)

Yakup, 1996, Pondok Pesantren dan Pengembangan Masyarakat Desa, (Bandung:

Angkasa).

Yafie , Ali , 1997Sistem Pendidikan Hukum (Bandung : Rosda Karya)

Yatim,  Moh. , 2000,  Penelitian Deskriptif, (Yogyakarta: UNY press)

 

BELAJAR BAHASA ARAB PRAKTIS DAN KITAB KUNING PRAKTIS

       Bagi pembaca yang berminat belajar Bahasa arab untuk bisa membaca dan memahami kitab suci Al Qur’an, kami dari Yayasan Al Amir yang bergerak dibidang pembelajaran Al Qur’anul Kariem – Insya Allah – bersedia membimbing Saudara/Bapak/Ibu yang berminat hingga betul-betul bisa membacanya dengan baik dan benar.

         Nama pembelajaran ini, bernama : AL FURQON. Program pembelajarannya meliputi : 1. Belajar kitab Kuning metode THORIQOH atau dikenal dengan sebutan Musyawarah Kitab Kuning Thoriqoh (MKKT) sebuah program pembelajaran membaca dan memahami kitab kuning (kitab klasik) tak berharkat karya ulama-ulama tempoe doeloe yang bersifat Sistematis Aplikatif dan Evisien (SAE). Insya Allah hanaya dengan 2-3 bulan (BAGI PEMULA) secara intensif, para peserta Diklat-nya akan bisa membaca dan memahami dengan baik. Sedang bagikader atau yang telah memiliki dasar pengetahuan bahasa arab (Nahwu dan Shorof) hanya 1-2 bulan saja biisa.  2. Pembelajaran Bahasa Arab Praktis dengan materi mengenal kosa-kata bahasa arab, bisa membaca tulisan arab dan memahaminya. Insya Allah dalam waktu 1 bulan akan banyak memiliki kosa kata bahasa arab. 3. Pembelajaran membaca dan memahami isi Al Qur’an dan Tafsirnya (bila perlu). Program ini hanya dilakukan selama satu bulan secara intensif bagi pemula atau peserta yang sama sekali tidak tahu membaca apalagi memahami Al Qur’an dan Tafsirnya.  4. Belajar Bahwu dan Shorof dasar. Hanya 15 hari dengan sistem Melihat, Mendengarkan dan Membaca serta Menulis. 6. Program pelatihan shalat yang benar sesuai dengan pedoman yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Hanya 3-4 hari saja, termasuk di dalamnya belajar berwudhu’ dll. 

               Kami dari Yayasan Al Amir yang terletak di Kabupaten Sumenep Madura, Jawa timur, Insya Allah bersedia di undang untuk membimbing para pembaca yang berminat ikut pelatihannya. Konsultasi lebih detil, silakan hubungi: Email kami : muhsinamir14@gmail.com atau 081999910077 dan klik pula alamirfoundations.wordpress.com. terima kasih

BIOGRAFI SINGKAT ALM. KH. MOH. AMIR BIN ILAYS BIN MOH. ASSYARQOWI AL QUDUSI

بسم الله الرحمن الرحيم

MUKADDIMAH

Alhamdulilla saya telah selesai menyusun buku kecil ini yang membahas biografi almarhum KH. Moh. Amir Ilyas, walaupun belum sempurna dan lengkap.

Tujuan penyusunan buku ini, saya ingin mempekenalkan bografi almarhum yang semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai hamba Allah SWT yang sangat istiqomah dalam beribadah, juga pegiat pendidikan dan sosial. Keistiqmahannya –menurut penulis- hingga saat ini belum ada yang menyamai, begitu pula kedisplinannya mengatur waktu dalam kehidupan sehari-hari. Maka sepantasnya, kalau saya mengurai kelebihan-kelebihan almarhum untuk diambil hikmahnya dan diharapkan mampu meneladaninya, walaupun tidak harus sama.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat kepada para pembacanya. Bila ada ditemui kesalahan, baik redaksi maupun substansinya, saya sangat mengharap kiranya berkenan memperbaikinya. Semoga Allah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua. Amin !

 

Penulis,

 

BIOGRAFI HADROTUS SYEKH

  1. MOH. AMIR ILYAS

Almarhum KH. Moh. Amir bin Moh. Ilyas bin Muhammad Assyarqowy bin Shodiq Romo dilahirkan pada tahun 1925 M. KH. Moh. Amir bin Moh. Ilyas bin Muhammad Assyarqowy bin Shodiq Romo dilahirkan di desa Guluk-Guluk Tengah, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten sumenep, tepatnya di Dusun Lubangsa atau di area Pondok Pesantren Annuqayah, Daerah Lubangsa dari seorang ibu bernamA: Nyai ‘Arfiyah Binti Zainuddin, asal Desa Kembang Kuning, Pamekasan.

Pendidikan almarhum berlangsung pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, sekitar tahun 1940-an. Pada saat itu jumlah lembaga pendidikan yang mendirikan sekolah-sekolah formal, seperti Muallimien, Diniyah,  dan lain-lain masih sangat terbatas. Oleh karena itu, pendidikan beliau tidak berbentuk klasikal atau lebih mudahnya kita sebut dengan “tidak formal”, tapi berbentuk tradisonal, seperti pengajian; wetonan dan sorogan yang dilaksanakan di Musholla atau Masjid yang dibangun di area lembaga pendidian tersebut. Pendidikan almarhum diawali dengan belajar membaca Al Qur’an dan praktek Tajwidnya kepada ayahnya sendiri, KH. Moh. Ilyas bin KH. Moh. Assyarqowi di rumah kediamannya, Lubangsa. Selanjutnya beliau belajar di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan KH. Moh. Hasyim Asy’ari.

Pendidikan beliau di Pesantren ini hanya berlangsung kurang lebih 4(empat) bulan lamanya – konon almarhum hanya sempat mengaji kepada KH. Hasyim Asy’ari beberapa lembar kitab Alfiyah dan Qawaid Fiqh – , karena seluruh santri disuruh pulang oleh KH. Hasyim Asya’ari ketika itu, sehubungan agresi belanda pada tahun 1950-an ke Propinsi Jawa Timur. Almarhum KH. Moh. Amir Ilyas tergabung dalam perjuangan Sabilillah yang di bawah komado KH. Hasyim Asy’ari sendiri. Pada saat itulah KH. Moh. Amir ilyas ikut berpartisipasi menentang agresi penjajah Belanda ke Propinsi Jawa Timur, bahkan –menurut salah satu riwayat- almarhum adalah salah satu pemuda yang ikut melawan agresi Belanda pada 10 Nopember 1966 di Surabaya.

Karena carut-marutnya negeri ini pada saat itu, pendidikan formal di negeri ini sangat terbatas jumlahnya dan almarhum sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Walaupun demikian, kedalaman dan kealiman pengetahuan agama beliau sangat tidak diragukan, karena beliau mengaji langsung (arab: wajhan biwajhin} kepada guru-guru dan kyai yang sangat alim dan tawadhu’. Di antaranya, KH. Hasyim Asy’ari, Ayahnya sendiri, Syekh Dardum Alpalimbany, Syekh Ism’il bin Utsman Azzaien Al Yamani Al Makky,  Sayid Moh. ‘Alawi Al Maliki, Syekh Yasin Alfadani, dan lain-lain, utamanya di bidang Tauhid dan Akhlak serta Tashowuf yang menjadi materi favorit almarhum hingga beliau wafat pada hari Jum’at, 19 Januari 1996 M hari Jum’at bersamaan dengan Adzan Maghrib di kediamannya dengan penyakit sesak nafas yang diderita menjelang kewafatannya. Almarhum hanya sakit selama 4 (empat) hari dan di hari ke limanya, almarhum merenggang nyawa dan pulang ke Hadirat Allah SWT selama-lamanya. Semoga amal-amal ibadahnya di terima dan dosa-dosanya diampuni. ROBBIGHFIRLI WALIWAALIDAYYA WAHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANI SGHIROO

Sambil belajar, almarhum juga mengajar kepada para santrinya setelah diserahi amanat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah sepeninggal ayahnya tahun 1959. Semasa hidupnya almarhum dikenal sangat istiqomah dalam beribadah dan disiplin dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan membimbing para santrinya. Selain akivis pendidikan, almarhum dipercaya sebagai Ketua Mustasyar NU  Cabang Sumenep dan Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan Sumenep Di bawah kepemimpinan almarhum Bapak H. Seruji Sumenep pada sekitar tahun 1970-an. Di samping almarhum dikenal Mukasyafah (waliyullah), beliau juga sebagai negarawan yang sangat disiplin. Hal itu dapat diketahui dari kedisiplinan beliau mengikuti HARLAH RI setiap tanggal 17 Agustus di Lapangan Kemisan, Guluk-Guluk dan mewajibkan semua santrinya mengikuti perayaan HARLAH RI tersebut setiap tahunnya, bahkan alamarhum sering menghadiri undangan hari-hari besar Nasional di Kabupaten Sumenep maupun luar Sumenep. Juga beliau salah satu perintis berdirinya Pramuka di Pesantren Annuqayah.

Peranan almarhum di Pondok Pesantren Annuqayah, di samping sebagai pengasuh para santri yang jumlahnya ketika itu tidak kurang dari 2000 orang; putra-putri yang datang dari berbagai daerah baik di Jawa Timur maupun luar Jawa, juga sebagai guru dan pendiri sekaligus Kepala Madrasah Tsanawiyah Putra tahun 1979 dan menjabat sebagai Kepala MTs Annuqayah Putra hingga penyakit kebutaan (katarak) yang dialaminya semakin parah sekitar tahun 1986. Dan pada tahun ini pula almarhum melaksanakan Haji ke tiga Kalinya bersama Istri, yaitu almarhumah Hj, Tsminah Binti Jauhari Binti Khotib Binti Moh. Idris asal Desa Prenduan Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep. KH. Moh. Jauhari Khotib adalah pendiri Pondok Pesantren Al Amin, Prenduan pada tahun 1952. Beliau mendirikan Pesantren ini dan mengembangkannya bersama dengan menantunya almarhum KH. Moh. Amir Ilyas. Karena kegigihan dan do’a almarhum berdua, Pesantren Al Amin tetap bertahan hingga sekarang.

Pada  Tahun 1981  Pesantren  Annuqayah mendapatkan penghargaan terttinggi di bidang Lingkungan Hidup berupa Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup, Bapak Prof. Dr. Ir Emil Salim yang diserahkan langsung kepada almarhum sebagai pengasuh Pondok pesantren Annuqayah saat itu.  Dan mulai saat itulah Annuqayah dikenal masyarakat Indonesia sebagai Pesantren besar yang juga ikut andil dalam berjuang mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Ideologinya Pancasila. Kemajuan Annuqayah  sekarang tidak lepas dari tangan kreatif dan keistiqomahan serta do’a almarhum KH. Moh. Amir Ilyas

Almarhum melangsungkan pernikahan dengan almarhumah Ny. Hj, Tsaminah binti Jauhari pada tahun 1950 dan telah memiliki 4 orang putra dan putri, yaitu almarhum KH. Ahmad Sa’di Amir (w. 2005) dalam umur muda, kl. 53 tahun, Ny. Hj. Muyassaroh Amir, Ny. Hj. Habibah Al Husna Amir dan  KH. Muhammad Muhsin Amir. Putra putri almarhum, semuanya tinggal bersama di rumah almarhum, di daerah Sumber Dadduwi, atau dikenal saat ini dengan Pon. Pes. Annuqayah daerah Al Amir, Guluk-Guluk Sumenep.

Ny. Hj. Tsaminah wanita Shalihah yang penyabar dan dermawan. Almarhumah istiqomah mengkhatamkan bacaan Al Qur’an satu kali dalam sepekan. Sesibuk apapun yang dihadapi, membaca Al Qur’an selalu diprioritaskan, sehingga tidak mustahil, ketika beliau wafat pada tahun 1994 dari liang lahatnya menyeruak bau harum minyak hajar aswad, sebagai pertanda bahwa almarhumah Ahlu Jannah, kerena ketekunannya membaca Al Qur’an semasa hidupnya. Beliau disemayamkan di pemakaman keluarga almarhum ayahnya; KH. Moh. Jauhari berlokasi di Pondok Pesantren Tegal Preduan, kl. 200 meter arah utara pertigaan Prenduan menuju ke Guluk-Guluk.

Lain halnya dengan lamarhum KH. Moh. Amir Ilyas, semasa hidupnya, almarhum sangat istiqomah shalat berjama’ah dengan beberapa santrinya yang diasuh secara langsung, karena mayoritas mereka adalah putra dan putri dari keluarga miskin sebanyak kurang lebih 10 orang. Beliau memang tidak menerima santri mondok di kediamannya. Setiap ada yang mau mondok, beliau selalu menyarankan agar mondok di Annuqayah, kl 600 meter ke arah selatan dari kediamannya di Sumber Dadduwi. Andaikan beliau menerima santri mondok, niscaya Pesantren Annuqayah Daerah Al amir terbesar dari daerah-daerah lainnya di Annuqayah, mengingat antusias masyarakat ketika itu sangat besar memondokkan anak-anaknya di Sumber Dadduwi atau –sekarang- disebut Al Amir. Bahkan di antara mereka ada yang akan membangunkan Masjid dan juga lembaga pendididkan serta asrama santri, apabila beliau berkenan membuka Pondok.

Pendidikan keagamaan anak-anak asuh itu, ditangani langsung oleh almarhum dalam bentuk pengajian wetonan di Musholla yang kini bernama Al Amir di bawah naungan Yayasan Al Amir yang didirikan oleh Drs. KH. Muhammad Muhsin Amir (putra ke 4 dari tiga bersaudara) pada tahun 1998 di tanah milik peribadi, tepatnya di Kampung Kalabaan Timur atau sering disebut dengan Sumber Dadduwi, karena di sikitarnya ada sebuah kolam bernama Sumber Dadduwi atau sumber buatan gadis jelita dari surga:  Bidadari (arab: Hur atau Hauro’), begitu cerita legenda masyarakat Guluk-Guluk.

  1. Moh. Amir Ilyas wafat dalam keadaan suci dari Hadats (Dawamul Wudlu’ menjadi kebiasaannya). Ia wafat ketika sedang mengambil air wudlu’ di kamar mandi. Peristiwa kewafatan beliau menggemparkan Kabupaten Sumenep ketika itu, karena almarhum adalah tokoh yang menjadi panutan masyarakat bawah, menengah dan atas bahkan para pejabat dari tingkat Gubernur hingga Kepala desa pernah bertemu / showan kepada almarhum atau sebaliknya almarhum yang diundang menemui mereka, baik dalam acara kenegaraan maupun kemasyarakatan, seperti Tahlilan / Yasinan, selamatan, Maulid, khitanan, Isro’ Mi’roj atau acara-acara kenegaraan dan lain-lain. Yang jelas kegiatan beliau sehari-hari, selain mengajar yang ditekuni setiap hari mulai jam 07.30 hingga 13.00 WIB, almarhum masih menyempatkan diri untuk memenuhi undangan masyarakat dan bersilaturrahmi kepada sanak  famili. Ketekunan dan keistiqomahan almarhum inilah yang menyebabkan masyarakat Guluk-Guluk, Khususnya dan Kabupaten Sumenep, umumnya merasa kehilangan dan duka yang mendalam atas kepergiannya, sehingga nampak pada hari wafatnya masyarakat dari berbagai daerah, baik dari Sumenep atau Luar Sumenep, bahkan luar Madura datang berduyun-duyun dalam jumlah ribuan untuk menyalati dan mengantarkan janazahnya ke makbaroh yang letaknya kurang lebih 500 meter saja dari tempat kediamannya atau kl. 300 meter dari area Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Late ke arah utara, tepatanya di sebelah barat laut TK. Annuqayah berdampingan dengan kuburan umum atau kuburan “Sang Petok”, alias Jamah, putra Pak Bad yang selalu meyelipkan petok (arit kecil  yang sangat lancip dan tajam) di balik bajunya. Ia mati di tangan seorang wanita asal Beragung yang dendam, karena salah satu familinya di bunuh Jamah dengan sadis.

Di tanah  yang  berliat atau  bahasa  Maduranya  Lempong inilah jasad beliau disemayamkan seorang diri; tanpa ada kuburan lain saat itu, pada tahun 1996. Tanah pekuburan ber-liat atau bertanah lempong (berwarna putih susu, lcin dan kental) ini adalah hak milik keluarga almarhum (bukan pemakaman umum)

Yang mencengangkan pandangan ketika itu, adalah peristiwa pengantaran janazahnya dari Masjid Jami’ Annuqayah ke pekuburan, di mana keranda (madura: Katel), “kendaraan” beliau menuju maqbaroh Lempong itu seakan-akan terbang melayang di atas kepala-kepala para pelayatnya, sementara para pelayat atau pengusung keranda itu diam tak bisa bergerak atau berjalan, karena sesak memenuhi jalan raya maupun kecil dari Masjid jami’ ke tempat pesarean terkhir alamrhum. Ya, almarhum seorang yang banyak jasanya kepada masyarakat, seorang mukhlisin dan seorang pejuang pendidikan yang sangat disiplin dan konsisten yang belum ada tandingannya hingga hari ini.

Makbaroh yang kini mulai banyak yang ikut antri menempatinya hanya dikhususkan keluarga almarhum KH. Moh. Amir Ilyas, kecuali famili dan handai tolan yang ingin dikuburkan di tanah ini, beliau mengizinkan “dengan harapan ada pemberitahuan sebelumnya kepada keluarga almarhum KH. Moh. Amir Ilyas”. Begitu pesan almarhum kepada penulis jauh-jauh sebelum wafatnya.

Tanah makbaroh yang kemudian diberi nama oleh keluarga besar almarhum KH. Moh. Amir Ilyas dengan nama:  “MAKBAROH LEMPONG ini dibeli oleh almarhum pada tahun 1995 atau satu tahun sebelum wafatnya kepada almarhum KH. Moh. Maffoudz Husaini, Pengasuh Pesantren Annuqayah Daerah Al Furqon, Sabajarin. (Denah Ibadussholihien,  penghuni  Maqbaroh  Lemponng  ini  dapat dibaca dibagian akhir buku ini).

Secara kasat mata, almarhum tidak memiliki karya tulis apapun bentuknya, kecuali nukilan-nukilan (Muqtathofat) Hadits-Hadits Nabi Muhammad SAW sebagai bahan berdakwah / berpidato dalam acara-acara sosial maupun pendidikan. Tetapi karya yang berbentuk moral atau lebih tepatnya jasa sosialnya yang bersifat nyata, sungguh besar dirasakan oleh masyarakat., baik jasa yang yang berbentuk keilmuan atau jasa materi sebagai amal jariyah almarfhum kepada masyarakat, khusunya masyarakat yang berekonomi lemahdan jasa bidang pendidikan dan politik sungguh sangat besar.

Dari sisi kelebihan almarhum dalam kehidupan pendidikan dan  sosial kemasyarakatan -menurut penulis– yang belum pernah dialami oleh orang lain hingga saat ini adalah:

  1. Keistiqomahan dalam profesinya sebagai pegiat bidang pendidikan dan sosial. Di bidang pendidikan, mulai tahun 1959-1997 almarhum dipercaya masyarakat (bukan Pengurus Yayasan) sebagai Pengasuh Pesantren Annuqayah sekaligus Kepala Madrasah Muallimien Annuqayah, menggantikan peran ayahnya, KH. Moh Ilyas bin Muhammad Assyarqowi (w. 1959). Dan pada Tahun 1997-1986 setelah status Madrasah Mualimien berganti dengan MTs dan Aliyah, alamrhum dipercaya lagi sebagai Kepala MTs dan peletak batu pertama berdirinya Perguruan Tinggi di Annuqayah pada tahun 1984 dengan nama STISA dan STITA. Di samping itu  almarhum yang pertama kali menyusun silabi pendidikan materi lokal (mulok) di Annuqayah yang disesuaikan dengan Kurikulum kemendiknas dan Kebudayaan RI pada tahun 1979.

Almarhum tidak hanya dikenal sebagai tenaga pendidik saja, tapi juga pembimbing, di mana setiap malam hari pengawasan kepada para santri tidak sepenuhnya diserahkan kepada dewan pengurus santri saja, tetapi almarhum sendiri senantiasa mengontrol para santri di masing-masing asramanya, utamanya aktivitas belajar mereka di kala jam-jam pelajaran tiba. Lebih-lebih ketika mendekati waktu pelaksanaan ujian semester. Pengawasan almarhum terhadap para santri tersebut yang sampai saat ini belum tertirukan bahkan dari pihak pengurus Pesantren sendiri belum teragendakan. Padahal kebiasaan seperti ini sangat penting untuk diadakan kembali sebagai follow up dari tradisi baik yang dilakukan almarhum.

Almarhum tidak hanya istiqomah dibidang pendidikan saja, tapi kontinyuitas ibadahnya yang berlangsung dengan tensitas yang sangat tinggi. Salah satunya keistiqomahan berjama’ah, dawamul wudlu’, mengajar Al Qur’an, shalat malam dan lain-lain. Baerjama’ah shalat lima waktu merupakan suatu keawajiban bagi dirinya. Sepengetahuan penulis, beliau sangat jarang shalat sendirian. Ia selalu berjama’ah walaupun hanya berdua dengan ma’mumnya, karena beliau punya prinsip, selagi masih kuat shalat berjama’ah, ia akan senantiasa berjama’ah. Kekokohan jiwa seperti inilah yang sulit ditiru oleh para santrinya akhir-akhir ini.

Begitu pula keistiqomahan almarhum dalam melakukan Qiyamul Lail (Shalat Tahajud dan witir) serta puasa hari Senin dan Kamis. Dalam shlat malam, almarhum biasa melakukan setiap malam dimulai jam 2 sampai adzan subuh dikumandangkan, tentunya tidak sepenuhnya shalat saja, tapi amalan-amalan do’a dan dzikir yang terus dibaca setelah melakukan shalat Tahajjud dan witir. Penulis pernah bertanya kepada ibu terkait aktivitas ibadah almarhum di malam hari. Ibu menjawab bahwa “almarhum bangun jam 11 malam setelah tidur kl. 2 jam lamanya dan sebelum shalat Tahajud jam 2.30 itu, almarhum hanya membaca lafadz Jalalah (ALLAH) saja hingga jam 2.30 setelah itu, almarhum keluar kamar menuju kamar mandi untuk Tajdidul Wudlu’ atau memperbaharui wudlu’ , kemudian melakukan shalat Tahajud dan Witir dan setelah itu, membaca dzikir dan do’a-do’a lainnya hingga adzan subuh”. Begitulah cerita ibu pada penulis. Dalam hal ini ibu banyak tahu aktivitas ibadah almarhum pada malam hari, karena ibu istiqomah juga bangun malam untuk shalat Tahajud dan Witir serta membaca Al Qur’an yang di khatamkan setiap pekan sekali pada jam 2.30 WIB.

Kebiasaan almarhum, setelah adzan subuh, usai melakukan shalat sunnah 4 rakaat, beliau keluar rumah membangunkan para santri yang ditampung di 3 kamar / asrama berukuran 3×2 meter disebelah selatan Musholla Al Amir. Almarhum datang dengan membawa sintolop atau sinter sambil berdzikir, almarhum membangunkan santrinya satu persatu dengan penuh ikhlas dan sabar. Sungguh perbuatan ini sangat terpuji dan sulit sekali bagi kami menirukan kebiasaan almarhum itu.

  1. Keistiqomahan sosial dapat dilihat dari jiwa beliau yang sangat amanah dan santun namun tegas kepada siapapun saja. Almarhum tidak pernah menolak tamu yang datang dari kelompok sosial manapun dan jabatan apapun. Di mata almarhum, mereka adalah sama-sama terhormat sebagai ciptaan Allah SWT. Karena itulah, almarhum selalu membuka pintu kapanpun bagi siapapun yang mau menemuinya (madura, acabis). Almarhum dianggap sebagai pembimbing ruhani masyarakat, sehingga tidak segan-segan mereka datang menyampaikan keluhan dan berbagai problema yang dihadapi kepadanya. Dan mereka merasa tersirami air yang dingin di dadanya, ketika almarhum memberikan nasihat dan petunjuk-petunjuknya. Bahkan apa yang dinasihati, baik yang berbentuk kalimat perintah atau menyangkal atau berbentuk saran dan harapan, selalu terbukti dalam tingkat realitasnya, sehingga mareka menganggap apa yang disampaikan almarhum adalah petunjuk yang pasti akan dirasakan dan dialami oleh yang memohon petunjuknya. Karena itulah, mereka tak segan untuk kembali dan kembali lagi menemuinya, walaupun hanya sekedar bersilaturrahim sejenak, melepaskan perasaan sedih yang sebelumnya menerpa dalam dada, karena mereka bertemu almarhum, perasaan itu akan hilang berganti gembira dan bahagia seakan dihembus angin menyapu bersih rasa sedih dan kalud dalam dadanya. Itulah sebabnya, masyarakat menyebutnya almarhum sebagai mukasyafah, yaitu seseorang yang dianugerahi Allah SWT pengetahuan terhadap sesuatu yang bakal terjadi dan setiap apa yang disampaikan selalu cocok dengan realitas atas kehendak Allah SWT. Hal ini penulis mendengar langsung dari orang-orang yang sering bersilaturrahmi bersama beliau. Mendengar cerita itu, penulis teringat kepada perkataan seorang ulama yang mengatakan: “Orang yang ikhlas setiap berkata dan bergerak selalu dibimbing oleh hatinya, bukan oleh akalnya. Oleh sebab itu, perkataan dan tingkahnya selalu jujur dan amanah”. Itulah barangkali yang menyebabkan almarhum dikenal oleh masyarakat sebagai ahlul Mukasyafah atau Waliyullah. Kelebihan almarhum yang lain yang diceritakan oleh guru penulis: KH. Abdul Kariem Ghofur saat penulis menuntut ilmu di Annuqayah, bahwa “ketika almarhum menghadiri undangan walimatul ‘ursy di desa Karangsokon dan pada saat itu kondisi cuaca akan turun hujan, mengingat awan yang sangat tebal. Di mana almarhum setelah sampai di tempat walimatunnikah akan berlangsung, almarhum tidak mau duduk di emper rumah yang disediakan oleh tuan rumah, tapi duduk berkumpul dengan undangan lain di bawah tenda yang diapansang memanjanag di halaman rumah. Tak lama kemudian, hujan turun sangat lebat mengguyur rumah-rumah yang ada disekitar lokasi acara walimah. Anehnya, tak setetes air hujan itu turun di tempat acara resepasi walimatunnikah, dan masyarakat ketika itu berkeyakinan, karena almarhum KH. Moh Ilyas duduk di bawah tenda tersebut, sehingga air hujan enggan membasahi tempat walimah itu. Hal ini diperkuat dengan kejadian aneh lagi yang terjadi setelah usai walimah itu digelar”, Kata Ustadz Abdul Karim Ghofur, dimana “hujan mulai reda secara perlahan, hingga almarhum kembali pulang. Namun ditengah perjalanan di sebuah desa bernama Nangger, hujan nampak turun lagi dari arah barat, membuntuti saya yang sedang membonceng almarhum di atas sepeda motor, mengantarkan pulang ke Guluk-Guluk. Hujan itu terus membuntuti saya berdua hingga akhirnya sampai di Guluk-Guluk. Namun setibanya di Guluk-Guluk, ketika almarhum masuk ke kediamannya, saya berhasrat kembali ke tempat walimah di Karangsokon. Namun saat saya berangkat kl. 100 meter dari kediaman almarhum hujan yang tadi membuntuti saya, ternyata turun dengan lebat sekali dan baju serta sarung saya basah kuyup. Demikian jalan cerita fakta yang disampaikan KH. Abdul Karim dengan bahasa Madura di rumah saya beberapa bulan yang lalu. KH. Abd. Karim Beliau adalah santri yang dibimbing langsung oleh almarhum hingga akhirnya diangkat menjadi TU (Tata Usaha) di Kantor Madrasah Muallimien. Sampai saat ini ia masih tetap mengabdikan diri menjadi tenaga pendidik di Annuqayah. Cerita ini 99 % dapat dipercaya mengingat adanya bukti pendukung lainnya banyak diriwayatkan oleh para alumni Annuqayah, tentang enggannya air hujan menyentuh pakaian almarhum KH. Moh. Amir Ilyas. Hal ini disaksikan oleh beberapa santri ketika almarhum berjalan di bawah hujan yang deras dari Masjid Jami’ Annuqayah menuju Kantor MTs, sejauh kl. 80 meter tanpa pelindung dari air hujan, namun tak setetes air hujan mengenai pakaiannya. Hal ini terjadi sekitar tahun 1978-1979. Masih banyak cerita-cerita unik dan aneh yang dialami almarhum.

Ketika penulis mendengar cerita itu, terdetik dalam hati penulis bahwa hal itu terjadi, karena almarhum sangat istiqomah berdzikir kalimat Jalalah dikesunyian malam di kamarnya yang sederhana itu.

Nasihat yang sering disampaikan almarhum kepada putra-purinya dan para santrinya adalah nasihat Tauhidiyah (ketauhidan). Di antaranya,, almarhum pernah memberi nasihat kepada penulis, tentang pentingnya shalat dhuha setiap pagi dan selalu belajar Tauhid dan Akhlak. Kata alamarhum: “Tauhid dan akhlak adalah asas/dasar dari semua ilmu dan petunjuk dalam berbuat kebajikan serta pedoman bagi kita dalam hidup ini”. Hal ini selalu disampaikan almarhum dalam setiap kesempatan dengan bahasa Madura. Dan beliau selalu menganjurka belajar ilmu agama melalui sumbernya, seperti Al Qur’an dan Al Hadits. Di samping itu, beliau juga berpesan agar tekun belajar bahasa Arab dan bahasa Inggris dengan dengan cara mempelajari tata bahasa arab (Nahwu Shorrof).Bahkan di akhir hayatnya, almarhum masih sempat berwasiat kepada penulis, khususnya agar mempelajari kitab-kitab karya ayahnya, KH. Moh. Ilyas yang membahas seputar ‘Aqidah dan Fiqh serta Akhlak, bahkan kalau perlu di syarahi atau diterjemahkan. Demikian pesannya kepada penulis. Alhamdulillah dua karya KH. Moh. Ilyas itu telah selesai penulis syarahi dengan sempurna dan telah di tashih oleh pamanda KH. Abdul Warits Ilyas dan KH. Habiubullah Rais, pengasuh Pondok Pesantren Salaf: Al Is’af yang berdiri di dusun Kalabaan, Guluk-Guluk Sumenep. Bahkan kita Tauhid yang penulis syarahi dibaca dalam bentuk pengajian wetonan kepada Pengurus Lubangsa sekitar tahun 2007-2008 silam.

Semoga Almarhum dan seluruh keluarga dan putra -putrinya serta para sahabatnya dan guru-guru almarhum dilimpahkan Rahmat dan Hidayah dari Allah SWT serta kami mampu melanjutkan perjuangannya dengan ikhlas dan istiqomah dan akhirnya penulis berkumpul dengan almarhum di surga-Nya. Amin ya Robbal ‘Alamin !

 Pnutup

                Demikian sekilas biografi Almarhum KH. Moh. Amir bin Ilyas bin Muhammad Assyarqowi Al Qudusi. Semoga bermanfaat dan bisa dijadikan buku bacaan yang menyenangkan serta dapat diambil hikmahnya untuk diteladani sesuai dengan kemampun.

Berikut penulis lampirkan Denah Maqbaroh Almarhum KH. Moh. Amir Ilyas dan lain-lain. Semoga bermanfaat. Amin.

 

Penulis:

                       Drs. KH. Muhammad Muhsinh bin Amir bin Ilyas bin Assyarqowi bin Shodiq Romo

Pengasuh Pon. Pes. Annuqayah Daerah Al Amir, Guluk-Guluk Sumenep Madura

                                

 

 Wallahu A’lam Bisshowab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanya Jawab Seputar I’rab Fi’il Mudhari’

Kami punya Blok di: alamirfoundations.wordpress.com dalam website ini, kami suguhkan artikel tentang pedoman belajar kitab kuning dengan teknik belajar membaca, memahami kitab kuning dengan nama THORIQOH. Mudah-mudahan Ustadz juga membacanya sekaligus mengoreksinya. Syukron !

Terjemah Mulakhos

الحالات الإعرابية التي تدخل الفعل المضارع
الرفع والنصب
الرفع والنصب والجزم
الرفع والنصب والجر
الرفع والنصب والجر والجزم

كي التي تنصب المضارع هي كي
المصدرية
التعليلة
الزائدة
المفسرة

(الفعل المضارع المنصوب في الاية ( والذي أطمع أن يغفرلي خطئتي يوم الدين
أطمع
يغفر

أن في الآية ( وحسبوا ألا تكون فتنة ) هي
أن الناصبة للمضارع
أن المخففة من الثقيلة
يجوز الأمران
يمتنع الأمران

إذن هو حرف
جواب
جزاء
ليس جوابا ولا جزاء
جواب وجزاء

 الواو التي ينصب بعدها الفعل بأن مضمرة وجوبا هي واو
عطف
قسم
حال
معية

(إعراب الفعل تشرب في قولك (لا تاكل السمك وتشرب اللبن
مرفوع
منصوب
مجزوم
كل ما سبق

الفعل يكون في الآية (لئلا يكون للناس عليكم حجة) منصوب ب أن
مضمرة وجوبا
ظاهرة وليست مضمرة

من الادوات التي تجزم المضارع
لا النافية
لا الناهية
جمله منفية

الفعل يغفر في الآية (وإن تعدو ما في أنفسكم أو تخفوه يحاسبكم به الله فيغفر) حكمه
رفع
نصب
جزم
كل ماسبق

Lihat pos aslinya